Hidayatullah.comHidayatullah.comHidayatullah.com
Pemberitahuan Lebih Banyak
Font ResizerAa
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Font ResizerAa
Hidayatullah.comHidayatullah.com
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Pencarian
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Internasional

Pengamat Dewan Eropa: Polisi Jerman Remas Kelamin Pencari Suaka Afghanistan

Ama Farah
Terakhir diupdate: 9 Mei 2019 19:08 7:08 pm
Ama Farah
Dipublikasikan 9 Mei 2019 19:08
Bagikan
Bagikan

Hidayatullah.com–Komite antipenyiksaan dari Dewan Eropa hari Kamis (9/5/2019) menuding polisi Jerman memperlakukan buruk seorang pria Afghanistan yang akan dideportasi, setelah melihat petugas kepolisian meremas alat kelamin pria tersebut dan mencekiknya.

“Memperlakukan orang secara keji dengan meremas alat kelaminnya, teknik yang jelas-jelas dimaksudkan untuk menimbulkan rasa sakit yang teramat agar orang tersebut patuh, merupakan tindakan yang berlebihan dan juga tidak patut,” kata Committee for the Prevention of Torture (CPT) dalam sebuah laporannya seperti dilansir DW.

Laporan tersebut memusatkan perhatian pada deportasi tanggal 14 Agustus 2018, di mana sebuah pesawaat sewaan membawa 46 orang Afghanistan dari Munich ke Kabul atas nama dinas perbatasan Uni Eropa, Frontex, setelah permohonan suaka mereka ditolak.

Tiga staf perwakilan CPT turut berada di pesawat tersebut, bersama dengan 100 personel kepolisian Jerman, yang enam di antaranya membekuk pria Afghanistan tersebut.

Secara umum pproses deportasi dilakukan secara profesional, tulis laporan tersebut. Namun, ada 2 orang pria yang menolak masuk pesawat ketika akan dideportasi ke Afghanistan, mereka diborgol di bagian tangan dan kaki.

Baca Juga

Saudi Tak Akan Jalin Diplomatik dengan Penjajah, tanpa Negara Palestina
Masjidil Haram Dinodai Ponsel dan Kamera
Vatikan Selidiki Kabar Pesta Seks di Katedral Inggris
Muslim Yunani Khawatir Pihak Berwenang akan Hapus Jejak Utsmaniyyah di Trakia
Hujan Tidak Turun karena Wanita Iran Tidak Berhijab

Ketika salah satu dari kedua pria itu terus melakukan perlawanan di atas pesawat, seorang petugas kepolisian merangkulkan lengannya ke leher pria Afghanistan itu sehingga tercekik dan

“pria yang akan dideportasi itu mulai kesulitan bernapas.” Sementara itu seorang petugas lain mendudukkannya dan merekatkannya dikursi dengan pita perekat, dan meremas alat kelaminnya beberapa kali, tulis laporan itu.

“CPT menilai penggunaan kekerasan apapun untuk menimbulkan efek kesulitan bernapas orang bersangkutan harus dihindari,” imbuh laporan tersebut.

Dalam rekomendasinya CPT mengatakan pihak berwenang Jerman “harus segera mengambil tindakan guna mengakhiri penerapan dua cara yang pakai oleh petugas pendamping dari Kepolisian Federal itu.”

Dalam laporannya setebal 34 halaman CPT mengkritik singkatnya jeda waktu antara penolakan suaka dan pelaksanaan deportasi. Komite itu mengatkan perlu bagi orang-orang yang ditolak suakanya untuk mempersiapkan batin mereka menghadapi situasi tersebut, bahkan meskipun mereka ditempatkan dalam tahanan sambil menunggu keberangkatan deportasi. CPT mengatakan terkadang pencari suaka hanya memiliki waktu kurang dari sepekan setelah mendapatkan pemberitahuan deportasi.

Menanggapi hal tersebut, pihak berwenang di Bavaria –negara bagian di Jerman yang ketempatan banyak pencari suaka non-Eropa– mengatakan bahwa para migran dalam tahanan keimigrasian tidak perlu mengetahui tanggal pasti kapan mereka akan dideportasi, sebab faktanya dengan keberadaan mereka di dalam detensi sudah menunjukkan mereka segera akan didepak keluar.

