Hidayatullah.comHidayatullah.comHidayatullah.com
Pemberitahuan Lebih Banyak
Font ResizerAa
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Font ResizerAa
Hidayatullah.comHidayatullah.com
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Pencarian
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Analisa Dunia Islam

Deal of The Century, Lelucon Abad Ini

Insan Kamil
Terakhir diupdate: 3 Februari 2020 07:56 7:56 am
Insan Kamil
Dipublikasikan 2 Februari 2020 16:26
Bagikan
Bagikan

oleh: Rofi Munawwar

 

Hidayatullah.com |PADA 28 januari 2020, Donald Trump berdiri di ruang timur Gedung Putih, Washington. Berdiri juga di sisinya penjahat perang, Benjamin Netanyahu, seorang pemimpin sebuah organisasi teroris dan penjajah yang melakukan pembunuhan, penghancuran dan perampasan tanah sejak Mei 1948.

Dengan percaya diri dan arogan –khas karakter Trump- mereka memploklamirkan rencana tentang Palestina yang dikenal luas sebagai “Deal of the Century” atau “Kesepakatan Abad Ini”. Isi dari kesepakatan ini mereka sebut; “peace plan” atau “rencana perdamaian”.

Inilah “kesepakatan” paling absurd yang pernah dibuat, karena tidak pernah membuat pemiliknya (Palestina) pernah sepakat. Trump dan Netanyahu tanpa malu memberi judul dokumen rencana setebal 181 halaman ini “Peace to Prosperity” atau “Damai menuju kemakmuran” setelah merampas tanah, kebebasan dan martabat orang Palestina.

Baca Juga

Betulkah Gabung Board of Peace merupakan Tindakan Realistis?
Masjid Dikepung, Ulama Dipenjara: Jejak Panjang Diskriminasi di Tajikistan
Amerika Serikat dan Proyek Genosida di Gaza
Kebijakan Politik Iran dan Dilema Amerika
Muslim Tajikistan: Ditekan Penguasa, Diincar ISIS

Alih-alih mengakhiri sistem penjajahan ‘Israel’ di Palestina, Trump ingin melihat ‘Israel’ melanjutkan dan memperbesar penjajahan dengan nama yang berbeda. Judulnya sangat menipu: “Suatu Visi untuk Memperbaiki Kehidupan Rakyat Palestina dan ‘Israel’”. Mereka harap, dengan tipu daya ini penjajahan ‘Israel’ menjadi legal di mata dunia.

Inilah lelucon abad ini.

Lelucon pertama, rencana ini  dibuat tanpa melibatkan sedikitpun partisipasi Palestina, sekaligus menginjak-injak resolusi PBB sebelumnya sebagai salah satu landasan hukum internasional. Dibuat sepihak oleh pemimpin negara yang katanya kampiun demokrasi;  yang menjunjung tinggi proses elektoral dan pluralisme, menjunjung partisipasi dan kultur politik serta menjunjung hak asasi manusia dan kebebasan sipil. Namun, itu hanya omong kosong.

Lelucon kedua, ini semakin lucu. Ketika rencana sepihak ini  –tapi disebut ‘kesepakatan’- mereka ploklamirkan sendiri, kemudian mereka memberi syarat kepada Palestina harus menyetujui dan menandatangani rencana tersebut. Apabila tidak bersedia, mereka sendiri mengancam akan membatalkan rencana “kesepakatan Abad Ini”. Lah!?

Lelucon ketiga, bagaimana mungkin, sebuah ‘Negara Palestina Baru’ bentukan AS-’Israel’. Kolaborasi penjahat dan penjajah merancang sebuah negara di tanah yang ia jajah disebut sebagai ‘sebuah perdamaian’?

Lelucon keempat, penyusun rencana ini adalah orang yang tidak layak, anak kemarin sore bernama Jared Kushner. Seorang bocah Yahudi pendukung fanatik penjajah Zionis dan penjahat Netanyahu yang kebetulan jadi menantu dan panasihat Trump. Latar belakangnya pengembang real estate dan tidak punya pengalaman politik sama sekali.

Tetapi ajaib. Justru pendukung  ambisi ‘Israel’ ini adalah negara-negara Arab. Duta besar Uni Emirat Arab, Bahrain dan Oman hadir di Gedung Putih dalam seromonial pengumuman rencana ini sebagai dukungan resmi. Sedangkan Arab Saudi, Mesir dan UEA menyambut rencana ini lewat saluran resmi kementerian luar negeri masing-masing. Itu lelucon keempatnya.

