Hidayatullah.comHidayatullah.comHidayatullah.com
Pemberitahuan Lebih Banyak
Font ResizerAa
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Font ResizerAa
Hidayatullah.comHidayatullah.com
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Pencarian
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Ilahiyah Finance

From Common Failure to No Single Point of Failure

Admin Hidcom
Terakhir diupdate: 15 Maret 2018 21:04 9:04 pm
Admin Hidcom
Dipublikasikan 15 Maret 2018 21:04
Bagikan
Distributed Waste Handling
Bagikan

Oleh: Muhaimin Iqbal

 

SEBUAH kota kecil di pinggiran Jakarta, kemarin kota ini menjadi berita nasional di Republika (13/3/2018). Bukan karena keberhasilannya, tetapi karena kegagalannya dalam mengelola sampah.

Di area pembuangan sampah kota itu yang seluas 10.8 ha, sampah sampai menggunung setinggi 30 meter – yang bila longsor bisa mengubur siapa saja yang beraktivitas di area tersebut. Tetapi kegagalan semacam ini bukan particular kota ini, bahkan saya belum melihat ada satu kota-pun di negeri ini yang berhasil menangani sampah dengan baik.

Maka saya sebut seluruh kota-kota di negeri ini memiliki Common Failure (CF) yang sama, yaitu seluruhnya gagal mengelola sampah. Mengapa demikian?, karena cara penanganannya yang kurang lebih sama – di seluruh kota sama . Sampah di pool di suatu tempat, kemudian di pool di tempat lain yang lebih besar dan akhirnya di pool yang paling besar yang disebut Tempat Pembuangan Akhir atau TPA.

Baca Juga

Indonesia Masuk Peringkat Dunia dalam Keuangan Syariah, Perlu Pembenahan Kurikulum Lebih Baik
Cashback yang di Tawarkan Go-pay dan OVO, Haramkah?
Industri Pertanian Zaman Nabi
Makanan Yang Membuat Tidak Miskin
Industry 0.0

Dalam perjalanannya sampah semakin membusuk dan semakin berat untuk dihandle. Sampah yang ditangani secara tersentralisir atau paling banter terdesentralisir – tetap mengumpul di suatu tempat – inilah yang menjadi penyebab kegagalan penanganan sampah.

Lantas bagaimana seharusnya sampah dihandle? Sampah harus dihandle secara terdistribusi in situ, sampah dihandle secepat dia muncul sedekat mungkin dengan tempat kemunculannya. Kalau tidak bisa per rumah tangga, paling banter satu komplek atau satu blok perumahan/perkantoran harus bisa handle sampahnya sendiri.

Baca: Sampah Orang Skandinavia Lebih Banyak Dibanding Orang Eropa

Tidak ada sampah yang boleh keluar komplek atau blok perkantoran. Kalau toh harus kebauan sampah – maka yang paling berhak adalah warga dari komplek atau blok perkantoran it sendiri.

Ini hukuman bagi warga setempat yang tidak berhasil menghadle sampahnya masing-masing. Kalau sampah dipindahkan ke tempat lain, tidak adil bagi orang lain yang daerahnya menjadi TPA tersebut.

Masyarakat kita bisa menjadi masyarakt lebah bila mau, yaitu tidak ada ang keluar dari diri atau saranng/komplek perumahan/perkantorannya kecuali kebaikan – sesuatu yang berguna bagi orang lain, bukan musibah bagi orang lain. Ini yang juga dalam ilmu fiqih disebut prinsip La Darar Wa La Dirar, tidak boleh menimbulkan bahaya atau membahayakan orang lain.

Lantas apa yang akan mendorong warga mau handle sampahnya sendiri? Natural reward and punishment adalah yang paling baik, agar pemerintah daerah juga tidak usah repot-repot membuat peraturan dan mengeluarkan dana sekian banyak untuk ngurusi sampah saja.

Rewardnya adalah masyarakat komplek yang bisa menghadle sampahnya sendiri dengan baik, mereka bukan hanya bisa menghilangkan bau di kompleknya. Tetapi kompleknya bisa menghasilkan energi baru terbarukan (EBT) dari sampah itu sendiri.

EBT ini bisa berupa arang, bio-oil maupun syngas – yang secara keseluruhan prosesnya disebut Pyrolysis, insyaAllah mesin-mesinnya bisa kita buat sendiri.

Baca: Inggris Pusing China Larang Impor Sampah Plastik

Punishment-nya ya itu tadi, komplek yang tidak bisa menghadle sampahnya sendiri – biarlah warga komplek itu sendiri yang merasakan akibatnya, yaitu mencium bau sampahnya sendiri – sampai mereka bisa mengatasinya. Dengan hukuman semacam ini, mau-tidak mau warga komplek akan berusaha mengatasinya bersama.

