Hidayatullah.comHidayatullah.comHidayatullah.com
Pemberitahuan Lebih Banyak
Font ResizerAa
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Font ResizerAa
Hidayatullah.comHidayatullah.com
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Pencarian
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Ragam

Apa Rasanya Jadi Muslim Uighur?

Admin Hidcom
Terakhir diupdate: 26 Juni 2015 09:44 9:44 am
Admin Hidcom
Dipublikasikan 26 Juni 2015 09:44
Bagikan
Muslim Uighur harus melewati masalah hanya demi memakai jilbab dan menumbuhkan jenggot. Pemerintah China juga melarang umat Islam berpuasa
Bagikan

BEBERAPA saat yang lalu, kita dihebohkan dengan berita larangan Pemerintah China, tepatnya Provinsi Xinjiang, terhadap penganut Islam di daerahnya untuk tidak berpuasa Ramadhan serta untuk tetap membuka restoran selama jam puasa.

Namun sebenarnya, ini bukan satu-satunya problem di yang harus dihadapi oleh Muslim Uighur. Apa saja yang harus dilewati seorang Muslim Uighur?

Warga Kelas Dua

Pada hakekatnya, Muslim Uighur adalah orang asing di negaranya sendiri. Mereka adalah etnis keturunan Turki, serta menggunakan bahasa Turki sebagai bahasa sehari-hari.

Papan-papan di Xinjiang menggunakan dua aksara, Arab dan Mandarin. Ini karena posisi gegorafis Xinjiang yang dekat dengan Pakistan dan Kyrgystan. Menurut Pendiri dan Perdana Menteri East Turkestan Government in Exile, Anwar Yusuf Turani, penduduknya berjumlah sekitar 35 juta orang.

Baca Juga

Abu Ubaidah Peringatan Setahun Perang Gaza
Siapa Abu Ubaidah, Sosok Misterius yang Jadi Simbol Perlawanan Palestina?
Toko Buku Tertua di London Berjuang Melawan Waktu
Mengapa Umat Muslim Tidak Boleh Memiliki Bom Atom?
Di Balik Janji Kemakmuran dan “Bisnis Ayat-Ayat Suci”
Tinta Penyesalan: Ketika Tato jadi Beban Seumur Hidup

Angka yang tidak diakui dalam sensus penduduk resmi Pemerintah China. Penduduk setempat juga tidak terlalu suka dengan nama provinsinya, Xinjiang (yang artinya wilayah baru), dan lebih memilih nama Sharqi Turkistan, meski menggunakan nama itu sama saja dengan minta dijebloskan ke penjara secara instan.

Seorang supir taksi di Kashgar, kota paling barat di China yang berbatasan dengan Kyrgyztan dan kota bersejarah yang menjadi pintu masuk ke China sepanjang Jalan Sutra yang termahsyur itu, menyatakan bahwa ini semua ulah Mao Zedong yang membawa semua orang Han China itu ke Xinjiang, menunjukkan bahwa banyak orang menudingnya sebagai biang kerok penderitaan Muslim Uighur kini.

Pada awalnya, China tidak mencaplok Tibet dan wilayah yang kini menjadi Xinjiang. East Turkestan sempat menyatakan kemerdekaannya pada 1949, namun umurnya pendek sekali. Hanya setahun kemudian, Xinjiang masuk wilayah resmi Komunis China.

Pada tahun 2001, sebuah artikel yang ditulis oleh Ron Gluckman dkk. Menceritakan betapa susahnya hidup sebagai Uighur. Seorang lelaki Uighur yang berhasil menjadi pengusaha sukses di Dubai harus menggelandang di Beijing karena ditolak oleh hotel tempatnya akan menginap. Meski paspor-nya menunjukkan bahwa dirinya warga sah Tiongkok, nama dan wajahnya jelas menunjukkan ati dirnya sebagai Uighur.