Sementara miliaran dollar pendanaan ini tidak keluar sepeserpun dari AS dan ‘Israel’. Tapi disponsori oleh Arab Saudi dan UEA serta sejumlah negara teluk. Bahkan Arab Saudi sejak awal telah bertindak sebagai petugas humas Trump di kawasan dalam semua tahap pembukaan “Kesepakatan Abad ini”.

Hanya karena takut kehilangan Afiliasi dengan AS dan ‘Israel’, para pemimpin negara-negara Muslim ini terus mencampakkan nurani kemanusiaan dan naluri persaudaraannya. Sikap ini juga yang diambil ketika menghadapi penganiyaan terhadap minoritas Muslim Kashmir dan Assam di India, serta genosida Muslim Uighur di China.

Nilai investasi China jauh lebih bernilai dibanding kehidupan 13 juta Muslim Uighur. Kalkulasi ini juga dipakai untuk memuji India dan mencampakkan Muslim Kashmir, dengan pujian:“meninggkatkan kemamanan dan stabilitas” untuk mengamankan lebih dari 100 miliar dollar perdagangan tahunan India-Negara Teluk. Saat semua mata dunia terbuka kepada genosida Rohingya, para pemimpin ini juga tidak bertindak dan melakukan hal yang serius.

Hamas Kecam Negara Arab Hadiri Peluncuran ‘Kesepakatan Abad Ini’

Draft Kesepakatan yang Aneh

Dalam daftar rencana konsep “Kesepakatan Abad Ini”, ‘Israel’ akan mencaplok lebih luas Tepi Barat. Lembah Jordan yang subur dan strategis akan jadi milik ‘Israel’. Posisi Palestina makin terjepit, hanya mendapatkan 15% wilayah yang diduki ‘Israel’ sejak 1948, tidak terhubung satu sama lain pula. Tanpa Baitul Maqdis dan Masjidil Aqsha.

Yerussalem atau Baitul Maqdis akan menjadi ibu kota ‘Israel’ dan Palestina harus mengakuinya. Rencana tersebut juga menyerukan demiliterisasi semua Palestina, melucuti sepenuhnya dan menghilangkan Hamas dari Gaza sebagai bentuk setuju untuk pengawasan ‘Israel’.

‘Israel’ akan mengontrol keamanan di semua penyeberangan internasional ke Palestina. Itu juga akan terus melakukan pengawasan terhadap warga Palestina di wilayah mereka sendiri. ‘Israel’ akan mengandalkan balon udara, pesawat tak berawak dan peralatan udara serupa “untuk mengurangi jejak keamanan ‘Israel’” di dalam Negara Palestina.

Tidak akan ada hak untuk mengembalikan pengungsi Palestina atau keturunan mereka ke ‘Israel’. Dengan arogan, rencana “Kesepakatan Abad ini” mengatakan: “Saudara-saudara Arab mereka memiliki tanggung jawab moral untuk mengintegrasikan mereka ke negara-negara mereka ketika orang-orang Yahudi diintegrasikan ke dalam Negara ‘Israel’.”

Setelah penandatanganan perjanjian seperti yang diusulkan dalam rencana ini, status pengungsi Palestina akan tidak ada lagi dan badan PBB untuk pengungsi Palestina (UNRWA) akan diberhentikan.

Rencana itu bahkan mengatur lebih jauh, termasuk kurikulum sekolah Palestina sebagai prasyarat untuk pembentukan negara Palestina.

“Palestina harus mengakhiri semua program, termasuk kurikulum sekolah dan buku teks, yang berfungsi untuk menghasut atau mempromosikan kebencian atau pertentangan terhadap tetangga-tetangganya, atau yang memberi kompensasi atau insentif kegiatan kriminal atau kekerasan,” kata rencana itu.

‘Konsep Perdamaian’ Palestina yang Tak Membuat Damai

Dikecam Rakyat Palestina

Rakyat Palestina sepakat menolak rencana kesepakatan Trump ini. Mereka berduyun-duyun keluar memprotes. Seperti yang terjadi di Baitul Maqdis atau Yerusalem, Tepi Barat dan wilayah Palestina lainnya. Di Gaza, Hamas mengecam keikutsertaan duta besar dari tiga negara Arab pada peluncuran “Kesepakatan Abad ini”. Bahkan pemimpin Otoritas Palestina, yang dianggap “moderat” oleh AS dan ‘Israel’, Presiden Mahmoud Abbas dengan tegas mengatakan “seribu tidak”.

Hari ini rakyat Palestina sepakat bahwa ini adalah perjanjian kotor, seperti deklarasi Balfour 1917, ketika Inggris membagi wilayah Palestina kepada Zionis dan menutup partisipasi dan hak orang Palestina pemilik sah tanah itu.

