Hidayatullah.com–Perawakannya mungil, terlihat seperti pemalu dan sangat polos. Itulah Feri Irawan (27) dai yang merupakan alumnus santri Pesantren Hidayatullah Merauke yang sembilan tahun berjalan ini setia menjalankan amanah dakwahnya untuk masyarakat Kumbe Merauke.
Meski wajahnya terkesan polos, sepak terjang pria keturunan Lombok Nusa Tenggara Barat ini tak seperti yang dilihat orang. Ia dikenal sangat mudah bergaul, tidak saja dengan masyarakat pendatang di Merauke, tetapi juga dengan penduduk asli dan suku asli Papua.
Ketika hidayatullah.com diajak untuk bersilaturrahim menemui Bapak Jum’at (36), tokoh Muslim Papua, yang berada sekitar 600 meter dari TPQ yang kini menjadi markas dakwahnya Rabu (11/05/2016), keduanya nampak akrab.
Pertemanannya tak hanya terkait dakwah di Papua, bahkan sampai urusan berburu rusa dan menunggang kuda.
“Ayo ke belakang, kita lihat hasil buruan kita,” ujar Jum’at sembari menarik tangan Feri.
“Itu dia rusa kami, ada dua ekor. Dulu kita tangkap masih kecil, jadi ya kita pelihara saja. Mungkin tidak lama lagi rusa ini akan memiliki anak,” ucapnya.
Tidak berselang lama setelah melihat-lihat rusa, datang seketika Qamaruddin (35), keluarga Jum’at yang baru saja kembali bersama kuda kesayangannya.
“Ehh…Pak Ustadz, maukah naik kuda, sini….,” ajaknya kepada hidayatullah.com.
Dengan perasaan malu hidayatullah.com langsung naik ke punggung kuda dengan bantuan paha Jum’at yang disediakan sebagai pijakan.
Barulah tiba giliran Feri membuktikan ucapan Pak Jum’at bahwa dirinya biasa berburu bersama di hutan.
Suami dari Widia Astuti yang semula terlihat seperti pemalu itu langsung melangkah dengan penuh keyakinan dan naik ke atas punggung kuda dengan sangat sigap. Begitu di atas punggung kuda, pria 29 tahun itu langsung menjalankan kuda dengan sangat baik.
Begitulah gaya Feri, bermasyarakat dan berkomunikasi dengan penduduk asli Papua. Ia meyakini, semua adalah makhluk Allah yang sama dengan kita, ingin diperlakukan dengan baik.
“Mereka kan makhluk Allah juga. Mereka juga ingin seperti kita ingin. Mereka ingin diperlakukan baik, ya sudah kita berusaha baik-baik saja dengan mereka.”
Cara komunikasi Feri yang sederhana ini dirasakan dan mudah diterima warga. Bahkan melahirkan simpati.
“Nanti kalau sudah lulus ini (SD), biar anak saa masuk pondok. Cari Islam biar punya manfaat,” ucap Jum’at sembari mengusap kepala salah satu dari tiga putranya.
Berdakwah dengan Al-Qur’an
Selama ini, Feri dengan Komunitas Muslim Papua di Kumbe terlihat sangat akrab. Dalam banyak hal mereka seperti satu keluarga. Bahkan, kala Baitul Maal Hidayatullah (BMH) Merauke mengadakan sunatan massal, anak-anak dari keluarga Jum’at ikut dengan sangat senang program khitan massal.
Suami dari Widia Astuti ini mengakui, saat memulai berdakwah di Kabupaten Merauke, Papua tak memiliki bekal apa-apa. Hanya berbekal nekad dan bersandar janji Allah Subhanahu Wata’ala.
“Saya ini tugas di Merauke tidak memiliki bekal. Tapi para ustadz saya berpesan, kalau memang bisanya membaca Qur’an, ya sudah ajak saja masyarakat bisa dan senang membaca Al-Qur’an,” terang Feri.
Benar, setelah datang di tempat terpencil ini, ia memutuskan membuka Taman Pendidikan Al-Qur’an. Keputusan ini bermula dari respon yang rendah dari masyarakat. Kini setiap sore, rumah dakwah yang dijadikan TPQ itu sudah tak muat menampung 50 anak santri TPQ.
Pemandangan indah pun terlihat kala pembelajaran TPQ tiba. Orang tua, terutama kaum ibu berduyun-duyun mengantar anaknya ke TPQ yang berada di Jalan Yossudarso RT 07 RW 02 Kumbe Kampung Kecil Kecamatan Malind Merauke Papua.
Bahkan ada seorang ibu yang secara suka rela mau menjadi pendidik juga di TPQ Al-Kahfi itu.
“Awalnya Ibu Hasmawati ini belum bisa mengaji. Ikutlah belajar Al-Qur’an untuk kelas ibu-ibu. Entah kenapa kemudian dia menghadap saya dan mengatakan dirinya ingin cepat bisa baca Qur’an, jadi bagaimana kalau dirinya diberi kesempatan mengajar di TPQ untuk anak-anak sesuai dengan pelajaran yang sudah dikuasainya. Waktu bergulir tahun berganti, kini ibu ini sangat aktif membantu mengajar,” ucap Feri.
