Hidayatullah.comHidayatullah.comHidayatullah.com
Pemberitahuan Lebih Banyak
Font ResizerAa
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Font ResizerAa
Hidayatullah.comHidayatullah.com
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Pencarian
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Analisis

Bagaimana Islam Memandang Perubahan Iklim?

Nashirul Haq
Terakhir diupdate: 25 Agustus 2020 13:14 1:14 pm
Nashirul Haq
Dipublikasikan 25 Agustus 2020 13:10
Bagikan
Tumbuhan berkomunikasi manusia
Muslim menanam, Yahudi menebangi: Perempuan Palestina menangisi pohon zaitunnya yang dihancurkan Zionis-Israel
Bagikan

Oleh: Ibrahim Ozdemir

 

Hidayatullah.com | BANYAK negara bermayoritas Muslim menanggung beban perubahan iklim, tetapi kesadaran budaya dan tindakan adaptasi mereka seringkali terbatas.  Sebuah gerakan “Environmentalisme Islam” atau “Pelestarian lingkungan hidup Islam” yang didasarkan pada tradisi Islam – daripada environmentalisme “penyelamat kulit putih” yang berdasarkan kampanye politik pertama dunia – dapat mengatasi keduanya. Dan jeda emisi pasca Covid-19 adalah peluang untuk mempercepatnya.

Ini adalah gerakan yang sangat kita butuhkan. Negara asal saya Turki, contohnya, sangat rentan terhadap efek perubahan iklim, karena suhu meningkat dan curah hujan menurun dari tahun ke tahun, menyebabkan masalah serius dengan ketersediaan air. Di Bangladesh, diperkirakan pada tahun 2050 satu dari tujuh orang akan terlantar akibat perubahan iklim, menciptakan jutaan pengungsi iklim.

Di Timur Tengah, banyak wilayah luas kemungkinan besar tidak dapat dihuni karena gelombang panas yang kemungkinan besar akan melanda wilayah tersebut dalam beberapa dekade mendatang. Namun, terlepas dari kerentanan mereka, banyak negara Muslim berkontribusi pada masalah tersebut.

Baca Juga

Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan di Sidang Umum PBB UNGA
Mimpi Buruk Israel: Turki Bangkit Jadi Kekuatan Baru Timur Tengah
Strategi Ibrahim Traoré: Tinggalkan Penjajah Prancis, Dekati Rusia
“Gubernur Konten”,  Antara Pencitraan, dan Polarisasi Digital
Kampanye Digital Masif dari Arab Diluncurkan untuk Menjatuhkan Sinwar dan Hamas
NAS Daily Terima Penghargaan dari Lobi ‘Israel’

Indonesia, negara dengan penduduk mayoritas Muslim terbesar, adalah penghasil emisi gas rumah kaca terbesar kelima di dunia, dan tidak berbuat banyak mengatasi itu. Bangladesh dan Pakistan adalah dua negara paling tercemar di dunia, tetapi tidak mengambil tindakan serius untuk mengatasi polusi. Kelambanan di dunia Muslim terus berlanjut meskipun ada deklarasi negara-negara Muslim pada tahun 2015 untuk memainkan peran aktif dalam memerangi perubahan iklim.

Anda akan berpikir bahwa mereka yang terdampak paling parah oleh perubahan iklim adalah mereka yang paling ingin menghentikannya. Ini tidak selalu terjadi.

Banyak negara Muslim enggan memberlakukan konsep pelestarian lingkungan hidup Barat, atau tunduk pada tekanan dari negara-negara yang telah mengalami industrialisasi tanpa harus bermasalah dengan polusi atau mengekang emisi. Kolonialisme lingkungan bukanlah jawabannya.

Apa yang akan berhasil, dan telah terbukti berhasil, adalah menggunakan prinsip-prinsip Islam untuk mendorong konservasi pada Muslim.

