Hidayatullah.comHidayatullah.comHidayatullah.com
Pemberitahuan Lebih Banyak
Font ResizerAa
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Font ResizerAa
Hidayatullah.comHidayatullah.com
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Pencarian
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Internasional

Pilot Korban Investigasi WTC Gugat FBI

Admin Hidcom
Terakhir diupdate: 17 September 2003 11:46 11:46 am
Admin Hidcom
Dipublikasikan 17 September 2003 11:46
Bagikan
Bagikan

Hidayatullah.com–Raissi memang tidak berada di New York saat menara kembar WTC diledakkan oleh bom bunuh diri pada 11 September 2001. Namun, kejadian tersebut telah menghancurkan kehidupan dan cita-citanya setelah FBI melakukan kesalahan investigasi dengan menudingnya sebagai pelatih para pembajak yang meledakkan WTC saat itu.

“Sebelumnya, saya berharap bisa menghidupi diri saya di AS (dengan menjadi pilot). Namun, AS bersama polisi dan penuntut Inggris telah menghancurkan kehidupan saya. Dan, mereka tidak pernah meminta maaf,” katanya seperti yang dikutip The Times.

Pengacara Raissi, Jules Carey, mengungkapkan bahwa keluarganya telah menghabiskan banyak uang untuk mendukung pendidikannya sebagai pilot. Namun, setelah kejadian tersebut, dia tidak bisa bekerja lagi dalam profesi yang dipilihnya. “Saat kecil, saya terus bermimpi menjadi pilot. Yang ingin saya lakukan adalah menerbangkan pesawat. Ironisnya, impian saya berubah menjadi mimpi buruk dalam kehidupan,” tegasnya.

Dengan dasar itu, Raissi mengajukan klaim USD 10 juta (sekitar Rp 85 miliar) kepada Departemen Kehakiman AS dan FBI. Pengacara Raissi di Los Angeles, Paul Hoffman, menegaskan bahwa kliennya akan mengajukan tuntutan jika klaim tersebut diabaikan. Sampai kemarin, belum ada jawaban dari kedua lembaga itu atas klaim yang diajukan pada Jumat lalu.

Carey menambahkan, Raissi mengajukan klaim atas kesalahan penangkapan, kesalahan penahanan, prosekuis yang kejam, proses yang sewenang-wenang, dan tekanan emosi yang membahayakan. Dan, semua itu dia alami hanya karena kebetulan dirinya adalah seorang muslim. “Itu merupakan reaksi spontan biasa AS. Mereka menemukan seorang muslim Aljazair yang menjadi instruktur penerbangan dan melihatnya sebagai alasan yang kuat untuk mengaitkannya dengan insiden tersebut,” ungkap pengacara itu seperti yang dikutip The Times.

Baca Juga

Saudi Tak Akan Jalin Diplomatik dengan Penjajah, tanpa Negara Palestina
Masjidil Haram Dinodai Ponsel dan Kamera
Vatikan Selidiki Kabar Pesta Seks di Katedral Inggris
Muslim Yunani Khawatir Pihak Berwenang akan Hapus Jejak Utsmaniyyah di Trakia
Hujan Tidak Turun karena Wanita Iran Tidak Berhijab

Lelaki yang kini berusia 29 tahun tersebut ditangkap di rumahnya di dekat Bandara Heathrow, London, 21 September 2001. Dia dituduh menjadi instruktur pembajak yang menjadi pilot pesawat komersial yang kemudian ditabrakkan ke WTC dan Pentagon.

Menurut versi FBI, dia bersama Hani Hanjour melatih para pembajak itu di sekolah penerbangan di Arizona. Tudingan tersebut didasarkan pada beberapa informasi yang menyebutkan bahwa dia sempat terlihat bersama Ziad Jarrah yang diidentifikasi sebagai salah seorang pembajak United Airlines Flight 93 yang ditabrakkan di Pennsylvania.

Kasus tersebut ditolak pengadilan Inggris karena tidak ditemukan bukti soal tudingan terorisme yang diarahkan kepadanya. AS sempat meminta Inggris mengektradisinya untuk kepentingan penyidikan. Namun, tanpa alasan jelas, permohonan itu dibatalkan.

