Sambungan artikel PERTAMA
7. Rusia
Sejumlah organisasi pejuang HAM menuduh Rusia telah menewaskan ribuan orang sejak terlibat dalam perang saudara Suriah tiga tahun lalu.
Badan Pemantau HAM Suriah (SOHR) mengatakan, selama tiga tahun ini serangan udara dan artileri Rusia telah menewaskan 18.000 orang, termasuk hampir 8.000 warga sipil Suriah. Sementara kelompok pemantau lainnya, Jaringan Suriah untuk HAM (SNHR) menyebut 6.239 warga sipil termasuk 1.804 anak-anak tewas akibat serangan militer Rusia. Angka-angka ini dimuat dalam sebuah laporan setebal 40 halaman yang dirilis pada Senin (1/10/2018).
Kremlin tidak membantah laporan sejumlah organisasi HAM itu. Kremlin malah mengatakan, pasukan Rusia menewaskan lebih banyak orang di Suriah. Ketua komisi pertahanan parlemen Rusia Viktor Bondarev malah menyebut, pasukan negeri itu menewaskan 85.000 orang yang disebut sebagai teroris, seperti dikutip kantor berita interfax.
8. Myanmar
Lebih dari 24 ribu Muslim Rohingya telah dibunuh oleh pasukan negara Myanmar sejak Agustus 2017, menurut laporan baru, tulis Andolu Agency, Ahad (19/08/2018).
Angka-angka itu terungkap dalam laporan – Migrasi Paksa Rohingya: The Untold Experience – yang dirilis oleh Badan Pembangunan Internasional Ontario, dan melibatkan para peneliti serta organisasi dari Australia, Bangladesh, Kanada, Norwegia dan Filipina.
Pengungsi Rohingya yang melarikan diri ke Bangladesh dari Myanmar mengatakan lebih dari 40 ribu warga Rohingya menderita luka tembak, kata laporan itu. Dan ada 17.718 kasus wanita dan gadis Rohingya diperkosa oleh tentara Myanmar dan polisi serta lebih dari 115.000 rumah-rumah Rohingya dibakar dan 113.000 lainnya dirusak.
9. Afrika Tengah
Sejak tahun 2013, lebih dari 6.000 Muslim telah terbunuh di Republik Afrika Tengah (CAR), dan publik dunia tetap membisu dan belum menyoroti kematian begitu banyak Muslim tersebut.
Sejumlah besar pembunuhan yang disebut sebagai “pembersihan etnis” oleh Amnesty International, seperti dilansir dari Carbonated.TV ini dilakukan oleh kelompok ekstrimis. Antara bulan Maret dan Mei 2017 saja, lebih dari 121 warga sipil dan 6 penjaga perdamaian tewas dalam konflik yang sedang bergejolak di Republik Afrika Tengah (CAR) itu. Kekerasan di kota Bangassou, wilayah Tenggara CAR, telah memaksa lebih dari 2.750 warga sipil yang kini melarikan diri ke Kongo, negara tetangga Republik Afrika Tengah.
Ibu Kota CAR, Bangui, berpenduduk sekitar 130.000 Muslim sebelum tahun 2013. Sekarang ini Muslim yang tinggal disana, kurang dari 1.000 orang. Lebih dari 400.000 orang telah mengungsi secara internal sementara 2,7 juta penduduk (lebih dari 50 persen populasi CAR) masih membutuhkan bantuan kemanusiaan.
10. Serbia
Pada 11 Juli 1995, tepat 23 tahun silam, dimulai sebuah pembantaian paling sadis di Eropa pasca-Perang Dunia II, demikian menurut mantan Sekjen PBB Kofi Annan. Ia merujuk pada genosida ribuan warga muslim Bosnia di Kota Srebrenica, Bosnia dan Herzegovina.
Dikabarkan lebih 200.000 Muslim Bosnia menjadi korban kekejaman pasukan Kristen Serbia selama upayanya pelenyapan etnis Muslim Bosnia berlangsung. Lebih dari 20.000 Muslimah juga dikabarkan menjadi korban perkosaan yang dilakukan secara sistematis oleh pasukan Serbia.
