Hidayatullah.comHidayatullah.comHidayatullah.com
Pemberitahuan Lebih Banyak
Font ResizerAa
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Font ResizerAa
Hidayatullah.comHidayatullah.com
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Pencarian
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Mimbar

Ruh Ulama dan ‘Ketuhanan yang Maha Esa’

Admin Hidcom
Terakhir diupdate: 23 Januari 2017 15:10 3:10 pm
Admin Hidcom
Dipublikasikan 23 Januari 2017 15:10
Bagikan
Sebagaian anggota Badan Penyelidik Usaha-Usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia (BPUPKI) adalah tokoh Muhammadiyah
Bagikan

Oleh: Imam Nawawi

 

BELAKANGAN ini simbol negara Pancasila kembali “disaktikan.” Tidak sedikit yang mengatasnamakan Pancasila kemudian ‘mengejar-ngejar’ ulama dan menuduh kelompok lain dengan label Anti NKRI atau anti kebhinekaan.

Tidak sediki yang katanya cinta Pancasila tetapi tidak mengerti apa makna dari ‘Ketuhanan yang Maha Esa’. Yang logikanya, tidak memahami sila pertama berarti meruntuhkan semua sila di dalam Pancasila.

Itu kondisi kekinian yang mewarnai sejarah perjalanan bangsa Indonesia. Pancasila nampaknya ingin dimonopoli dan dengan itu mereka yang sebenarnya perlu intropeksi diri apakah dirinya telah memahami sekaligus mengamalkan Pancasila atau belum, seperti dikatakan Rocky Gerung dalam siaran talk show di stasiun televisi swasta nasional “Mengendalikan Kebenaran.”

Baca Juga

Jabatan Tambah Tinggi Justru Ditangisi
Bahkan Kita Harus Mendidik Anak sebelum Kelahirannya
OKI, Hujan yang Berhenti, & Pemimpin Dunia yang Dinanti
50 Menit, Menjaga Syiar Islam di Tana Toraja
Problem Pendidikan Islam

Generasi Muda Islam Tak Perlu Berjarak dengan Pancasila

Tetapi, lebih dari sekedar bertarung sengit dalam adu argumen apa itu Pancasila, saya tertarik untuk mengupas ilustrasi yang dibuat oleh Jalaluddin Rumi dalam bukunya “Fihi Maa Fihi” yang menjelaskan sikap Nabi Adam kenapa meski sama-sama diusir dari surga sebagaimana Iblis, Nabi Adam ada pintu spesial yang jika dimasuki akan mendapakan kebahagiaan, yakni pintu ampunan dengan pertaubatan. Sedangkan Iblis, selamanya dalam kutukan tiada akhir.

Iblis diusir dengan kehinaan tidak lain karena sikapnya yang ‘mendebat’ Tuhan, karena merasa dirinya lebih unggul dari Adam yang diciptakan dari tanah dan termasuk makhluk (ciptaan) yang new comer alias belum ada kiprah sama sekali. “Masuk akal,” mungkin demikian Iblis berpikir, “Barangkali Tuhan lupa,” begitu mungkin analisanya.

“Engkau ciptakan aku dari api sementara dia Engkau ciptakan dari tanah.” (QS. Al-A’raf [7]: 12).

Dalam catatan Rumi, Iblis telah berbuat dosa, melakukan perlawanan, dan bantahan sekaligus. Dia benar-benar tidak memiliki tata krama kepada Allah yang telah menciptakannya, sehingga ia hanya ingat pada tuntutan hawa nafsunya sampai-sampai tidak sadar membantah perintah Tuhan yang menciptakannya dari api. Inilah sebab kenapa Iblis terkutuk dan gemar menjerumuskan manusia pada perbuatan-perbuatan terkutuk.

Sedangkan Nabi Adam, beliau sama sekali tidak mengeluarkan argumen. Sampai-sampai Allah berfirman kepada Adam, “Wahai Adam, ketika Aku menghukum dan mengusirmu karena dosa yang sudah kamu perbuat, kenapa kamu tidak mendebat-Ku padahal kamu memiliki argumen?

Kamu tidak berkata, “Segala sesuatu berasal dari-Mu dan diciptakan oleh-Mu. Apapun yang Engkau inginkan di dunia ini akan terwujud dan apapun yang tidak Engkau inginkan tidak akan pernah muncul.”

Kau memiliki argumen dan bukti sahih semacam ini, kenapa kamu tidak mengatakannya pada-Ku?”

70 Tahun Piagam Jakarta

Nabi Adam menjawab, “Tuhanku, aku tahu itu, tetapi aku tidak ingin menanggalkan tata kramaku di hadapan-Mu dan cinta tidak akan membuatku merasa tersakiti.”

Subhanalloh, keren sekali ilustrasi yang dibuat oleh Jaluluddin Rumi di atas. Jelas itu adalah wujud perenungan akan bagaimana seharusnya kita bersikap terhadap perintah Tuhan, termasuk kala menerima keputusan-Nya yang memberatkan jiwa dan perasaan kita.

Jika ilustrasi tersebut kita tarik dalam masa kekinian untuk menjadi landasan dalam memahami sila pertama Pancasila, “Ketuhanan yang Maha Esa” sangat mudah kita melakukan intropeksi diri ke dalam. Apakah aspirasi, tuntuntan, gerakan dan upaya-upaya kita dalam berbangsa dan bernegara ini memang dalam rangka memanivestasikan iman atau malah justru menenggelamkan keimanan?

Menuduh ulama sebagai perusak, pemecah belah NKRI, dan menangkapi umat Islam yang tak berdaya dengan argumen hukum yang direkayasa, apakah tindakan ini sesuai dengan semangat Pancasila secara hakiki dan menyeluruh?

