Hidayatullah.com– Dalam catatan sejarah, banyak sekali perubahan di muka bumi ini, diinisiatori oleh para penulis para pemuda. Baik itu tingkat lokal, maupun global.
Hal itu dikarenakan, seluruh potensi perubahan itu, bersatu-padu pada sosok pemuda. Dimulai dari idealisme yang tinggi, hingga kekuatan fisik.
Demikian ulas Syahri Sauma Ketua Syabab Jawa Timur, ketika memberi arahan kepada mahasiswa STAI Luqman al-Hakim, di kampus II, Panceng Gresik, baru-baru ini, Januari 2019.
“Itulah mengapa, bapak proklamator Indonesia, Ir Soekarno mengatakan, ‘cukup’ dengan sepuluh pemuda beliau mampu mengubah dunia,” sengat lulusan master Komunikasi UINSA, Surabaya ini.
Namun, untuk menjadi sosok pemuda yang masuk kriteria Bung Karno itu, ungkapnya, tentu dibutuhkan kreteria.
Sauma pun merumuskan, bahwa ada tiga gerakan mainstream yang harus menjadi pegangan pemuda, untuk menjadi inisiator perubahan.
“Pertama, haruslah senantiasa berpikir. Memikirkan persoalan umat ini, kemudian berupaya memberikan solusi terbaik,” tuturnya.
Langkah inilah, kata penulis buku ‘Dai dan Prostitusi‘ ini, yang bisa melahirkan ide-ide besar para pemuda masa lalu. Tak terkecuali Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi Wasallam.
“Lihatlah, beliau sampai merenung di goa Hira, karena memikirkan persoalan sosial di masyarakat, dan berupaya mencari jalan keluarnya,” kupas sosok asal Bojonegoro ini.
“Dengan demikian, pemuda yang malas berpikir, adalah pemuda yang akan ditelan zaman,” tegasnya.
Namun, Sauma memperingatkan, langkah yang pertama ini tidak akan berarti apa-apa, apa bila tidak dilanjuti oleh unsur yang kedua.
“Bergerak. Idealnya pemuda itu menjemput bola. Sebab, dalam gerakan itulah akan mengundang keberkahan,” ujarnya sambil mengutip sebuah qaul hikmah.
Ia kemudian mencontohkan dirinya, yang mengaku tengah menggarap proyek bisnis. Secara pribadi, ia tidak punya modal. Tapi karena mau bergerak, akhirnya secara perlahan terkumpul.
“Hanya omong kosong berbicara perubahan, tapi enggan untuk bergerak,” simpul dosen komunikasi ini.
Sedangkan poin ketiga, yang akan menjadikan spirit untuk membuat perubahan itu terus menyala, pemuda haruslah memiliki semangat; memberikan manfaat.
“Inilah tipologi sebaik-baik orang itu; yaitu mereka yang senantiasa memberikan manfaat bagi umat.”
“Ketika ketiga unsur ini benar-benar menjadi pedoman hidup pemuda, maka sudah pasti lambat-laun ia akan menjadi inisiator perubahan, yang akan dicatat sejarah, bagi generasi setelahnya,” tutup Sauma.* Khairul Hibri/Koordinator PENA Jatim