Hidayatullah.com– Cuma di Indonesia macetnya parah separah-parahnya sampai-sampai disoroti media asing. Ini kata netizen, meramaikan ungkapan “cuma di Indonesia” yang sempat jadi trending topic Indonesia (TTI).
Di jagat twitter, dipantau hidayatullah.com, Selasa, 21 Syawal 1437 (26/07/2016) sekitar pukul 06.00 WIB, TTI “cuma di Indonesia” menjadi perhatian tersendiri bagi netizen.
Sejumlah kicauan menyoroti peristiwa kemacetan di kemacetan parah di Brebes, Jawa Tengah, pada arus mudik lebaran Idul Fitri 1437 H lalu. Kemacetan yang diwartakan mencapai 40 kilometer itu menelan puluhan korban jiwa.
“Sepertinya cuma di Indonesia kemacetan bisa jadi ladang pembantaian #NegaraAdaDimana,” tulis @Hendarmin_een (08/07/2016).
Setidaknya 12 orang tewas akibat kemacetan panjang sekitar 3-5 Juli kemarin. Penyebab utama kemacetan ini adalah tersendatnya lalu lintas di pintu tol Brebes Timur, sering dijuluki Brexit (Brebes Exit).
Istilah Brexit atau Britain Exit sebelumnya digunakan dalam referendum Uni Eropa di Inggris, yang hasilnya negara itu keluar dari organisasi Eropa tersebut.
Dalam kemacetan Brexit, bahan bakar minyak eceran jenis premium dihargai sekitar Rp 25 ribu-50 ribu per liternya. Meme tentang ini merebak di dunia sosial.
“Memang mengejutkan. Cuma di #Indonesia yang seperti ini. Selalu cari kesempatan di atas kesulitan orang lain,” sindir Indra Achmadi melalui akunnya @IndraAchmadi.
Sementara menurut @A_mahfud, “Sepertinya cuma di Indonesia macet kayak gini, evaluasi ya!” Netizen lain berpendapat kemacetan lebih parah pernah terjadi di negara lain.
Selain tentang kemacetan Brexit, TTI “cuma di Indonesia” juga ramai membicarakan seputar fenomena lain di Nusantara. Kebanyakan hal-hal yang terlihat unik, menarik, langka, dan konyol, tapi memang sungguh terjadi.
Misalnya, masih seputar lalu lintas, @syams_sajdah (26/07/2016) menulis, “Cuma di Indonesia lampu kuning artinya cepet-cepet. Sebab mau merah,” tampaknya merujuk pada kebiasaan kebanyakan pengendara di Jakarta yang gemar menerobos lampu lalu lintas.
Sementara @zuldadwi berkicau, “Cuma di Indonesia bayar fotocopy cuma Rp 500 tapi bayar parkirnya Rp 2.000.”
Lain lagi kata @sabda_15 ini: “Cuma di Indonesia belanja bayar pake duit, kembaliannya pake permen.” Fenomena ini, lumrah diketahui, biasa terjadi di berbagai warung, minimarket, bahkan supermarket.
“Cuma di Indonesia lo bakal ketemu org yg jual uang terus harganya dinaikin mis pecahan 2000 sebanyak 10 lembr di jual 12rb puffttt,” kicau @Im_Nonny.
Sejumlah netizen juga menyoroti persoalan kabar maraknya imigran asing yang membanjiri Indonesia.
“Negara-negara di Eropa sangat kuatir dengan banyaknya imigran, di US (Amerika Serikat) juga. Tapi cuma di Indonesia pemimpinnya nggak ngeh sengaja masukin imigran dengan planga-plongo,” tulis @asetiaji (15/07/2016).
Masih banyak fenomena lain jadi tema kicauan, seperti ditulis Pesek Jeaf @pesekjeaf: “Cuma di Indonesia takbiran dicampur sama lagu dangdut.”
Ada pula akun twitter menggunggah foto sebuah bus mengangkut lima unit sepeda motor dengan diikat di bodi belakangnya. “Cuma di Indonesia….” tulis @kembangkertas97 (21/07/2016).
Isu-isu lain yang diungkap netizen terkait TTI itu juga seputar ISIS, terorisme, keadilan sosial, penggusuran, kudeta Turki, pemerintahan, dan sebagainya.
Pantauan hidayatullah.com, hingga Selasa pukul 08.48 WIB, “Cuma di Indonesia” di daftar TTI sudah tak terlihat lagi.*