Masalah deportasi pencari suaka ke Afghanistan menjadi pro dan kontra di Jerman. Sebagian pihak menyatakan Afghanistan termasuk negara yang konflik bersenjatanya sudah mereda, sementara sebagaian lain menilai Afghanistan masih merupakan negara berbahaya dan orang-orang yang dideportasi berisiko akan dibunuh atau terbunuh.

Pada tahun 2016, pemerintah Jerman dan Afghanistan menandatangani kesepakatan pengusiran orang-orang Afghanistan yang aplikasi suakanya ditolak.

CPT bertanggung jawab memastikan bahwa proses deportasi tersebut dilakukan secara bebas dari tindak kekerasan seperti penyiksaan, perlakuan tidak manusiawi atau tindakan pelecehan.*

Redaktur: Ama Farah
Bantu kami terus menyuarakan kebenaran!

Scan QRIS dan dukung #Journalism4Ummah

donasi online
Bagikan tulisan ini
Facebook Whatsapp Whatsapp Telegram Email Salin tautan Print
Tulisan sebelumnya Berefek Seperti LSD, Denver Dekriminialisasi Konsumsi Pribadi Magic Mushroom
Tulisan selanjutnya Berantas Fake News, Polisi Singapura Bisa Masuk Grup Chat Online Tertutup

Ikuti Kami

1.2KLike
89KFollow
27.8KFollow
222KSubscribe
Ad image
Ad image

Terpopuler

Berita

‘Israel’ Perketat Aturan Masjid, Pasang Pengeras Suara Harus Izin Zionis

Berita
2 Juni 2026 17:20
Kazakhstan Menawarkan Diri untuk Menyimpan Cadangan Uranium Iran
Warga Yunani Didakwa Membantu Iran untuk Menarget Jurnalis di Inggris
Presiden Erdogan Kini Punya 10 Cucu, Kabar Bahagia Datang dari Keluarga Presiden Turki
Singapura Terbitkan Panduan untuk Bantu Orang Tua Kurangi Screen Time Anak

Terbaru

  • Turki Tegaskan Komitmennya untuk Perkuat Keuangan Syariah
  • Fatah Tunjuk Hussein al-Sheikh Jadi Wakil Mahmoud Abbas
  • ‘Israel’ Klaim Penjualan Senjata ke Negara Arab Melonjak Tajam, Banyak yang Beli Diam-Diam
  • Turki Siapkan Proyek Kereta Hijaz sebagai Alternatif Selat Hormuz
  • Harga Obat Terancam Naik, DPR Minta Perlindungan untuk Pasien Penyakit Kronis
  • Bantah Menolak Lepas Kendali Gaza, Hamas: Kebohongan ‘Israel’
  • Bachtiar Nasir: Pesantren Hadapi Ujian Besar Kepercayaan Publik di Era Digital
  • Ekonomi Syariah Global Tembus USD 8,6 Triliun, Indonesia Harus Naik Kelas Jadi Produsen Utama
  • Presiden Erdogan Kini Punya 10 Cucu, Kabar Bahagia Datang dari Keluarga Presiden Turki
  • Hampir 135 Ribu Jamaah Indonesia Salurkan Dam Lewat Adahi, Daging Diprioritaskan untuk Palestina

Mungkin Anda Juga Suka

Internasional

Potret Pasukan Khusus Wanita Arab Saudi yang Akan Jaga Keamanan Umrah dan Haji

13 Januari 2023 15:00
Internasional

Mayoritas Muslim, Kota di AS Ini Perbolehkan Penyembelihan Hewan untuk Qurban

13 Januari 2023 07:00
Bendera LGBT AS
Internasional

Politisi Republikan AS Ajukan UU yang Melarang Pengibaran Bendera LGBT dan BLM

13 Januari 2023 05:01
Internasional

Muslimah India Berprestasi Ini Harus Pindah Sekolah Demi untuk Tetap Berhijab

12 Januari 2023 19:30
Hidayatullah.comHidayatullah.com
Follow US
Copyright 2023 © Hidayatullah.COM
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Informasi Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Indeks
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lupa password?