Islam mengajari para pengikutnya untuk menjaga bumi. Muslim percaya bahwa manusia harus bertindak sebagai penjaga, atau khalifah di planet ini. Dan bahwa mereka akan dimintai pertanggungjawaban oleh Tuhan atas tindakan mereka.

Konsep pengelolaan lingkungan ini sangat kuat, dan digunakan dalam Deklarasi Islam tentang Perubahan Iklim untuk mendorong perubahan dalam kebijakan lingkungan di negara-negara Muslim. Faktanya,  Al-Quran mencatat ada sekitar 200 ayat tentang lingkungan.

Muslim diajari bahwa “Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan silih bergantinya malam dan siang terdapat tanda-tanda  bagi orang-orang yang berakal”.” Kenyataannya adalah bahwa tidak ada yang lebih Islami selain melindungi ciptaan Tuhan yang paling berharga: bumi.

Pendekatan inilah yang dapat menyentuh hati dan pikiran 1,8 miliar Muslim di seluruh dunia. Muslim harus mengiintegrasikan hal ini dalam gerakan iklim.

Nabi Muhammad ﷺ juga mendemonstrasikan kebaikan, perhatian dan prinsip umum yang baik tentang perlakuan terhadap hewan, yang menjadi tolak ukur bagi umat Islam. Nabi melarang membunuh hewan untuk olahraga, mengatakan kepada ummatnya untuk tidak membebani unta dan keledai mereka, memerintahkan agar menyembelih hewan untuk makanan dilakukan dengan kebaikan dan pertimbangan atas perasaan hewan dan rasa hormat kepada Allah yang memberinya kehidupan, dia bahkan membiarkan untanya memilih tempat dia membangun masjid pertamanya di Kota Madinah.

Sebuah studi tahun 2013 di Indonesia menunjukkan bahwa memasukkan pesan-pesan lingkungan dalam dakwah Islam meningkatkan kesadaran dan kepedulian masyarakat terhadap lingkungan. Pada tahun 2014, Indonesia mengeluarkan fatwa (atau hukum Islam) yang mewajibkan umat Islam di negara tersebut untuk melindungi spesies yang terancam punah.

Ada juga organisasi yang berdedikasi untuk menggunakan agama untuk menyebarkan pesan pelestarian lingkungan, seperti Alliance for Religions and Conservation (ARC). Salah satu proyeknya yang paling sukses menggunakan cendekiawan Islam untuk meyakinkan para nelayan Tanzania bahwa penangkapan ikan dengan dinamit, jala, dan tombak bertentangan dengan Al-Quran – dan mereka mendengarkan.

Kasus ini juga memberi tahu kita bahwa moralisasi dari atas ke bawah tidak mungkin efektif. Para nelayan sebelumnya menolak larangan dari pemerintah, tetapi berhasil dibujuk setelah diberi tahu bahwa mereka bertindak tidak Islami. Seorang nelayan berkata: “Sisi konservasi ini bukan dari Mzungu [” orang kulit putih “dalam bahasa Swahili], itu dari Al-Quran.”

Jelas, kita perlu berbicara dengan bahasa mereka yang perilakunya ingin kita ubah, terutama jika bahasa itu secara alami menolak kebijakan yang tidak berkelanjutan.  Beberapa pemikir Muslim menyadari hal ini dan sangat ingin mengembangkan gerakan lingkungan yang “tumbuh di dalam negeri” untuk muncul sebagai pemikir dalam hak mereka sendiri.

Misalnya, Forum Dhaka bulan ini menjalankan pertemuan tentang masalah lingkungan pasca-Covid-19 dengan mayoritas pembicara berasal dari dunia Muslim.

Negara-negara Muslim memiliki keunggulan dalam perlombaan iklim. Mereka memiliki kerangka kerja dan sistem kepercayaan yang mengamanatkan perlindungan bumi dan sumber daya alamnya.

