Sambungan artikel PERTAMA
Barat ikut Sibuk
Sayangnya, semua angka-angka ini tidak ikut memasukkan ‘State Terorism’ (Terorisme yang dilakukan Negara). Seperti invasi Amerika Serikat (AS) dan sekutunya terhadap Negara Afghanistan tahun 2001 dalam Operation Enduring Freedom yang diklaim mencapai lebih dari dari 50.000 orang (15.000-20.000 milisi Taliban dan 25.000-30.000 warga sipil)
Termasuk invasi Amerika Serikat dan sekutunya di Iraq. Data Iraq Body Count (IBC) jugkorban invasi Amerika Serikat (AS) dan sekutunya pada serangan ke Iraq tahun 2003 mengorbankan sekitar 13,500–45,000 warga sipil.
Ini belum termasuk jutaan korban teror penjajah Israel di Palestina semenjak dimulainya pendudukan tahun 1948. Juga penjajahan negara-negara Eropa di negeri Muslim seperti dilakukan Prancis dan Inggris di kawasan Timur Tengah.
Menariknya, meski yang banyak menjadi korban terorisme itu umat Islam, yang merasa paling sibuk membasmi terorisme justru Negara-negara Barat dan Eropa.
Atas nama ‘Perang Melawan Teror’, tahun 2001, Presiden AS George W. Bush pertama kali meluncurkan proram Global War on Terrorism/GWOT, sebuah kampanye perang melawan terorisme.
Namun faktanya, justru AS dan negera-negara besar inilah yang dinilai menjadi biang kerok instabiltas sosial-politik-ekonomi dan kemanan di berbagai belahan dunia Islam.
Karena itu, Michel Chossudovsky, Profesor Ekonomi (Emeritus) pada Universitas Ottawa, Direktur dari the Centre for Research on Globalization (CRG), Montreal dan penulis bukunya The Globalization of Poverty and The New World Order (2003) dan America’s War on Terrorism (2005) pernah menulis di www.globalresearch.ca bahwa sesungguhnya ancaman nyata terhadap keamanan global justru berasal dari aliansi Amerika Serikat-NATO-Israel.
Profesor linguistik di Massachuset
Insitute Technology (MIT), Dr. William Chomsky dalam bukunya Pirates and Emperor: International Terrorism in the Real World, yang telah diterjemahkan oleh Mizan dengan judul Maling Teriak Maling; Amerika Sang Teroris?
Menurut Chomsky, Amerika telah menjadi penguasa tukang kontrol kehidupan masyarakat dunia. Bahkan, lebih dari itu, dengan standar ganda yang digunakan dalam berbagai kasus, Amerika telah menjadi’kekuatan teroris utama’, ujar Chomsky.*