Hidayatullah.com—Arab Saudi dan Amerika Serikat hari Kamis (20/10/2016) menjatuhkan sanksi atas sejumlah anggota dan penyandang dana Hizbullah, dengan tuduhan menyalurkan uang ke pada kelompok teroris asal Libanon itu.
Departemen Keuangan AS mengatakan pihaknya menarget empat individu dan satu perusahaan dengan membekukan aset-aset mereka yang ada di Amerika Seikat serta memblokir semua transaksi dengan mereka, seraya menambahkan bahwa tindakan yang sama dilakukan oleh Arab Saudi.
Selain itu, Departemen Luar Negeri AS juga memasukkan dalam daftar hitam komandan Hizbullah bernama Haytam Ali Tabatabai alias Abu Ali Al-Tabatabai, kata Depkeu AS dalam pernyataan yang dikutip AFP.
Departemen Luar Negeri Amerika Serikat menyatakan Hizbullah sebagai kelompok teroris pada tahun 1997 dan sejak itu Washington berupaya mengacaukan arus pendanaan kelompok bersenjata Syiah itu.
Didirikan di tahun 1980-an di Libanon, organisasi militan Syiah yang juga partai politik itu memberikan dukungan kepada rezim Syiah Damaskus pimpinan Bashar Al-Assad dalam konflik di Suriah sejak 2011.
“Hizbullah terus merencanakan, mengkoordinasikan dan melakukan serangan-serangan teroris di seluruh penjuru dunia, dan Depkeu akan terus secara agresif menarget Hizbullah beserta pihak-pihak yang mendukung aktivitas terorisnya,” kata Adam Szubin, pejabat sementara wakil menteri keuangan AS untuk urusan terorisme dan intelijen finansial dalam sebuah pernyataan.
Orang-orang Hizbullah yang dimasukkan dalam daftar hitam termasuk Muhammad Al-Mukhtar Kallas dan Hassan Jamal-al-Din, terduga kuat akuntan Hizbullah Adham Husayn Tabaja, serta Yosef Ayad dan Muhammad Ghaleb Hamdar, yang digambarkan sebagai anggota Organisasi Eksternal Keamanan Hizbullah perencana serangan-serangan di Thailand dan Peru.
Menurut Depkeu AS, Kallas dan Jamal-al-Din bekerja sama dengan Tabaja melakukan pengiriman uang tunai dalam jumlah sangat besar antara Libanon dan Iraq, serta memberikan bantuan kepada anggota-anggota Hizbullah lainnya yang termasuk dalam daftar hitam.
Depkeu AS juga memasusukkan dalam daftar hitam perusahaan Global Cleaners yang dikelola Tabaja, yang kabarnya telah memenangi kontrak sanitasi di Baghdad, Iraq.
Arab Saudi telah menyatakan Kallas, Jamal-al-Din dan Global Cleaners dalam daftar teroris, membekukan aset-aset mereka dan melarang pemberian izin komersial apapun kepada orang-orang tersebut.*