Hidayatullah.comHidayatullah.comHidayatullah.com
Pemberitahuan Lebih Banyak
Font ResizerAa
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Font ResizerAa
Hidayatullah.comHidayatullah.com
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Pencarian
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Oase Iman

Memberantas Hoax Dimulai dari Elit Politik

Admin Hidcom
Terakhir diupdate: 10 Oktober 2018 16:56 4:56 pm
Admin Hidcom
Dipublikasikan 10 Oktober 2018 16:56
Bagikan
Bagikan

AKHIR zaman ditandai oleh menyebarnya banyak kebohongan, kedustaan atau hoax. Sabda nabi:

يَكُونُ فِي آخِرِ الزَّمَانِ دَجَّالُونَ كَذَّابُونَ، يَأْتُونَكُمْ مِنَ الْأَحَادِيثِ بِمَا لَمْ تَسْمَعُوا أَنْتُمْ، وَلَا آبَاؤُكُمْ، فَإِيَّاكُمْ وَإِيَّاهُمْ، لَا يُضِلُّونَكُمْ، وَلَا يَفْتِنُونَكُمْ

“Akan muncul di akhir zaman para Dajjal, Pembohong yang mendatangkan kepada kalian hadis-hadis yang kalian sendiri tidak pernah mendengarnya, demikian pula bapak-bapak kalian. Jauhkanlah diri kalian dari mereka dan upayakan agar mereka menjauhi kalian. Jangan sampai mereka menyesatkan kalian dan menggelincirkan kalian ke dalam fitnah.” (HR. Muslim)

Dalam hadits tersebut, disebut kata “dajjāl” dan “kadzdzāb”, yang berarti banyak berdusta, Ini menunjukkan betapa kebohongan sudah begitu massif. Sebelum dajjal asli datang, memang terdapat tanda-tanda jelas yang mengiringinya: banyak tipuan, orang jujur didustakan, pembohong dibenarkan, orang amanah dianggap khianat dan yang khianat dianggap amanah. (HR. Ahmad)

Dalam kondisi yang penuh hoax dan ketidakjelasan tersebut, muncullah orang yang disebut “Ruwaibidhah” yaitu orang yang pandir serta tidak memiliki kualifikasi keahlian tapi berbicara banyak hal yang tak dikuasinya. Akibatnya, banyak sekali orang yang disesatkan akibat ulahnya.

Baca Juga

Masihkah Bisa Tersenyum Saat Al-Aqsha Terjajah?
Khutbah Jum’at: Saat Masjid Al-Aqsha Ternoda, Apa Masih Ada Nyala Iman di Dada?
Khutbah Jum’at: Ramadhan Berlalu, Amal Tetap Kontinu
Khutbah Idul Fitri 1447 H : Deklarasi Kemenangan Hati di Tengah Riuhnya Kesalehan Visual
Khutbah Jumat: Mengisi Rajab dengan Muhasabah, Amal dan Puasa

Baca: 3 Cara Selamat dari Berita Bohong 

Di era digital seperti saat ini, khususnya dalam negeri, terlebih sejak kran kebebasan reformasi terbuka lebar, hoax laksana air bah yang menghantam jagat media. Perbedaan haluan politik atau apapun bisa melahirkan hoax–hoax yang destruktif.

Bayangkan! Misalnya, adanya bencana –seperti di Lombok dan Palu– bukan malah dijadikan evaluasi bersama untuk berbenah dan membantu saudara, malah ada yang memanfaatkannya untuk keuntungan pribadi dengan menyebar berita hoax yang meresahkan masyarakat.

Persoalan ini mengimbas hampir pada segenap lapisan masyarakat. Dalam ranah sosial terjadi krisis tabayyun. Budaya asal share yang fasilitasnya tersedia di berbadai aplikasi media sosial menyeruak begitu saja tanpa ada klarifikasi. Yang penting diri, kelompok atau dukungannya senang, maka masa bodoh dengan tabayyun.

Terlebih, dalam dunia perpolitikan nasional, khususnya menjelang Pilpres, masing-masing dari kubu –bisa saja—terutama pendukung fanatic, memproduksi hoax demi kepentingan pihak yang didukung. Ini bukan berarti semua politisi itu suka menyebar hoax, namun lebih kepada fakta di lapangan yang menunjukkan seringkali perbedaan pendapat atau pandangan dijustifikasi dengan hoax.

Kasus baru-baru ini yang mengguncang media terkait hoax aktivis bernisial RS, adalah bukti bahwa hoax begitu subur, terutama bila menyangkut masalah politik. Dari sini, penulis berpikir bahwa jika mau memberantas hoax, maka –disamping peran aktivitas individu– harus dimulaik dari para elit atau tokoh-tokoh politik. Jika mereka berada di garda depan dalam memberi keteladanan untuk tidak menyebar hoax dengan menyiapkan berbagai sarana dan prasarananya, maka masyarakat bisa meneladaninya.

Persoalan hoax ini sejatinya harus ditangani dan ditangkal secara bersama-sama. Menarik sekali apa yang ditulis oleh Lukman Hakiem dalam buku “Merawat Indonesia: Belajar dari Tokoh Peristiwa” (2017: 101, 102) Dulu, di tahun 1955, pimpinan PKI dan Masyumi bersama-sama menanggulangi berita bohong (hoax) yang berujung bentrok fisik.