“Bahkan beliau lakukan itu dengan sangat suka rela. Tapi saya tidak tega, dan sampai sekarang pun sebulan beliau tetap bahagia meski menerima penghargaan (honor) sebesar 150 ribu per bulan,” sambungnya.
Bagi Feri hadirnya Ibu Hasmawati merupakan bukti kebenaran janji Allah sebagaimana Surat Muhammad ayat 7, ‘siapa kita mau menolong agama Allah, makan Allah yang akan menolong dan meneguhkan kedudukan kita’.
“Ya, saya tidak mungkin mengeluh ke masyarakat, meski tenaga kami sangat terbatas. Ternyata Allah yang menjawab semua. Datang ibu ingin ikut mengajar,” terang Feri.
Dari pengalaman-pengalaman berdakwah di Kumbe, Feri semakin yakin dengan janji Allah bahwa dakwah adalah jalan keajaiban.
“Saya ini bukan ustadz sebenarnya, bisanya juga cuma membaca al-Qur’an. Tetapi melalui dakwah ini saya merasakan Allah begitu dekat, terasa banyak sekali keajaiban-keajaiban yang menyapa perjalanan dakwah ini, yang kalau dipikir-pikir, tidak mungkin rasanya itu terjadi, apalagi melihat diri seperti saya,” paparnya.
Tantangan Dakwah
Sebagaimana diketahui, untuk sampai ke Kumbe orang harus menempuh jarak sejauh 150 kilo meter dari Bandara Mopah Merauke.
Selain itu perlu menyiapkan stamina dan mental. Sebab jalan menuju Kumbe tidak semuanya mulus, lubang besar dan dalam siap menanti ketangguhan kita.
Hidup di desa terpencil di Kabupaten Merauke tidak sama dengan daerah lain. Selain akses jalan yang tidak dekat, kondisi masyarakat yang sederhana cara berpikirnya juga kerap menjadi tantangan. Ditambah dengan tidak adanya kejelasan ma’isyah (pendapatan).
“Tantangan (dakwah) di sini dari berbagai sisi, dari kondisi alam saja sudah terasa, jarak, fasilitas dan seterusnya. Kemudian, warga di sini kan sederhana saja pola pikirnya bagaimana kebutuhan fisiknya terpenuhi.
Sedangkan kadangkala hati terenyuh melihat anak tidak bisa sekolah karena faktor biaya. Ingin membantu, tapi untuk sehari-hari di rumah kalau ada yang bisa kita makan itu sudah Alhamdulillah,” papar Feri.
Tantangan semakin terasa ketika kelompok (agama) lain memberikan fasilitas pendidikan gratis. Sementara kaum Muslim harus berjuang sendiri.
“Beratnya itu ada dari seberang yang memberikan sekolah gratis, wah ini yang terberat, sebab warga butuh sekolah,” ungkapnya.
Tidak saja itu, minimnya pengetahuan orang tua terhadap pentingnya Islam menjadikan mereka abai dalam menanamkan pendidikan Islam kepada anak-anak.
“Jadi, kalau ada anak-anak mau belajar Al-Qur’an ke TPQ itu sudah luar biasa. Umumnya ya berjalan saja, bisa ngaji atau tidak bukan perkara yang amat penting,” ucapnya.
Ditambah dengan kondisi ekonomi warga yang memang rata-rata bertani.
“Di sini kan bertani, tidak bisa dipastikan akan selalu untung. Kalau ada belajar Qur’an bayar, bisa dipastikan tidak lama TPQ itu bubar,” ucapnya sembari tersenyum.

Oleh karena itu kepedulian semua pihak, terkhusus umat Islam terhadap pengembangan dakwah di desa terpencil di Kabupaten Merauke sangat dibutuhkan.
“Operasional dakwah itu jelas kami sangat butuhkan. Kalau ada kendaraan roda empat akan sangat bagus, karena kami bisa lebih sering membawa penduduk asli baik orang tua maupun anak-anaknya ikut mabit atau kegiatan pesantren di kota (kelapa lima).
Belum lagi operasional TPQ berupa Al-Qur’an, honor guru-gurunya. Sekarang guru al-Qur’an di sini tiap bulan hanya menerima Rp. 150.000, jelas masih sangat kecil,” ungkap Feri.
Kondisi ekonomi ini membuat anak didik TPQ tidak bisa memiliki segaram.
Idealnya, menurut Feri, gedung TPQ nya bisa diperluas. Mengingat yang ada saat ini tidak mampu ditempati 50 anak. Kondisi terbatas ini sering membuat banyak siswa ribut karena kapasitasnya terlalu berlebihan.
Selaku dai di desa terpencil, kebutuhan keluarga Feri hanya mendapatkan bantuan dari BMH sebesar Rp 900 ribu. Padahal ia hidup bersama seorang istri, kedua orang tuanya dan dua adiknya.
Meski dalam kondisi seperti itu, Feri mengaku tetap bersemangat menekuni dakwah.
Menurut Kepala BMH Merauke Asdar, Feri termasuk satu-satunya dai yang mampu bertahan cukup lama di Kumbe. Dai-dai yang sebelumnya yang dikirim rata-rata memilih mundur secara teratur.
“Ini yang satu-satunya saya miliki, yaitu (semangat) iman. Kalau bukan pertolongan Allah di sini, mungkin saya sudah pergi meninggalkan Kumbe,” pungkasnya.*