11. Slovakia
Pada Desember 2016, Slovakia mengesahkan undang-undang untuk secara efektif melarang Islam menjadi salah satu agama resmi di negara itu. Langkah ini semakin menguatkan sentimen anti-Islam yang tumbuh di seluruh Uni Eropa. Sebelumnya, di pertengahan tahun yang sama, Perdana Menteri Robert Fico bahkan menegaskan bahwa Islam tidak memiliki tempat di Slovakia.
Padahal ada 5.000 umat Muslim di Negara ini. Akibat kebijakan ini, tidak ada Masjid yang diakui oleh pemerintah dan semua komunitas muslim dilarang terbentuk di negara kecil di tengah benua Eropa ini.
12. Sri Lanka
Kekerasaan berakar rasisme terhadap Muslim di Sri Lanka tercatat telah terjadi sejak 1915. Di mana 25 terbunuh, 189 terluka, 4 insiden pemerkosaan yang terkait dengan kerusuhan, 4075 rumah dan butik dijarah, 250 rumah dan butik dibakar, 17 masjid dibakar, dan 86 masjid lainnya rusak. Angka resmi lainnya menyebutkan 116 orang tewas, 63 oleh pasukan militer dan polisi. Kekerasan itu bersumber dari kebencian umat Budha Sinhala kepada Muslim Moors sejak masa kolonialisme Inggris.
Terakhir, serangkaian kerusuhan bermotivasi agama yang dilakukan oleh kelompok anti-Islam pada 2019 menargetkan Muslim di Sri Lanka. Kerusuhan tersebut bermula sebagai insiden yang terisolasi setelah pembantaian Paskah di negara itu, dimulai di Chilaw dan kemudian menyebar ke banyak bagian Provinsi Timur Laut.
13. Slovakia
Pada Desember 2016, Slovakia mengesahkan undang-undang untuk secara efektif melarang Islam menjadi salah satu agama resmi di negara itu. Langkah ini semakin menguatkan sentimen anti-Islam yang tumbuh di seluruh Uni Eropa. Sebelumnya, di pertengahan tahun yang sama, Perdana Menteri Robert Fico bahkan menegaskan bahwa Islam tidak memiliki tempat di Slovakia.
Padahal ada 5.000 umat Muslim di Negara ini. Akibat kebijakan ini, tidak ada Masjid yang diakui oleh pemerintah dan semua komunitas muslim dilarang terbentuk di negara kecil di tengah benua Eropa ini.
14. Kanada
Media Kanada memainkan peran yang beragam dalam liputan mereka yang dianggap telah melanggengkan Islamofobia. Sistem pendidikan publik Kanada juga telah diteliti untuk menunjukkan perannya sebagai institusi yang bertanggungjawab atas perkembangan sikap Islamofobia pada masa muda.
Berbagai penyerang individu, ancaman, hingga pembunuhan terhadap Muslim terjadi di Kanada. Terakhir, pada Januari 2017, seorang pria bersenjata menembaki jamaah di Pusat Kebudayaan Islam Quebec, menewaskan 6 orang dan melukai 19 lainnya. Media melaporkan bahwa penyerang adalah seorang mahasiswa yang memiliki kecenderungan politik sayap kanan dan anti-Muslim. Banyak Muslim dan non-Muslim menyalahkan serangan disebabkan oleh meningkatnya retorika Islamofobia di Kanada.
15. Belanda
Islamofobia di Belanda terus meningkat hingga mendapat perhatian serius dari Organisasi Konferensi Islam (OKI) pada tahun 2011. Para menteri luar negeri dari OKI mengecam tindakan anti-Islam di Belanda dan menyalahkan sejumlah politisi negara itu karena mendukung Islamofobia.
Pada bulan Agustus, 2019, Belanda memberlakukan larangan burqa – penutup seluruh tubuh termasuk cadar yang dikenakan oleh beberapa wanita Muslim – di lembaga-lembaga publik.
Pakaian yang “menutupi wajah,” seperti burqa atau kerudung tidak lagi dikenakan di lembaga-lembaga publik seperti sekolah, rumah sakit dan kantor pemerintah atau di bus dan kereta api, kata pihak berwenang pada Agustus ketika undang-undang baru mulai berlaku. Larangan ini pertama kali diusulkan oleh politisi sayap kanan Geert Wilders pada 2005.*