Kebebasan Beribadah adalah Mimpi Indah

Larangan berpuasa di bulan Ramadan kali ini bukan saja terjadi sekali. Tahun lalu, larangan serupa juga diberlakukan. Namun tentu Muslim Uighur lebih takut pada Tuhannya daripada pemerintah China, dan mereka tetap berpuasa Ramadan seperti biasa. Hal tersebut bisa dilihat di Kashgar. Toko-toko tutup pada siang hari, dan malamnya para pria masih sholat Isya dan Tarawih, meski semua itu dilarang oleh Pemerintah. Ini disebabkan karena Pemerintah China secara resmi menekan kegiatan keagamaan apapun.

Masa kecil Turani, pria yang disebutkan di seksi sebelumnya, juga menggambarkan betapa beratnya cobaan yang harus dilalui Muslim Uighur hanya untuk beribadah. Desa tempat Turani dulu tinggal digunakan Pemerintah setempat untuk mengembangbiakkan ratusan babi, meski penduduknya sebagian besar Muslim. Pemerintah menghasut sepasang suami-istri tua dan amat miskin dengan rumah dan uang saku untuk membesarkan ratusan babi, dan begitulah awalnya Turani kecil harus bertetangga dengan babi-babi tersebut.

Babi bukan hanya satu-satunya problem Turani kecil. Saat masih SMP, Turani menyaksikan sendiri bagaimana para tentara membongkar Pemakaman Muslim historis di daerahnya dan mendirikan pangkalan militer di atasnya. Serta melihat masjid-masjib berubah menjadi gedung teater dan bioskop. “Ayah saya harus mengubur Al-Qur’an di halaman belakang rumah kami, dan baru digali setelah Mao Zedong meninggal,” ujar Turani.

Baru-baru ini, lima orang pria muslim Uighr ditangkap dan dijebloskan ke penjara atas tuduhan sebagai ‘ekstrimis agama’, hanya karena mereka semua berjenggot (AFP)

Muslim Uighur juga harus melewati serangkaian masalah hanya demi memakai jilbab dan yang lebih simple seperti menumbuhkan jenggot. Baru-baru ini, lima orang pria muslim Uighr ditangkap dan dijebloskan ke penjara atas tuduhan sebagai ‘ekstrimis agama’, hanya karena mereka semua berjenggot bentuk bulan sabit dan menghadiri pengajian tidak resmi. Dakwaan resmi mereka sekonyol sebutan bagi jenggot mereka: ‘aktivitas beragama ilegal’.

Ini bukan pertama kalinya seseorang ditahan gara-gara jenggot. Pada Maret lalu, seorang pria, juga di Kashgar, dijatuhi hukuman penjara selama 6 tahun dan istrinya yang menggunakan jilbab serta bercadar juga ditahan. Dakwaan resmi namun absurd mereka? Memprovokasi keributan.

Terpencil dan Tidak Dimengerti

Penulis belum pernah berpergian ke Kashgar, namun kakak-beradik Jeff & Peter Hutchens yang memegang paspor Amerika tapi tumbuh besar di China, membuat serangkaian film documenter berjudul ‘Lost in China’, dimana mereka berkeliling China untuk melihat bagaimana penduduk lokal hidup. Acara mereka ditayangkan di National Geographic pertama kali pada 2009, dan kalau beruntung, masih re-run di televisi berbayar yang sama. Perhentian pertama mereka adalah Kashgar, sebuah kota oase yang menjadi rute pasti jika para pedagang China ingin pergi ke barat ataupun sebaliknya, menjadikannya titik penting dalam Jalur Sutra.

Mereka sendiri mengakui bahwa Xinjiang adalah wilayah terpencil di China, meski Kashgar tumbuh menjadi salah satu kota terbesar di provinsi tersebut. Dahulu, untuk mencapai Kashgar sangatlah sulit. Tidak ada penerbangan langsung dari Beijing, sehingga banyak orang harus lewat detour, terbang ke Kyrgystan, dan ambil jalan darat lewat gunung yang berliuk-liuk menuju ke Kashgar. Saat keduanya kecil, mereka sangat ingin kemari, namun karena jauhnya (Kashgar lebih dekat ke New Delhi daripada Beijing), mereka tidak punya gambaran sama sekali mengenai tempat ini.

