Hidayatullah.comHidayatullah.comHidayatullah.com
Pemberitahuan Lebih Banyak
Font ResizerAa
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Font ResizerAa
Hidayatullah.comHidayatullah.com
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Pencarian
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Internasional

Pejabat Kurdi Suriah: Jihadi Jack Didakwa Sebagai Anggota ISIS

Ama Farah
Terakhir diupdate: 28 Oktober 2017 21:49 9:49 pm
Ama Farah
Dipublikasikan 28 Oktober 2017 21:49
Bagikan
Kiri: John Letts dan istri. Kanan: Jihadi Jack.
Bagikan

Hidayatullah.com—Seorang pria berusia 21 tahun asal Oxford, Inggris, dijerat dakwaan sebagai anggota kelompok bersenjata yang menamakan dirinya Negara Islam, alias ISIS/ISIL aliash Daesh, kata pejabat dari wilayah Kurdi di Suriah.

Jack Letts, yang dijuluki sebagai “Jihadi Jack”, pergi ke Suriah pada tahun 2014 dan kemudian ditangkap oleh pasukan Kurdi YPG –kelompok militan Kurdi Suriah yang memerangi ISIS– ketika dia meninggalkan wilayah pendudukan ISIS.

Pejabat Kurdi Suriah mengatakan kepada wartawan BBC bahwa Jack Letts ditangkap pada bulan Mei 2017.

Letts sebelumnya pernah mengatakan menentang ISIS, lapor BBC Sabtu (28/10/2017).

Sebuah pernyataan yang diberikan kepada BBC dari Democratic Federation of Northeren Syria (DFNS), kawasan otonomi yang dideklarasikan sendiri oleh kelompok Kurdi Suriah, mengatakan Letts telah dibawa ke penjara di Qamishli, Rojava, bagian utara Suriah.

Baca Juga

Saudi Tak Akan Jalin Diplomatik dengan Penjajah, tanpa Negara Palestina
Masjidil Haram Dinodai Ponsel dan Kamera
Vatikan Selidiki Kabar Pesta Seks di Katedral Inggris
Muslim Yunani Khawatir Pihak Berwenang akan Hapus Jejak Utsmaniyyah di Trakia
Hujan Tidak Turun karena Wanita Iran Tidak Berhijab

DFNS mengatakan kasusnya masih dalam penyelidikan oleh kepolisian lokal DFNS yang dikenal sebagai Asayish.

Kabar ini menandai untuk pertama kalinya pasukan Kurdi mengkonfirmasi penangkapan Letts sebagai tahanan perang.

Jack Letts pindah agama memeluk Islam saat masih menjadi pelajar di Sherwell, Oxford.

Dia bepergian ke Yordania pada 2014, ketika berusia 18 tahun, setelah mencampakkan begitu saja statusnya sebagai pelajar level A (pelajar yang mengejar nilai akademik terbaik agar mudah masuk perguruan tinggi). Pada musim gugur tahun yang sama, dia sudah berada di wilayah yang dikuasai ISIS di Suriah.

Letts kemudian menikah di Iraq dan kini memiliki seorang anak.

Orangtuanya membantah bahwa Letts pergi ke Suriah untuk bertempur bersama pasukan ISIS. Mereka membuat petisi yang menyebutkan bahwa putranya itu “menghilang di sebuah lokasi hitam seperti Guantanamo” di kawasan yang dikuasai pasukan Kurdi.

Sally Lane dan John Letts mengatakan bahwa sejak bulan Juli mereka tidak mendapatkan konfirmasi bahwa putranya masih hidup.

Mereka melakukan mogok makan selama seminggu sebagai protes, menuding pemerintah Inggris tidak berbuat cukup untuk membantu putranya tersebut.

Namun, Sinam Mohammad, perwakilan Eropa dari DFNS, membantah keras klaim orangtua Letts itu.

Dia mengatakan kepada BBC bahwa lembaga peradilan DFNS menghormati hukum HAM internasional dan memperlakukan Letts sesuai dengan Konvensi Jenewa dan standar HAM internasional.

“Kami membantah keras semua tuduhan tidak berdasar ini,” kata wanita itu.

Dalam pernyataannya Sinam Mohammad mengatakan, “Kebijakan Democratic Federation of Northern Syria terkait tahanan perang jelas dan adil.”

“ISIS mendatangkan kengerian teror yang sulit untuk digambarkan kepada rakyat di Suriah bagian Utara/Rojava… Meskipun faktanya demikian, DFNS tidak kurang komitmenya di banding negara-negara Eropa dalam memperlakukan pelaga-pelaga dari kelompok teror ini sesuai dengan standar HAM internasional,” tegasnya.

Pejabat-pejabat Kurdi Suriah mengatakan bahwa orangtua Jack Letts sebelumnya mengirim surat kepada pimpinan Asayish perihal kemungkinan penyerahan Jack ke pihak berwenang Kanada.

Jack Letts, yang ayahnya orang Kanada, juga memiliki paspor Kanada.

Pejabat Kurdi Suriah mengatakan, dalam surat tersebut orangtua Letts menulis, “Kami memahami bahwa Asayish harus menahan dan menanyai siapa saja yang mereka yakini kemungkinan terlibat dalam kekerasan atau aktivitas ekstrimis… Kami juga menerima jika Jack perlu dipindahkan ke tahanan Kanada untuk ditanyai dan mungkin juga akan ditahan setibanya di Kanada. Jika dia telah melakukan kejahatan apapun, kami yakin dia harus menghadapi pengadilan dan menjelaskan tindakan-tindakan yang telah dilakukannya.”

Lebih lanjut surat itu mengatakan, “Kami bersedia bekerja sama dengan Asayish dan pihak Kanada untuk membantu menyelesaikan masalah ini dengan tenang dan sesegera mungkin.”