Ini akan melahirkan sikap masyarakat yang bertanggung jawab, bahwa it is our problem – not PEMDA problem! Kita yang harus mengatasi masalah kita, bukan dinas kebersihan kota yang makin hari makin banyak tetapi tidak cukup juga menangani sampah warga kotanya.

Distributed Waste Handling

Lantas dimana No Single Point of Failure (NSPoF) nya? Bayangkan setelah masyarakat suatu komplek bisa mengatasi problem sampahnya, dan mereka mendapatkan surplus energy yang bisa dijual untuk membiayai perbagai kegiatan komplek – bukankah ini akan menjadi peluang bila ada tetangga komplek yang gagal mengatasi sampahnya? Inilah sistem terdistribusi yang bisa diterapkan pada pengelolaan sampah-sampah kita.

Komplek-komplek yang gagal akan menjadi pasar menarik bagi komplek-komplek yang berhasil, bisa menjadi outsource untuk penanganannya. Ketika menjadi liability, semua orang tidak mau menerimanya. Tetapi ketika dia menjadi bahan baku yang dengan mudah diubah menjadi asset yang bernilai tinggi – energi masa depan yang renewable  ketika energi fosil semakin menipis, pasti orang akan berebut untuk mengolah potensial asset ini.*

Penulis adalah Direktur Gerai Dinar

Redaktur: Admin Hidcom
Bantu kami terus menyuarakan kebenaran!

Scan QRIS dan dukung #Journalism4Ummah

donasi online
TAG:Common Failureenergimengelola sampahSampahSingle Point of Failure
Bagikan tulisan ini
Facebook Whatsapp Whatsapp Telegram Email Salin tautan Print
Tulisan sebelumnya Kemenag: Cadar Tidak Boleh Dilarang
Tulisan selanjutnya Muslimat Dewan Da’wah Gelar Pelatihan Bisnis Keripik Singkong

Ikuti Kami

1.2KLike
89KFollow
27.8KFollow
222KSubscribe
Ad image
Ad image

Terpopuler

Berita

Malaysia Resmi Batasi Media Sosial Anak, Siapkan Denda Rp45 Miliar bagi Pelanggar

Berita
2 Juni 2026 18:00
Harga Obat Terancam Naik, DPR Minta Perlindungan untuk Pasien Penyakit Kronis
Bantah Menolak Lepas Kendali Gaza, Hamas: Kebohongan ‘Israel’
Turki Tegaskan Komitmennya untuk Perkuat Keuangan Syariah
Irlandia Bakal Larang Impor dari Permukiman ‘Israel’ Mulai Pertengahan Juli

Terbaru

  • Turki Tegaskan Komitmennya untuk Perkuat Keuangan Syariah
  • Fatah Tunjuk Hussein al-Sheikh Jadi Wakil Mahmoud Abbas
  • ‘Israel’ Klaim Penjualan Senjata ke Negara Arab Melonjak Tajam, Banyak yang Beli Diam-Diam
  • Turki Siapkan Proyek Kereta Hijaz sebagai Alternatif Selat Hormuz
  • Harga Obat Terancam Naik, DPR Minta Perlindungan untuk Pasien Penyakit Kronis
  • Bantah Menolak Lepas Kendali Gaza, Hamas: Kebohongan ‘Israel’
  • Bachtiar Nasir: Pesantren Hadapi Ujian Besar Kepercayaan Publik di Era Digital
  • Ekonomi Syariah Global Tembus USD 8,6 Triliun, Indonesia Harus Naik Kelas Jadi Produsen Utama
  • Presiden Erdogan Kini Punya 10 Cucu, Kabar Bahagia Datang dari Keluarga Presiden Turki
  • Hampir 135 Ribu Jamaah Indonesia Salurkan Dam Lewat Adahi, Daging Diprioritaskan untuk Palestina

Mungkin Anda Juga Suka

Ilahiyah Finance

Probiotic Food dan Prophetic Food

17 Juni 2020 08:00
Ilahiyah Finance

Syirkah “Orang-Orang Miskin”

11 Februari 2019 20:49
Hamas bitcoin
Ilahiyah Finance

Halal Haram Uang Kripto

11 Desember 2018 08:15
Ilahiyah Finance

Golden Balance: Financing the Needy

15 Agustus 2018 13:21
Hidayatullah.comHidayatullah.com
Follow US
Copyright 2023 © Hidayatullah.COM
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Informasi Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Indeks
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lupa password?