Hidayatullah.comHidayatullah.comHidayatullah.com
Pemberitahuan Lebih Banyak
Font ResizerAa
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Font ResizerAa
Hidayatullah.comHidayatullah.com
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Pencarian
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Nasional

Ketum ICMI nilai Kualitas Demokrasi Indonesia Menurun

Admin Hidcom
Terakhir diupdate: 23 April 2019 07:58 7:58 am
Admin Hidcom
Dipublikasikan 23 April 2019 07:58
Bagikan
Ketua Umum ICMI Jilmy Asshiddiqie pada diskusi publik tentang Palestina di Jakarta, Rabu (20/12/2017).
Bagikan

Hidayatullah.com–Kualitas demokrasi di Indonesia menurun dan bangsa Indonesia disebut masih belum dewasa dalam berdemokrasi, demikian disampaikan Ketua Umum Ikatan Cendekiawan Muslim se-Indonesia (ICMI), Prof Dr Jimly Asshiddiqie.

Walaupun dari segi kuantitas partisipasi pemilih meningkat namun dari kualitas yang diukur dari berbagai aspek seperti komunikasi publik, lembaga survei, dan pengamat politik menurun.

“Misalnya dalam komunikasi publik, karena dulu enggak ada medsos sekarang ada medsos saling jelek menjelekkan satu dengan yang lain. Ini sudah terlalu riskan, itu juga menyebabkan masing-masing saling tuding,” ungka Jimly di Jakarta, Senin (22/04/2019).

Ia mencontohkan lembaga survei yang bersifat independen ilmiah dengan lembaga yang bagian dari tim sukses atau konsultan politik. Ke depannya, tegas Jimly, hal ini harus dibedakan melalui kode etik untuk konsultan politik atau independen.

Jimly pun menilai lembaga survei tak boleh menjadi pihak salah satu pasangan calon (paslon).

“Karena banyak yang kritik mereka lalu membela diri seolah-olah menjadi pihak yang berperkara. Dengan itu ia pihak 01 atau 02, maka tidak ada lagi yang objektif,” ujarnya.

Baca Juga

Lukmanul Hakim MUI wafat
KH Dr. Lukmanul Hakim, Pejuang Ekonomi Umat yang Berpulang
Layanan SIHALAL Bermasalah, ALPHI Minta Dikembalikan Ke Sistem Lama
LPPOM Bersama ALPHI Kupas Tuntas Tarif dan Waktu Proses Sertifikasi Halal
PAD Kota Depok Meningkat Tanpa Iklan Rokok
Pembukaan Silatnas 2023, Pj Gubernur Kaltim Puji Kiprah Dai – Daiyah Hidayatullah

Menurutnya, yang juga membuat kualitas demokrasi agak turun dalam komunikasi publik, adanya pengamat dari berbagai perguruan tinggi yang memakai jas objektivitas namun menjadi pihak salah satu paslon tanpa disadari.

Ia menilai, dari segi prosedur demokrasi sudah oke, partisipasi masyarakat meningkat. “Tetapi dari segi substantif demokrasi agak turun karena ada kualitas dan integritas yang kurang,” ungkap eks Ketua Mahkamah Konstitusi periode pertama tersebut kutip INI-Net, Selasa (23/04/2019).

Jimly pun menilai bangsa Indonesia belum dewasa dalam berdemokrasi dengan sistem dua kubu. Sebagai contoh, Amerika Serikat (AS) yang sistem politiknya selalu terbelah menjadi dua kubu, bahkan sejak sebelum merdeka, tapi punya kekuatan sangat besar di bidang ekonomi, teknologi, militer, dan politik.

Di Negeri Paman Sam tersebut terjadi pembelahan dua kelompok politik: Partai Demokrat yang dekat dengan buruh dan Partai Republik yang menjadi representasi para pengusaha.

Pertentangan dua kubu Partai Demokrat dan Partai Republik sangat sengit sudah sejak lama hingga saat ini, walaupun di AS banyak partai lainnya. Tetapi dengan adanya pertentangan dua kubu yang sengit tersebut AS tetap menjadi negara adidaya yang maju dalam berbagai bidang.

Tegas Jimly, yang menjadi perbedaan antara AS dan Indonesia dalam sistem perpolitikan dua kubu adalah pandangan dalam memahaminya.

“Pertentangan pendapat di antara dua golongan ini sengit sekali tapi untuk hal-hal yang sifatnya objektif, rasional, dan duniawi. Nah di Indonesia ini dua kubu ini ada kaitan dengan akhirat, ini yang jadi masalah,” menurutnya.

