Oleh: Khairul Hibri
UMUR Mohammad Natsir masih menginjak usia 22 tahun ketika pendeta Kristen Protestan, A.C Christoffels berceramah di depan murid-murid Algemere Midlebare School (AMS), dan mengangkat tema ‘Muhammad als Profeet’ (Muhammad Sebagai Nabi).
Natsir yang ikut menghadiri acara itu, sangat terusik dengan pemaparan yang disampaikan oleh si pendeta.
Betapa tidak. Dalam kesempatan itu, sang pendeta mengatakan bahwa Muhammad tak lebih hanya sebagai jalan pembuka bagi kebenaran Kristus yang sebenarnya.
Si pendeta juga menghina junjungan umat Islam sebagai sosok yang memiliki nafsu syahwat yang besar.
Celakanya lagi, rangkuman ceramah pendeta yang memanaskan telinga M. Natsir itu juga disebarkan lewat surat kabar berbahasa Belanda, Algemeen Indisch Dagblad (AID).
Atas saran A. Hasan, salah seorang tokoh PERSIS, yang juga berperan sebagai guru spiritual/agama M.Nastir, memintanya untuk mengirimkan bantahan dengan menggunakan bahasa Belanda.
“Tuan Natsir yang akan menulis bantahan itu, kan? Maka tuanlah yang akan menulis menyusunnya. Lagi pula, bantahan ditulis dalam bahasa Belanda. Saya tidak bisa bahasa Belanda,” kata A. Hasan.
Lalu, atas nama Komite Pembela Islam (Organisasi yang baru didirikan oleh M. Natsir dan kawan-kawan untuk mengkonter zending Kristen), M. Natsir melayangkan bantahannya ke Surat Kabar Algemeen Indische Dagblad (AID), berjudul “Al-Qur’an en Evangelie” (Al-Quran dan Injil).
Tulisan itu kemudian kembali dibantah oleh Pendeta Christofels dalam edisi selanjutnya. Komite kemudian meminta Natsir untuk kembali membuat bantahan yang kedua. Tapi sayang, kali itu AID tak berkenan memuatnya.
Kecewa dengan respons negatif AID, akhirnya M. Natsir dan kawan-kawan di komite bersepakat membuat majalah yang kemudian diberi nama; Pembela Islam. Di majalah inilah kemudian M. Natsir berupa membantah segala tuduhan yang diserangkan oleh Pendeta Kristen terhadap Islam. (Artawijaya; Belajar Dari Partai Masjumi)
Karakter Pemuda Muslim
Natsir adalah tokoh bangsa yang dikenal sebagai pribadi yang teguh terhadap keyakinan/agamanya. Untuk itu beliau rela mengobankan apa saja, bahkan nyawa sekalipun menjadi taruhannya.
Sikap peduli terhadap kesucian agama, tercermin jelas pada kepribadian Natsir. Ia tidak pernah rela, agama dan Nabinya dihina dinakan. Apalagi sampai di depan publik. Datang dari orang di luar Islam, pula.
Maka sebagai seorang Muslim, ia tampil sebagai pembela agama. Dikanternya isu-isu yang mencitra-burukkan Islam melalui media-media yang memuat opini itu.
Inilah teladan M. Nastir yang diwariskan kepada kita, pemuda Islam. Dan langkah ini pula yang harus kita tapaki, bila ingin menyandang sebagai pemuda muslim seutuhnya.
Sebab, ketika kita acuh, maka keberadaan iman yang bercongkol di sanubari patut dipertanyakan akan ‘kesehatan’nya.
Kondisi iman yang ‘sehat’ akan menjadi penggerak seseorang untuk senantiasa berjuang menjaga kesucian agamanya. Dan hanya mereka yang mengalami sakit imanlah, yang akan cuek bebek terhadap penghinaan-penghinaan terhadap agama yang dianutnya.
Hal ini senada dengan petuah A. Hasan, kepada salah seorang sahabat karib M. Natsir, Datuk Alimin Sati, ketika ia datang, bersilaturrahim kepada pentolan Persis itu, kemudian mengabarkan tentang maraknya pelecehan terhadap Islam.
Kepadanya A. Hasan berkata; “Bila Tuan dengar Islam direndahkan orang di depan tuan, maka saat itu juga dengan cepat Tuan harus berpikir; Tuan orang Islam atau tidak? Kalau Tuan merasa bukan orang Islam, masa bodo…..habis perkara! Tak ada persoalan lagi. Tapi kalau Tuan merasa seorang Islam, maka Tuan harus berpikir babak kedua; Siapa lagi yang akan membela Islam di saat seperti itu selain Tuan? Bulatkan tekat, Islam harus Tuan bela!”
