CUKUP berat menjadi mahasiswa Muslim di sebagian universitas di Amerika Serikat, terutama bagi mahasiswi. Mereka sering menghadapi intimidasi, serangan verbal, dan bahkan fisik.
Tetapi bagi mahasiswi Muslim di University of Central Florida, mengatasi ketakutan atas serangan dan sikap Islamophobia itu dengan pemahaman dan pendidikan.
“Kunci memerangi kasus kebencian dengan kedamaian,” kata Amirah Mathin, mahasiswi ilmu-ilmu biomedis, kepada Central Florida Future, belum lama ini.
“Hal terbaik yang bisa kita lakukan, adalah menunjukkan kepada mereka, bagaimana kita tidak berbuat seperti mereka.”
Mathin mengalami kasus diskriminasi saat membantu seorang laki-laki yang terlibat dalam tabrakan kendaraan ketika bertugas sebagai seorang tenaga medis darurat (EMT).
Saat berupaya keras dan cepat untuk memindahkan pria itu dari kendaraan, sang pria berteriak pada dirinya untuk tidak menyentuh dirinya. Ia pun mengumpat berbau rasial berkenaan dirinya yang menggunakan jilbab.
Tetapi yang menarik saat ia masih menjadi pelajar di SMA bereputasi milik Katolik. Ia yang telah mengambil keputusan mengenakan jilbab tiga tahun lalu itu, tidak mendapatkan tentangan atau pandangan negatif.
Katelyn Picard, yang baru lulus dari UCF, juga menghadapi pelecehan yang mendekati ke arah fisik saat dia dan empat wanita lainnya yang memakai jilbab berjalan di kampus.
Wanita yang masuk Islam tiga tahun lalu ini ketika itu baru saja meninggalkan gym bersama teman-temannya, pada saat ada satu mobil van berisi banyak laki-laki mengikuti mereka dari tempat parkir sampai ke tempat lainnya. Para pria itu melemparkan penghinaan pada mereka. Picard bersama teman-temannya lantas menjauh dari mereka dan segera menuju ke mobil meninggalkan lokasi.
“Yang mengherankanku kejadiannya di kampus UCF,” kata Picard.
“Saya harap kejadian ini, di mana aku tinggal [di Kissimmee], tidak ada di sini.”
Picard pernah mendapat pandangan tajam, diolok-olok, dan bahkan diserang dalam satu debat politik ketika ia mencoba memperbaiki penggunaan kata “jihad” dari seorang pemateri.
“Dia bersikap kasar kepada saya sehingga asistennya datang ke saya untuk mencoba menghibur saya,” katanya.
“Setiap orang memandang saya. Rasanya begitu merendahkan, dan ketika pulang menuju mobil, aku menangis. ” (Bersambung)*