Hidayatullah.com — Fenomena lesbian, gay, biseksual, dan transgender (LGBT) makin marak. Topik ini sering menghiasi media (cetak, elektronik, hingga medsos), diperbincangan dalam berbagai seminar dan workshop, hingga diperdebatkan di gedung parlemen.
Salah satu yang kerap jadi topik pembicaraan adalah apakah LGBT ini bawaan genetis atau bukan? Muncullah pro dan kontra.
Prof. DR. Mohamad Amin, MSi (almarhum), pakar Biologi Molekuler di Universitas Negeri Malang, pernah membedahnya secara ilmiah. Pendekatan secara ilmiah diharapkan bisa objektif sehingga mampu memposisikan LGBT sebagaimana semestinya.
Bagaimana LGBT dalam pandangan sains ilmiah?
Segala Sesuatu Diciptakan Berpasangan
Al-Qur`an berulang-ulang menyebut adanya penciptaan pasangan. Misalnya dalam tumbuh-tumbuhan atau pasangan yang sifatnya lebih umum.
Misalnya: “Mahasuci Tuhan yang telah menciptakan pasangan-pasangan semuanya baik dari apa yang ditumbuhkan oleh bumi dan dari diri mereka maupun dari apa-apa yang mereka tidak ketahui.” (Yaa Siin [36]: 36).
“Pasangan” dalam hal ini umumnya bermakna laki-laki dan perempuan, atau jantan dan betina. Sedangkan ungkapan “maupun dari apa-apa yang tidak mereka ketahui” memiliki cakupan yang lebih luas.
Kini, sains telah mampu mengungkap cakupan makna lain dari ayat tersebut. Materi berpasangan dengan lawan jenisnya, yaitu anti-materi, yang sifat-sifatnya berlawanan dengan materi. Misalnya, berbeda dengan materi, elektron anti-materi bermuatan positif, dan protonnya bermuatan negatif.
Fakta tersebut dinyatakan dalam sumber ilmiah misalnya:
“…setiap partikel memiliki anti-partikel dengan muatan yang berlawanan … dan hubungan ketidakpastian mengatakan kepada kita bahwa penciptaan berpasangan dan pemusnahan berpasangan terjadi di dalam vakum di setiap saat, di setiap tempat,” kata Paul Dirac, ilmuwan Inggris peraih penghargaan Nobel bidang Fisika pada tahun 1933.
Mengapa diciptakan berpasangan? Dalam contoh kasus di atas, prinsip berpasangan adalah untuk keseimbangan dalam proses fisik alamiah. Dalam kajian Biologi, adanya pasangan berperan dalam pelestarian.
Salah satu ciri dari makhluk hidup adalah melestarikan jenisnya agar tidak punah. Kelestarian ini menjadi penting agar keseimbangan alam tetap terjaga. Punahnya satu komponen dalam ekosistem akan menjadikan alam pasti terganggu.
Kita bisa mencermati suatu rantai makanan. Bila ada satu komponen yang punah, maka suatu rantai makanan itu akan berakhir sehingga membentuk rantai makanan baru yang memerlukan waktu tidak singkat dengan energi yang tidak sedikit.
Prinsip di dalam Biologi adalah keseimbangan (ekuilibrium). Bila suatu komponen mengalami gangguan, maka komponen lain akan terpengaruh sampai tercapai suatu keseimbangan.
Agar dapat lestari, maka organisme dalam berketurunan harus dalam keadaan normal. Fitness (keloloshidupan) suatu spesies ditentukan oleh komposisi genetiknya.
Bila komposisi genetik berbeda dari keadaan yang seharusnya, maka dalam perjalanan hidupnya individu atau kelompok individu dalam spesies ini akan terseleksi sebab memiliki fitness yang rendah. Dalam istilah Biologi disebut abnormalitas, yaitu suatu keadaan yang berbeda dari keadaan pada umumnya.
Dengan demikian, penciptaan berpasang-pasangan ini adalah untuk menjaga agar spesies memiliki fitness yang tinggi agar bisa lestari. Juga mampu menjalankan fungsi sebagai komponen biologi di alam untuk menjaga agar keseimbangan alam terus terjaga.* (bersambung). Sumber: Majalah Suara Hidayatullah edisi Maret 2018.