Hari ini mungkin adalah Netanyahu dan Trump, sedangkan pada tahun 1917  adalah Balfour dan Rothschild. Waktu dan kondisi 1917 dan hari ini mungkin berbeda.  Tapi motifnya sama; perampokan! Lewat ambisi pengikut Zionisme memberi diri mereka hak supremasi dan mengusir orang-orang Palestina dari tanah air mereka melalui teror dan membuat jalan bagi negara Yahudi untuk diciptakan di tanah Palestina.

Mungkin Palestina hari ini benar-benar sendirian dalam posisi negosiasi. Mereka dikhianati oleh para pemimpin Arab. Mereka hanya memiliki satu pilihan dan pilihan itu sudah mereka pegang selama 103 tahun: untuk tetap bertahan dan melawan, mempertahankan izzah kaum Muslim; Masjidil Aqsha dan tanah suci Baitul Maqdis.

Hari ini, “Kesepakatan Abad ini” tidak berhak mengatur Palestina, yang paling mengerti urusan Palestina adalah orang Palestina sendiri. Yang diperlukan saat ini adalah merdeka, berdaulat, bukan deal deal-an difasilitasi siapapun, apalagi penjahat. Selama masih dijajah, angkat senjata itu jauh lebih mulia.*

Penulis peminat masalah Timur Tengah

 

 

Redaktur: Insan Kamil
Bantu kami terus menyuarakan kebenaran!

Scan QRIS dan dukung #Journalism4Ummah

donasi online
TAG:Baitul MaqdisDeal of The CenturyDonald TrumpisraelKesepakatan Abad IniNegara Palestina Barupalestina
Bagikan tulisan ini
Facebook Whatsapp Whatsapp Telegram Email Salin tautan Print
Tulisan sebelumnya Dua Ratusan WNI dari Wuhan Dievakuasi, 7 Batal Dipulangkan
Tulisan selanjutnya Kembali ke Turats

Ikuti Kami

1.2KLike
89KFollow
27.8KFollow
222KSubscribe
Ad image
Ad image

Terpopuler

Berita

Turki Siapkan Proyek Kereta Hijaz sebagai Alternatif Selat Hormuz

Berita
4 Juni 2026 10:00
Irlandia Bakal Larang Impor dari Permukiman ‘Israel’ Mulai Pertengahan Juli
Ekonomi Syariah Global Tembus USD 8,6 Triliun, Indonesia Harus Naik Kelas Jadi Produsen Utama
Setia dari Dulu, Kini dan Akan Datang: Kisah Pak Haji Toeng & Bu Hajjah Intang Kloter 15 KBIHU Hidayatullah Balikpapan di Haji 2026
Hakim Memutuskan Nama Donald Trump Dihapus dari Gedung Kesenian Kennedy Center

Terbaru

  • Fatah Tunjuk Hussein al-Sheikh Jadi Wakil Mahmoud Abbas
  • ‘Israel’ Klaim Penjualan Senjata ke Negara Arab Melonjak Tajam, Banyak yang Beli Diam-Diam
  • Turki Siapkan Proyek Kereta Hijaz sebagai Alternatif Selat Hormuz
  • Harga Obat Terancam Naik, DPR Minta Perlindungan untuk Pasien Penyakit Kronis
  • Bantah Menolak Lepas Kendali Gaza, Hamas: Kebohongan ‘Israel’
  • Bachtiar Nasir: Pesantren Hadapi Ujian Besar Kepercayaan Publik di Era Digital
  • Ekonomi Syariah Global Tembus USD 8,6 Triliun, Indonesia Harus Naik Kelas Jadi Produsen Utama
  • Presiden Erdogan Kini Punya 10 Cucu, Kabar Bahagia Datang dari Keluarga Presiden Turki
  • Hampir 135 Ribu Jamaah Indonesia Salurkan Dam Lewat Adahi, Daging Diprioritaskan untuk Palestina
  • MUI: Qurban Presiden dengan Dana APBN untuk Masyarakat Sah dan Sesuai Syariat

Mungkin Anda Juga Suka

Analisa Dunia Islam

Al-Sisi dan Lelucon Kontra-Terorisme di Mesir

22 Mei 2022 10:55
Analisa Dunia Islam

Yahya Sinwar

4 Juni 2021 09:05
Analisa Dunia Islam

Pencaplokan De facto Tepi Barat dan Definisi Nyeleneh ‘Israel’

10 Juli 2020 16:28
Analisa Dunia Islam

Turki, Libya dan Pertaruhan Islam Politik di Timur Tengah

25 Juni 2020 16:43
Hidayatullah.comHidayatullah.com
Follow US
Copyright 2023 © Hidayatullah.COM
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Informasi Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Indeks
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lupa password?