Masak iya, ulama yang sepanjang perjalanan bangsa telah berkontribusi besar dalam menjaga akhlak dan adab rakyat mayoritas di negeri ini tiba-tiba berkehendak melakukan kerusakan? Apakah mungkin, ulama yang terus mendorong mayoritas penduduk negeri ini mendekat kepada Allah sebagai biang kerusakan?

Sadarlah, bahwa hukum, konstitusi dan regulasi yang dibuat di negeri ini tujuannya adalah untuk menghidupkan Pancasila, yang dijiwai dengan semangat “Ketuhanan yang Maha Esa” sebagai dasar dalam membangun NKRI yang maju dan bermartabat. Bukan sebagai pembenaran atas segala kepentingan politik sesaat dari berbagai kelompok yang tidak bertanggung jawab.

Aduhai, bangsaku, rakyat Indonesia, sebagai apapun dirimu, mari kembali melihat ke dalam. Apakah pilihan-pilihan hidup kita, cara berpikir dan merasa kita, adalah wujud adab, tata krama, sopan-santun dan ketaatan secara totalitas kepada Tuhan Yang Maha Esa?

Atau justru sebaliknya, dengan apa yang melekat sementara dalam diri kita, kita telah terjerembab menjadi tentara Iblis yang terus membangkang perintah Tuhan Yang Maha Esa namun terus-menerus berkoar-koar tentang Kemanusiaan, Keadilan, Peradaban, Persatuan, Kerakyatan dan Keadilan Sosial dengan beragam laku dan argumen yang dipaksa-paksakan.

Padahal, “Ketuhanan yang Maha Esa”itu adalah ruh dari setiap gerak perjuangan rakyat negeri ini bersama para ulama. Bahkan, kemerdekaan negeri ini terjadi karena kita telah meminjam kata-kata dari-Nya, “Allahu Akbar.”

Sebuah kata yang tak mungkin pernah hadir tanpa diberitahukan oleh Tuhan dan dipersilakan untuk digunakan untuk memenangkan perjuangan. Silakan tundukkan kepala masing-masing dan bertanyalah dengan kejernihan hati nurani!

Penulis Buku Sabar & Change Yourself to Change The World

Redaktur: Admin Hidcom
Bantu kami terus menyuarakan kebenaran!

Scan QRIS dan dukung #Journalism4Ummah

donasi online
TAG:pancasilapersiapan kemerdekaan Indonesiasidang BPUPKIulama
Bagikan tulisan ini
Facebook Whatsapp Whatsapp Telegram Email Salin tautan Print
Tulisan sebelumnya Nativisasi dan Pengaburan Nilai-Nilai Islam
Tulisan selanjutnya Pembawa Bendera ‘Tauhid’ yang Ditangkap Polisi itu Selesaikan Hafalan Quran di Madinah

Ikuti Kami

1.2KLike
89KFollow
27.8KFollow
222KSubscribe
Ad image
Ad image

Terpopuler

Berita

Perkuat Kompetensi Amil Zakat dan Nazir Wakaf, Kemenag Gelar Sertifikasi Profesi

Berita
2 Juni 2026 19:00
Warga Yunani Didakwa Membantu Iran untuk Menarget Jurnalis di Inggris
Harga Obat Terancam Naik, DPR Minta Perlindungan untuk Pasien Penyakit Kronis
Kazakhstan Menawarkan Diri untuk Menyimpan Cadangan Uranium Iran
Iran Persiapkan Upacara Pemakaman Besar untuk Ayatullah Ali Khamenei

Terbaru

  • Fatah Tunjuk Hussein al-Sheikh Jadi Wakil Mahmoud Abbas
  • ‘Israel’ Klaim Penjualan Senjata ke Negara Arab Melonjak Tajam, Banyak yang Beli Diam-Diam
  • Turki Siapkan Proyek Kereta Hijaz sebagai Alternatif Selat Hormuz
  • Harga Obat Terancam Naik, DPR Minta Perlindungan untuk Pasien Penyakit Kronis
  • Bantah Menolak Lepas Kendali Gaza, Hamas: Kebohongan ‘Israel’
  • Bachtiar Nasir: Pesantren Hadapi Ujian Besar Kepercayaan Publik di Era Digital
  • Ekonomi Syariah Global Tembus USD 8,6 Triliun, Indonesia Harus Naik Kelas Jadi Produsen Utama
  • Presiden Erdogan Kini Punya 10 Cucu, Kabar Bahagia Datang dari Keluarga Presiden Turki
  • Hampir 135 Ribu Jamaah Indonesia Salurkan Dam Lewat Adahi, Daging Diprioritaskan untuk Palestina
  • MUI: Qurban Presiden dengan Dana APBN untuk Masyarakat Sah dan Sesuai Syariat

Mungkin Anda Juga Suka

Mimbar

Tujuan Kita Tak Sekadar Madinah sebagai Kawasan, Tapi Peradaban di Dalamnya

28 Desember 2022 11:00
Mimbar

Ustad Aris Munandar yang Saya Kenal

26 Desember 2022 11:45
Mimbar

Non-Muslim Pun Merasa Nyaman Bersyariah, Lalu Mengapa Kita Ragu?

14 Desember 2022 21:45
Ekonomi SyariahMimbarTsaqafah

Cintai Bumi Melalui Investasi Green Sukuk Ritel

2 Desember 2022 08:05
Hidayatullah.comHidayatullah.com
Follow US
Copyright 2023 © Hidayatullah.COM
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Informasi Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Indeks
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lupa password?