Alkisah, pada tahun itu (1955) di Jawa Barat, ada orang Masyumi yang meninggal dalam keadaan yang mencurigakan. Kabar burung, desas-desus di masyarakat dengan cepat menyebar luas bahwa kematian orang Masyumi itu dikaitkan dengan oknum PKI. Ironisnya, berita yang belum tentu benar itu diekspos sedemikian oleh media yang membuat suasana semakin panas.

Baca:   Banyak Berita Hoax, Jadilah Insan yang Menahan Diri

Menanggapi tuduhan itu, PKI langsung mengirim utusan kepada Pimpinan Masyumi Jawa Barat dan Bandung (Rusjad Nurdin dan Suriatmadja). Kemudian kedua partai ini melakukan penyelidikan bersama-sama. Ternyata, menurut petunjuk pemeriksaan awal, korban meninggal itu bukan akibat pembunuhan tapi mati normal.

Setelah diadakan tabayyun dan klarifikasi secara baik oleh para pemimpin parta politik, masalah desas-desus yang dipropagandakan media itu akhirnya bisa teratasi. Dan konflik antara pengikut keduanya pun bisa dihindarkan dengan baik.

Dari contoh sejarah itu, penulis membayangkan, jika para elit politik dan tokoh bangsa negeri ini bersama-sama bersinergi untuk memberantas hoax dengan memberi keteladanan yang baik berawal dari diri mereka sendiri, kemudian tak turut menyebarkan berita hoax demi keuntungan pribadi, lalu disediakan sarana dan prasarana anti hoax yang disosialisasikan kepada masyarakat secara berkesinambungan, niscaya hoax tak menggurita di negeri ini. Minimal, masing-masing masyarakat punya kesadaran dan filter terhadap merebaknya berita-berita hoax (bohong).

Ada pribahasa menarik terkait kebohongan yang diangkat oleh Ahmad Mahmud Faraj dalam “Belajar Bersahabat: Petunjuk Nabi Agar Menjadi Pribadi Menarik dan Menyenangkan” (2013:139) yang bisa direnungkan, “Orang yang senang menyusu pada kebohongan, dia akan sulit menyapih dirinya.”*/Mahmud Budi Setiawan

Redaktur: Admin Hidcom
Bantu kami terus menyuarakan kebenaran!

Scan QRIS dan dukung #Journalism4Ummah

donasi online
TAG:berita bohongfake newshoaxtabayuntabayyun
Bagikan tulisan ini
Facebook Whatsapp Whatsapp Telegram Email Salin tautan Print
Tulisan sebelumnya Pengiriman Bahan Bakar dari Qatar untuk Gaza Telah Tiba
Tulisan selanjutnya Dillon Danis, Penyebebab Khabib Nurmagomedov Melompat Keluar Oktagon

Ikuti Kami

1.2KLike
89KFollow
27.8KFollow
222KSubscribe
Ad image
Ad image

Terpopuler

Berita

Ormas Islam Tolak Kehadiran PM India ke Indonesia, Soroti Dugaan Pelanggaran HAM terhadap Muslim

Berita
6 Juli 2026 20:46
Dialog Manhaj Aqidah Muhammadiyah: Asy’ari Bagian dari Ahlus Sunnah
PBNU Tetapkan PP Bahrul Ulum Jombang Lokasi Muktamar Ke-35 NU
Perang Abadi Sistem Imun di Balik Keindahan Tato
Ledakan di Damaskus Dekat Hotel Presiden Prancis Menginap,18 Orang Terluka

Terbaru

  • Pejabat Libanon Konfirmasi Keikutsertaan Negaranya dalam Pembicaraan dengan Israel di Roma
  • Laporan Pesawat Kepresidenan AS Hadiah Qatar Bermasalah Berujung Pemanggilan Jurnalis New York Times
  • Mojtaba Khamenei Janji akan Menuntut Balas Kematian Ayahnya
  • Dua Anggota Basij Tewas Dalam Serangan di Mashhad Iran
  • Jepang Berhasil Meluncurkan dan Mendaratkan Roket Guna Ulang
  • Amerika Serikat Menjatuhkan Sanksi Baru Berkaitan Iran Menyusul Serangan di Selat Hormuz
  • PM Pakistan Desak Presiden Iran untuk Memelihara Kesepakatan Damai yang Sudah Payah Diupayakan
  • Korea Utara Bertekad Membangun Kekuatan Nuklir dan Memperluas Peran Intelijen Militer
  • Israel Bagikan Informasi Intelijen tentang Rencana Baru Iran untuk Membunuh Trump
  • Aparat Pakistan Bunuh 75 Pemberontak Menyusul Serangan Beruntun di Balochistan

Mungkin Anda Juga Suka

Oase Iman

Khotbah Jumat: Islam Menentang Aksi Premanisme

8 Mei 2025 13:08
Oase Iman

Khutbah Jumat: Hormat kepada Ulama, Santun kepada Sesama

24 April 2025 18:21
Oase Iman

Khutbah Jumat: Waspadai Faktor Penggagal Fatwa Jihad PalestinaL: Diri Kita Sendiri!

11 April 2025 07:28
Oase Iman

Khutbah: Idul Fitri dan Momentum Merajut Persaudaraan Sesama Umat Islam

30 Maret 2025 22:00
Hidayatullah.comHidayatullah.com
Follow US
Copyright 2023 © Hidayatullah.COM
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Informasi Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Indeks
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lupa password?