Nah, saat ini gampang sekali kita temui pelecehan terhadap Islam. Islam diidentikkan dengan hal-hal yang menjurus ke negatif, seperti terorisme, agama ekslusif, anti toleransi dan sebagainya.
Jelas ini semua ini adalah bentuk fitnah nan kejam terhadap agama hanif ini. Sebab, Islam sama sekali tidak mencerminkan itu semua.
Islam adalah agama yang mencintai kedamaian. Sama sekali tidak memperkenankan kerusakan terjadi di muka bumi ini. Ia juga merupakan agama yang menjunjung tinggi harkat dan martabat wanita, dan sangat toleransi terhadap agama lain, dengan batas-batasan tertentu (Surat: Al-Kafiruun).
Semua keluhuran ajaran Islam ini tidak akan sampai kepada umat, bila tidak ada yang mendakwahkan. Pun demikian fitnah-fitnah buruk tentang Islam, tidak akan pernah terluruskan, bila tidak ada yang mencoba mengkanternya.
Pemuda memiliki peranan penting berada di garda terdepan untuk melakukan jihad pembelaan kesucian agama ini; sebagaimana M. Natsir, yang berada di shaf awal dalam menetralisir tuduhan-tuduhan sesat, sebagaimana tersebut pada kisah di atas.
Lalu mengapa harus pemuda yang harus ambil peran? Camkan perkataan Dr Yusuf Qaradhawi berikut ini, terkait pentingnya keikutsertaan pemuda dalam dunia dakwah.
“Seyogianya, pemudalah yang memangku amanah dakwah ini. Sebab, dalam diri mereka masih berkumpul dalam diri segala hal yang dibutuhkan dalam dunia dakwah, seperti idealisme, kesehatan, semangat dan kekuatan.”
Skill Menulis
Di antara sarana yang dijadikan wasilah oleh musuh-musuh Islam melancarkan tuduhannya terhadap agama ini adalah media masa.
Melalui media (cetak; koran, majalah, buku, web, dll) mereka sebarkan segala tuduhan buruk mereka terhadap agama ini.
Maka seperti halnya M. Natsir, kita, pemuda Islam, juga harus mengambil bagian dalam bidang ini. Sudah menjadi tuntutan bagi generasi muda Islam untuk bisa menulis. Dengan pena inilah kemudian, kita coba mengkanter sekuat tenaga segala hal yang berusaha membusukkan Islam.
Melalui media apa mereka menyerang, maka kita serang dengan media serupa. Dengan langkah ini, umatpun tercerahkan dari kesesatan isu yang dihembuskan oleh musuh-musuh Islam.
Bahaya akan melanda umat Islam, bila bidang yang satu ini ditinggalkan. Karena urgensinya tulis menulis ini, Yusuf Qardhawi pun pernah menyatakan; Bahwa jihad masa kini bukanlah hanya mengangkat senjata saja, namun juga termasuk menggoreskan pena untuk ‘menyuarakan’ kebenaran.
Langkah inilah yang kemudian oleh sebagian tokoh disebut “Perang Opini” atau “Perang Pemikiran”.
Sejak sekolah di AMS, Natsir banyak terlibat di dunia tulis-menulis dan jurnalistik. Selain tulisannya dimuat majalah Algemeen Indische Dagblad, bersama tokoh Islam lainnya mendirikan surat kabar Pembela Islam (1929 -1935) dan banyak menulis terkait Islam di berbagai majalah Islam; seperti Pandji Islam, Pedoman Masyarakat, dan Al-Manar.
Tahun 1938, Mohammad Natsir pernah mengeluarkan artikel Suara Azan dan Lonceng Azan yang mengomentari hasil Konferensi Zending Kristen di Amsterdam.
Natsir banyak menulis tentang pemikiran Islam. Ia aktif menulis di majalah-majalah Islam setelah karya tulis pertamanya diterbitkan pada tahun 1929.
Dalam tulisan-tulisannya M Natsir banyak mengkritisi pemikiran- pemikiran yang melecehkan atau merendahkan Islam, terutama tulisan macam yang banyak dibuat para politisi atau tokoh dari PNI yang berfikir sekuler.
Hingga akhir hayatnya ia telah menulis sekitar 45 buku dan ratusan karya tulis lain.
Mohammad Natsir lahir 17 Juli 1908, di Kampung Jembatan Berukir, Alahan Panjang, Sumatera Barat, sedang kampung asalnya Maninjau. Dikenal sebagai pemimpin yang produktif menulis dan memiliki perhatian sangat tinggi terhadap dakwah itu wafat 6 Februari 1993 di Jakarta dalam usia 84 tahun.
Jadi, mari kita semangat belajar menulis, dan berjuang melalui pena. Wallahu ‘Alamu Bish-Shawab.*
Pengurus Syabab Hidayatullah Jawa Timur bidang Media dan Informasi