Telah disebutkan bahwa para Uighur tidak berbahasa China. Mereka menggunakan Bahasa Turki untuk percakapan sehari-hari, dan sedikit yang bisa berbahasa Inggris, seperti yang ditemui Hutchens bersaudara, yang akhirnya menjadi guide mereka. Pria Uighur tampak kasar tidak hanya karena bahasa mereka asing di tanah Tiongkok, namun juga karena mereka membawa pisau kemana-mana serta mahir menggunakannya.

Menurut Ali, guide Hutchens bersaudara, ini adalah bagian dari kebudayaan mereka. Pisau bagi pria Uighur adalah simbol kejantanan.*/Tika Af’idah, dari berbagai sumber

 

Redaktur: Admin Hidcom
Bantu kami terus menyuarakan kebenaran!

Scan QRIS dan dukung #Journalism4Ummah

donasi online
TAG:chinajenggotjilbabMuslimPuasaRamadhanuighurxinjiang
Bagikan tulisan ini
Facebook Whatsapp Whatsapp Telegram Email Salin tautan Print
Tulisan sebelumnya Pengungsi Rohingya Dipindahkan dari Pelabuhan Kuala Langsa
Tulisan selanjutnya KPK Bantah Tidak Ada Penistaan Agama di Rutan Guntur

Ikuti Kami

1.2KLike
89KFollow
27.8KFollow
222KSubscribe
Ad image
Ad image

Terpopuler

genosida bosnia
Berita

Ratko Mladic Si Penjagal Bosnia Meninggal di Usia 84 Tahun

Berita
28 Agustus 2026 02:27
Board of Peace Sebut Hamas dan Kelompok Perlawanan Palestina Lain Setuju Serahkan Senjata
Sering Rugikan Pabrik Senjata ‘Israel’, Palestine Action Ditetapkan AS sebagai “Kelompok Teroris”
10 Ribu Porsi Bakso untuk Ukhuwah di Muktamar NU
Ahwa Mufakat Pilih Gus Kikin, Cicit Pendiri NU dari Tebuireng Jadi Ketum PBNU

Terbaru

  • AS Hantam 100 Target di Iran, Dua Tanker Minyak Ikut Diserang
  • Jelang Wajib Halal Oktober 2026, LPPOM Dorong Konsumen Ikut Mengawal Kehalalan Produk
  • Tinggal Sebulan Lebih, MUI Tegaskan Tak Ada Lagi Alasan Tunda Wajib Halal
  • Wajib Halal Oktober 2026 Menghitung Hari, BPJPH Ungkap Kesiapan Ekosistem Sertifikasi
  • Menembus Gelap, Mengantar Cahaya Al-Qur’an ke Pelosok Pandeglang
  • Aktivis Pro-Demokrawi Hong Kong Joshua Wong Mengaku Berkolusi dengan Pihak Asing
  • Studi: Kokain Lampaui Minyak, Jadi Sektor Ekspor Terbesar Kolombia
  • Trump Mengklaim ‘Israel’ Tak Akan Bertahan Tanpa Dirinya
  • Erdogan: Militer Turki Sedang Berada pada Periode Terkuat dalam Sejarahnya
  • Komandan ‘Israel’ Tak Menyesal Perintahkan Serangan yang Tewaskan 7 Relawan WCK

Mungkin Anda Juga Suka

buzzer muhammadiyah
Ragam

Industri Buzzer Sudah jadi Lahan Bisnis Politik di Indonesia

28 Agustus 2025 10:23
Ragam

Logika Muhammad Ali: “Mengapa Tarzan Berkulit Putih?”

23 Agustus 2025 17:22
Enam Hal yang Bisa Dilakukan untuk Baitul Maqdis Masjidil Aqsha
Ragam

Enam Hal yang Bisa Dilakukan untuk Baitul Maqdis

17 Agustus 2025 18:29
Ragam

“Cracka”: Remaja Peretas CIA dan Bela Palestina

11 Agustus 2025 16:30
Hidayatullah.comHidayatullah.com
Follow US
Copyright 2023 © Hidayatullah.COM
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Informasi Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Indeks
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lupa password?