Jimly berpandangan, sistem perpolitikan di Indonesia selalu berkaitan dengan surga dan neraka, sebab ada sejarah politik yang belum selesai yaitu sejak di konstituante dan Piagam Jakarta. Ada keterkaitan dengan kebangsaan melawan keagamaan, dimana pada akhirnya mengapa terjadi ijtima ulama dan majelis ulama, sebagaimana keulamaan dijadikan simbol keislaman yang diperlukan oleh politisi.

“Kalau di Amerika kan isunya itu isu objektif duniawi, kalau di Indonesia ada kaitan dengan surga dan neraka. Kalau milih yang satu ini neraka nih nanti, kalau yang satu lagi bilang justru ini yang masuk surga, jadi kita masih belum beranjak sesudah 70 tahun merdeka masih ke situ,” ungkap Jimly.

Walau demikian, ia berharap perseteruan dua kubu politik di Indonesia saat ini bisa menjadi proses pendewasaan dalam berdemokrasi ke depannya, merujuk AS yang tetap maju dan bersatu meski telah berseteru lebih dari 2,5 abad.*

Redaktur: Admin Hidcom
Bantu kami terus menyuarakan kebenaran!

Scan QRIS dan dukung #Journalism4Ummah

donasi online
TAG:Amerika SerikatdemokrasiICMIJimly AsshiddiqiePemilu 2019Pilpres 2019
Bagikan tulisan ini
Facebook Whatsapp Whatsapp Telegram Email Salin tautan Print
Tulisan sebelumnya Punya Informasi Keuangan Teroris Syiah Hizbullah? Ada Hadiah dari Amerika $10 Juta
Tulisan selanjutnya Serangan Bom Sri Lanka Tewaskan 39 Warga Asing

Ikuti Kami

1.2KLike
89KFollow
27.8KFollow
222KSubscribe
Ad image
Ad image

Terpopuler

Berita

‘Israel’ Klaim Penjualan Senjata ke Negara Arab Melonjak Tajam, Banyak yang Beli Diam-Diam

Berita
4 Juni 2026 11:00
Kazakhstan Menawarkan Diri untuk Menyimpan Cadangan Uranium Iran
Hakim Agung Palestina: RUU Pembatasan Adzan adalah Pelanggaran Kebebasan Beribadah
Turki Siapkan Proyek Kereta Hijaz sebagai Alternatif Selat Hormuz
Malaysia Resmi Batasi Media Sosial Anak, Siapkan Denda Rp45 Miliar bagi Pelanggar

Terbaru

  • Turki Tegaskan Komitmennya untuk Perkuat Keuangan Syariah
  • Fatah Tunjuk Hussein al-Sheikh Jadi Wakil Mahmoud Abbas
  • ‘Israel’ Klaim Penjualan Senjata ke Negara Arab Melonjak Tajam, Banyak yang Beli Diam-Diam
  • Turki Siapkan Proyek Kereta Hijaz sebagai Alternatif Selat Hormuz
  • Harga Obat Terancam Naik, DPR Minta Perlindungan untuk Pasien Penyakit Kronis
  • Bantah Menolak Lepas Kendali Gaza, Hamas: Kebohongan ‘Israel’
  • Bachtiar Nasir: Pesantren Hadapi Ujian Besar Kepercayaan Publik di Era Digital
  • Ekonomi Syariah Global Tembus USD 8,6 Triliun, Indonesia Harus Naik Kelas Jadi Produsen Utama
  • Presiden Erdogan Kini Punya 10 Cucu, Kabar Bahagia Datang dari Keluarga Presiden Turki
  • Hampir 135 Ribu Jamaah Indonesia Salurkan Dam Lewat Adahi, Daging Diprioritaskan untuk Palestina

Mungkin Anda Juga Suka

BeritaBerita dari AndaNasional

Workshop Tenun dan Tudung Manto untuk Santri dan Masyarakat Lingga

6 November 2023 08:51
BeritaLensaNasional

Investasi LM Antam untuk Pendidikan Anak

13 September 2023 11:00
BeritaLensaNasional

[Foto] Belajar Gosok Gigi yang Benar

29 Juli 2023 07:00
BeritaNasional

Dukung Kegiatan PFI, Eri Cahyadi Tawarkan untuk Pameran Foto Berikutnya

14 Mei 2023 07:35
Hidayatullah.comHidayatullah.com
Follow US
Copyright 2023 © Hidayatullah.COM
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Informasi Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Indeks
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lupa password?