Oleh: Suleiman Altan Zahiya
BERBAGAI laporan dan sumber kepolisian Turki menyatakan Khashoggi telah dibunuh pada 2 Oktober 2018 saat mengurus dokumen pernikahannya di Konsulat Arab Saudi di Istanbul.
Sejumlah media di AS sendiri, termasuk tempat menulis Khashoggi meyakini bahwa kolumnisnya telah dihabisi di Konsulat. Yang lebih mengerikan adalah dugaan mutilasi saat mengeksekusi Khashoggi.
Kini, masyarakat internasional menekan Arab Saudi untuk mengumumkan secara jujur nasib dan keberadaan Khashoggi, wartawan yang dikenal getol mengkritik Putera Mahkota Mohammad bin Salman atau akrab disapa MBS.
Kenapa dieksekusi di Turki?
Teka-teki yang kini masih menyelimuti lenyapnya Khashoggi adalah: apa sebenarnya motif di balik hilangnya Khashoggi dan kenapa eksekusi dilakukan di wilayah yuridiksi Turki?
Kejadian hilangnya Khashoggi diyakini tidak semata-mata menghilangkan “orang penting” di Saudi, tapi ada misi yang lebih strategis di balik itu, yakni menggoyahkan stabilitas Turki.
Baca: Turki dan Saudi akan Geledah Rumah Konsul jenderal di Istanbul
Pemilihan Turki untuk mengeksekusi Khashoggi bukanlah tanpa alasan.
Turki pada hari ini adalah tempat melting pot antara kelompok-kelompok yang kritis terhadap sejumlah negara maupun faksi perlawanan yang terpaksa terusir dari negaranya.
Turki tidak hanya melindungi kelompok-kelompok Palestina seperti Hamas, namun juga menjadi tempat perundingan berbagai kelompok oposisi Suriah.
Posisi strategis itu dimainkan Turki sebagai corong aspirasi global umat pada hari ini.
Bukanlah sulit bagi intelijen untuk mengeksekusi Khasoggi di luar Turki, termasuk di Amerika Serikat.
Pergerakan Khashoggi sudah diawasi sejak lama. Rutinitasnya, jaringannya, dan komunikasinya telah terekam dalam radar intelijen.
Namun mengeksekusi Khashoggi di AS tidak memiliki nilai strategis.
Baca: Raja Salman Telpon Erdogan Membahas Hilangnya Jurnalis Jamal Khashoggi
Tindakan itu juga akan menyeret AS dalam pusaran masalah. Hal itu dapat dilihat pada hari ini bagaimana senat AS merespons kejadian hilangnya Khashoggi.
Oleh sebab itu, Turki dipilih sebagai tempat eksekusi. Tujuannya agar bandul beban mengarah kepada Turki dan akan menjadi pelajaran bagi kelompok oposisi untuk mempertimbangkan Turki sebagai tempat berlindung.
Para pelaku juga ingin memperlemah stabilitas ekonomi Turki. Setidaknya Turki akan mendapatkan stigma sebagai negara tidak aman dan wilayah peredaran terorisme karena banyaknya kekerasan dan pembunuhan.
Situasi ini tentu akan membuat dunia investasi berpaling dari Turki. Namun Erdogan tahu betul cara menghadapi skenario ini.
Turki dengan cepat merilis 15 orang yang diduga menjadi pelaku eksekusi. Laporan ini akhirnya membuat bandul berbalik kepada MBS dan AS.
MBS tidak mengira Turki dengan cepat merilis nama-nama pelaku, yang turut menyeret Maher Abdulaziz Mutreb, diplomat yang beberapa kali melakukan perjalanan dengan MBS.
Erdogan juga langsung mengontak Raja Salman untuk menangkal pihak-pihak yang membenturkan Turki dan Arab Saudi. Sebab Turki tidak ingin musuh-musuh Islam bergembira dengan benturan dua negara negara Muslim ini.
Orang yang memahami politik Turki dan kawasan akan mudah mengerti sikap Erdogan ini. Karenanya, saat peristiwa ini meletus, Erdogan sudah mengirim pesan bahwa “Saya berharap tak menemui situasi yang tidak diinginkan,” ujar Presiden Turki itu seperti dilansir Anadolu Agency.
Baca: Washington Post Terbitkan Kolom Terakhir Jamal Khashoggi yang Kecam Saudi
‘Skenario AS-MBS’
Langkah Erdogan lalu direspons dengan cepat oleh negeri Paman Sam. Gedung Putih langsung mengutus Menlu AS Mike Pompeo untuk bertemu MBS di Riyadh. Hal ini berlangsung di tengah desakan kongres untuk menghentikan penjualan senjata ke Arab Saudi.
Situs asal AS Axios melaporkan di balik foto-foto senyum mereka, Pompeo melakukan percakapan yang cukup tegang dengan MBS.
Cepat atau lambat, bagi AS, fakta-fakta tentang pembunuhan Khashoggi akan keluar. Adakah skenario yang sedang disusun keduanya untuk mencari “kambing hitam” di balik lenyapnya Khashoggi?
Yang jelas, Presiden Donald Trump sudah membela Arab Saudi yang kini sedang dalam tekanan.
Dalam wawancaranya dengan kantor berita The Associated Press, Pemimpin Amerika itu mengkritik pihak-pihak yang mengecam Riyadh karena melakukan penilaian secara terburu-buru.
Trump sebaliknya meminta Turki untuk membeberkan bukti rekaman audio atau video terkait hilangnya Jamal Khashoggi.
Ya, boleh jadi mengorbankan Khashoggi bagi AS lebih mudah dipilih ketimbang runtuhnya ekonomi Saudi sebagai lumbung dollar AS.*
Penulis adalah wartawan politik internasional di Turki