Dalam sebuah wawancara saat sidang di Inggris, Raissi mengungkapkan bahwa kejadian yang dialaminya disebabkan kesalahan AS dan Inggris dalam memandang dirinya sebagai muslim. “Saya seorang pilot. Saya bangga menjadi muslim. Tapi, itu bukan berarti kejahatan, kan?” katanya.

Dia lantas menegaskan bahwa keluarganya di Aljazair sangat membenci terorisme. “Sebab, sepuluh tahun terakhir, keluarga saya menjadi korban terorisme,” ujarnya.

Kepada wartawan, waktu itu Raissi menggunakan ungkapan-ungkapan keras. “Jika seorang pejahat (yang kebetulan muslim) membajak pesawat, bukan berarti semua muslim harus menghadapi tuduhan yang sama,” tegasnya.

Menurut dia, dirinya telah menjadi korban hanya karena kebetulan berkebangsaan Aljazair dan beragama Islam. “Saya menjadi korban kekejian peristiwa 11 September,” ujarnya. (afp/jp)

Redaktur: Admin Hidcom
Bantu kami terus menyuarakan kebenaran!

Scan QRIS dan dukung #Journalism4Ummah

donasi online
Bagikan tulisan ini
Facebook Whatsapp Whatsapp Telegram Email Salin tautan Print
Tulisan sebelumnya Kecaman Kasus Penculikan Aktivis Islam Terus Berdatangan
Tulisan selanjutnya NU-Muhammadiyah Jatim: Ramadhan Mulai 27 Oktober

Ikuti Kami

1.2KLike
89KFollow
27.8KFollow
222KSubscribe
Ad image
Ad image

Terpopuler

Berita

Masjid Perlu Dikondisikan sebagai Tempat Berkumpul Anak Muda

Berita
4 Agustus 2026 05:00
Buku Pemikiran KH Ma’ruf Amin Diluncurkan, Ajak NU Tetap Berpegang pada Fikrah, Manhaj, dan Harakah
Perbaiki Kepengasuhan Pesantren, Muhammadiyah Bekali Musyrif dengan Keterampilan Psikologi Remaja
Waketum MUI Marsudi Syuhud Siap Maju sebagai Calon Ketum PBNU
152 Warga Palestina Syahid pada Juli, Tertinggi Tahun Ini

Terbaru

  • Otoritas Amerika Selidiki Insiden Helikopter Marine One Trump Nyaris Tabrakan dengan Pesawat Sipil
  • Pemerintahan Baru Kolombia Pulihkan Hubungan dengan ‘Israel’
  • Ajak Bersatu Dukung Palestina, Indonesia: ‘Israel’ Selalu Manfaatkan Perpecahan
  • Libanon, Israel Susun Daftar Negara Mana yang Bisa Kirim Pasukan Pantau Perlucutan Senjata Hizbullah
  • Paus Leo XIV akan Bertemu Penyintas Korban Pencabulan Pendeta di Prancis
  • Sepekan Tiga Kapal Tanker Uni Emirat Dihatam Misil dan Drone di Selat Hormuz
  • Atasi Suhu Udara Panas Warga Korea Utara Diimbau Makan Sup Daging Anjing
  • Pilot Malaysia Airlines yang Ditangkap di Jakarta Membawa Narkoba Tidak Menerbangkan Pesawat, Kata Malaysia Aviation Group
  • Kepala Intelijen Saudi di Baghdad Bahas Keamanan Regional dengan PM Iraq
  • Membangun Ketahanan Mental dengan Nilai-Nilai Al-Qur’an

Mungkin Anda Juga Suka

Internasional

Potret Pasukan Khusus Wanita Arab Saudi yang Akan Jaga Keamanan Umrah dan Haji

13 Januari 2023 15:00
Internasional

Mayoritas Muslim, Kota di AS Ini Perbolehkan Penyembelihan Hewan untuk Qurban

13 Januari 2023 07:00
Bendera LGBT AS
Internasional

Politisi Republikan AS Ajukan UU yang Melarang Pengibaran Bendera LGBT dan BLM

13 Januari 2023 05:01
Internasional

Muslimah India Berprestasi Ini Harus Pindah Sekolah Demi untuk Tetap Berhijab

12 Januari 2023 19:30
Hidayatullah.comHidayatullah.com
Follow US
Copyright 2023 © Hidayatullah.COM
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Informasi Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Indeks
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lupa password?