Hidayatullah.com- Pihak berwenang China yang telah mencabut karantina wilayah (lockdown) setelah dua bulan akibat virus corona di Wuhan. Para penduduk mengatakan mereka skeptis bahwa jumlah kematian hanya sebanyak 2.500 sebagaimana dilaporkan pemerintah itu benar-benar akurat.
Sejak awal minggu, tujuh rumah duka di Wuhan telah menyerahkan abu dari sekitar 500 orang ke keluarga mereka setiap harinya. Hal ini menunjukkan bahwa lebih banyak orang telah meninggal daripada laporan statistik yang dikeluarkan pemerintah.
“Itu tidak mungkin benar … karena alat pembakar jenazah bekerja sepanjang waktu, bagaimana bisa begitu sedikit orang yang mati?” seorang warga Wuhan bermarga Zhang mengatakan kepada Radio Free Asia (RFA) pada hari Jumat (26/3/2020).
“Mereka mulai membagikan abu dan memulai upacara pemakaman pada hari Senin,” katanya.
Tujuh rumah duka saat ini melayani Wuhan. Warganet disana telah melakukan beberapa penghitungan untuk mengetahui kapasitas harian tujuh rumah duka itu. Sementara itu situs berita Caixin.com melaporkan bahwa 5.000 guci abu telah dikirimkan ke Rumah Duka Hankou dalam satu hari, dua kali lipat dari jumlah resmi kematian yang dirilis pemerintah China.
Beberapa unggahan media sosial memperkirakan bahwa ketujuh rumah duka di Wuhan membagikan total 3.500 guci abu setiap hari. Rumah duka telah memberi tahu keluarga bahwa mereka akan mencoba menyelesaikan kremasi sebelum Festival Tradisional Qing Ming pada 5 April, yang akan mengindikasikan proses 12 hari yang dimulai pada 23 Maret. Perkiraan seperti itu berarti bahwa 42.000 guci akan diberikan selama waktu itu.
Berbagai perhitungan
Perkiraan lain yang populer didasarkan pada kapasitas kremasi rumah duka. Kremasi yang menjalankan total 84 tungku dengan kapasitas bekerja selama 24 jam menghasilkan 1.560 guci di seluruh kota, dengan asumsi bahwa satu kremasi memakan waktu satu jam. Perhitungan ini menghasilkan sekitar 46.800 kematian.
Seorang penduduk Provinsi Hubei, yang ibu kotanya adalah Wuhan, mengatakan, kebanyakan orang di sana sekarang percaya bahwa lebih dari 40.000 orang tewas di kota itu sebelum dan selama penguncian (lockdown).
“Mungkin pihak berwenang secara bertahap menghilangkan angka sebenarnya, sengaja atau tidak sengaja, sehingga orang-orang akan secara bertahap menerima kenyataan,” kata penduduk, yang hanya memberikan nama keluarganya Mao, mengatakan kepada RFA.
Sebuah sumber yang dekat dengan biro urusan sipil provinsi mengatakan banyak orang meninggal di rumah, tanpa didiagnosis, atau dirawat, akibat COVID-19. Sumber itu mengatakan setiap pembicaraan tentang jumlah sebenarnya kematian di Wuhan sangat sensitif. Pihak berwenang sangat mungkin mengetahui angka sebenarnya.
“Setiap rumah duka melaporkan data kremasi langsung ke pihak berwenang dua kali sehari,” kata sumber itu. “Ini berarti bahwa setiap rumah duka hanya tahu berapa banyak kremasi yang telah dilakukan, tetapi tidak dengan situasi di rumah duka lainnya.”
Sumber itu juga mengatakan Wuhan menyaksikan 28.000 kremasi dalam waktu satu bulan. Penduduk Wuhan, Sun Linan, mengatakan para kerabat korban meninggal sekarang membentuk barisan panjang di luar rumah duka untuk mengumpulkan abu orang yang mereka cintai.
“Sudah dimulai,” kata Sun pada hari Kamis. “Ada orang yang mengantri di Pemakaman Biandanshan kemarin, dan banyak orang membentuk barisan hari ini di Rumah Duka Hankou.”
Uang sogok
Warga Wuhan, Chen Yaohui mengatakan kepada RFA bahwa para pejabat kota telah membagikan 3.000 yuan sebagai “tunjangan pemakaman” kepada keluarga korban meninggal dengan imbalan tutup mulut.
“Ada banyak pemakaman selama beberapa hari terakhir. Pihak berwenang membagi-bagikan 3.000 yuan sebagai uang sogok kepada para keluarga yang menguburkan orang yang mereka cintai menjelang Qing Ming,” katanya, merujuk pada festival ritual tahunan etnis Tionghoa untuk bersembahyang dan ziarah kubur sesuai dengan ajaran Khong Hu Cu pada 5 April.
“Ini untuk menghentikan mereka meratap; tidak ada satupun yang diperbolehkan meratap setelah Qing Ming berlalu,” kata Chen.
Anak dari pasien COVID-19 yang sudah meninggal, Hu Aizhen mengatakan dia telah diperintahkan untuk mengambil abu ibunya oleh komite pemukiman setempat.
“Komite lokal mengatakan kepada saya bahwa mereka sekarang menangani pemakaman, tetapi saya tidak ingin melakukannya sekarang,” kata pria itu, yang bermarga Ding, kepada RFA.
“Ada terlalu banyak orang yang melakukannya sekarang.”
Chen mengatakan tak seorang pun di kota itu mempercayai jumlah korban tewas yang dirilis pemerintah.
“Jumlah resmi kematian adalah 2.500 orang … tetapi sebelum epidemi dimulai, krematorium kota biasanya mengkremasi sekitar 220 orang per hari,” katanya. “Selama epidemi, mereka memindahkan pekerja kremasi dari seluruh China ke Wuhan agar dapat melakukan kremasi sepanjang waktu,” tambahnya.
Seorang warga bermarga Gao mengatakan tujuh krematorium kota itu seharusnya memiliki kapasitas sekitar 2.000 mayat sehari jika mereka bekerja sepanjang waktu.
“Siapa pun yang melihat angka itu akan menyadari, siapa pun dengan kemampuan berpikir,” kata Gao. “Apa yang mereka bicarakan tentang [2.535] orang?”
“Tujuh krematorium bisa melewati angka lebih dari itu [dalam satu hari].”*