Pernyataan dari DFNS itu untuk pertama kalinya menjelaskan situasi terkait kemungkinan penyerahan Jack Letts kepada pihak berwenang Inggris atau Kanada.

“Jack Letts sekarang sedang dalam penyelidikan oleh unit anti-teror lokal dan global… Begitu penyelidikannya rampung, hasilnya akan dikomunikasikan kepada orangtua Jack dan perwakilan hukumnya dan kepada para pejabat pemerintah terkait,” tulis pernyataan dari pihak Kurdi Suriah.

“Oleh karena itu, kami meminta orangtua Jack Letts dan perwakilan hukumnya untuk meminta kepada pemerintah Inggris dan Kanada agar secara resmi membuat permohonan ke pejabat DFNS perihal penyerahan Jack Letts sehingga penyerahannya akan ditindaklanjuti secara resmi.”

“Akan tetapi, sejauh ini belum ada permintaan resmi baik dari pemerintah Kanada ataupun Inggris,” imbuh pernyataan itu.

Awal pekan ini, Rory Stewart, menteri Inggris untuk urusan pembangunan internasional, mengatakan bahwa orang-orang “yang menimbulkan bahaya serius terhadap bangsa kita” dalam kebanyakan kasus solusinya adalah membunuh mereka.

Akan tetapi, Menteri Keamanan Ben Wallace sebelumnya kepada BBC mengatakan bahwa pemerintah Inggris lebih memilih para tersangka anggota ISIS/ISIL aliash Daesh dipulangkan ke Inggris untuk menghadapi sidang peradilan.

“Kami sudah memiliki rencana dan siap menghadapi resiko yang dibawa oleh orang-orang Inggris yang pulang setelah Daesh ditaklukkan,” kata Wallace.

“Tujuan kami adalah mengadili mereka, tetapi hal itu tidak langsung bisa dilakukan begitu aja,” imbuhnya.

Kedua orangtua Jack Letts sudah menyatakan dirinya tidak bersalah dalam dakwaan pendanaan terorisme yang dikenai atas mereka. Keduanya didakwa mengirimkan uang kepada putranya yang bergabung dengan kelompok teror.

Pengacara mereka menolak untuk memberikan komentar, lapor BBC.

Sementara itu Kementerian Luar Negeri mengatakan, “Pemerintah tidak dapat memberikan dukungan untuk warga Inggris yang berada di Suriah, sebab pemerintah Inggris tidak memiliki perwakilan konsuler di sana.”*

Redaktur: Ama Farah
Bantu kami terus menyuarakan kebenaran!

Scan QRIS dan dukung #Journalism4Ummah

donasi online
Bagikan tulisan ini
Facebook Whatsapp Whatsapp Telegram Email Salin tautan Print
Tulisan sebelumnya Ratusan Kilo Bahan Pembuat Heroin Disita di Perbatasan Turki
Tulisan selanjutnya Alumni BEM Berbagai Kampus Lintas Generasi Kecam Penangkapan Mahasiswa

Ikuti Kami

1.2KLike
89KFollow
27.8KFollow
222KSubscribe
Ad image
Ad image

Terpopuler

Global Sumud FLotilla
Berita

Prancis Minta Pelecehan Terhadap Aktivis Gaza Flotilla oleh Israel Diselidiki

Berita
30 Mei 2026 09:51
Israel, Russia Dimasukkan Daftar Hitam Kekerasan Seksual PBB
Tak Ada Donatur yang Menyumbang, Board of Peace ala Trump Terancam Gagal
‘Israel’ Beri Keringanan Pajak bagi Permukiman Ilegal Yahudi di Tepi Barat
Kerbau Donald Trump Batal Disembelih karena Alasan Keamanan

Terbaru

  • Survei Terbaru Ungkap Mayoritas Masyarakat Dunia Tak Menyukai Israel
  • Polisi ‘Israel’ Rekrut Aktivis Zionis untuk Perkuat Kehadiran Yahudi Masjidil Aqsha
  • ‘Israel’ Beri Keringanan Pajak bagi Permukiman Ilegal Yahudi di Tepi Barat
  • Genosida ‘Israel’ di Gaza: Jumlah Warga Palestina Hilang Tembus 9.500 Orang
  • Turki Tegaskan Komitmennya untuk Perkuat Keuangan Syariah
  • Fatah Tunjuk Hussein al-Sheikh Jadi Wakil Mahmoud Abbas
  • ‘Israel’ Klaim Penjualan Senjata ke Negara Arab Melonjak Tajam, Banyak yang Beli Diam-Diam
  • Turki Siapkan Proyek Kereta Hijaz sebagai Alternatif Selat Hormuz
  • Harga Obat Terancam Naik, DPR Minta Perlindungan untuk Pasien Penyakit Kronis
  • Bantah Menolak Lepas Kendali Gaza, Hamas: Kebohongan ‘Israel’

Mungkin Anda Juga Suka

Internasional

Potret Pasukan Khusus Wanita Arab Saudi yang Akan Jaga Keamanan Umrah dan Haji

13 Januari 2023 15:00
Internasional

Mayoritas Muslim, Kota di AS Ini Perbolehkan Penyembelihan Hewan untuk Qurban

13 Januari 2023 07:00
Bendera LGBT AS
Internasional

Politisi Republikan AS Ajukan UU yang Melarang Pengibaran Bendera LGBT dan BLM

13 Januari 2023 05:01
Internasional

Muslimah India Berprestasi Ini Harus Pindah Sekolah Demi untuk Tetap Berhijab

12 Januari 2023 19:30
Hidayatullah.comHidayatullah.com
Follow US
Copyright 2023 © Hidayatullah.COM
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Informasi Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Indeks
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lupa password?