Seperti yang dikatakan Hossein Nasr, seorang pendukung utama gerakan agama dan lingkungan, desakralisasi Barat telah menghasilkan ideologi bahwa manusia memiliki dominasi atas bumi, bukan pengelolanya, yang merupakan pandangan Islam.  Muslim sekali lagi harus menjadi penjaga bumi, demi lingkungan mereka dan demi Tuhan.*

Ibrahim Ozdemir adalah seorang aktivis lingkungan dan profesor filsafat di Universitas Uskudar, Turki

Redaktur: Nashirul Haq
Bantu kami terus menyuarakan kebenaran!

Scan QRIS dan dukung #Journalism4Ummah

donasi online
TAG:iklimislamIslam dan bumiIslam dan lingkunganMuslim
Bagikan tulisan ini
Facebook Whatsapp Whatsapp Telegram Email Salin tautan Print
Tulisan sebelumnya NPC dan LPMI Kerjasama Salurkan Bantuan untuk Masamba
Tulisan selanjutnya Kelompok Aktivis UEA Bentuk Asosiasi Menentang Kesepakatan dengan ‘Israel’

Ikuti Kami

1.2KLike
89KFollow
27.8KFollow
222KSubscribe
Ad image
Ad image

Terpopuler

Berita

Pengadilan Kenya Tolak Rencana Amerika Serikat untuk Mendirikan Fasilitas Karantina Ebola di Negaranya

Berita
30 Mei 2026 11:16
Tak Ada Donatur yang Menyumbang, Board of Peace ala Trump Terancam Gagal
Malaysia Resmi Batasi Media Sosial Anak, Siapkan Denda Rp45 Miliar bagi Pelanggar
Hakim Memutuskan Nama Donald Trump Dihapus dari Gedung Kesenian Kennedy Center
‘Israel’ Tunjuk Roman Gofman Jadi Kepala Mossad, Loyalis Netanyahu yang Dukung Pendudukan Gaza

Terbaru

  • Bantah Menolak Lepas Kendali Gaza, Hamas: Kebohongan ‘Israel’
  • Bachtiar Nasir: Pesantren Hadapi Ujian Besar Kepercayaan Publik di Era Digital
  • Ekonomi Syariah Global Tembus USD 8,6 Triliun, Indonesia Harus Naik Kelas Jadi Produsen Utama
  • Presiden Erdogan Kini Punya 10 Cucu, Kabar Bahagia Datang dari Keluarga Presiden Turki
  • Hampir 135 Ribu Jamaah Indonesia Salurkan Dam Lewat Adahi, Daging Diprioritaskan untuk Palestina
  • MUI: Qurban Presiden dengan Dana APBN untuk Masyarakat Sah dan Sesuai Syariat
  • Panas! Iran Hantam Pangkalan AS di Kuwait Setelah Serangan ke Pulau Qeshm
  • Hakim Agung Palestina: RUU Pembatasan Adzan adalah Pelanggaran Kebebasan Beribadah
  • ‘Israel’ Tunjuk Roman Gofman Jadi Kepala Mossad, Loyalis Netanyahu yang Dukung Pendudukan Gaza
  • Iran Tegaskan Siap Tempur Lebih Kuat Jika Perang dengan AS Kembali Pecah

Mungkin Anda Juga Suka

Mundurnya 'Israel' dari Gaza Utara, Awal dari Perang Penghabisan?
Analisis

Mundurnya ‘Israel’ dari Gaza Utara, Awal dari Perang Penghabisan?

5 Januari 2024 07:00
Analisis

Analisa Mantan Intel AS: Hamas Memenangkan Perang di Gaza

24 November 2023 13:00
Invasi Darat Israel ke Gaza
AnalisisArtikel

3 Skenario Invasi Darat Israel Menurut Pakar Keamanan Internasional

1 November 2023 06:10
Analisis

Serangan Pejuang Kemerdekaan Palestina  terhadap ‘Israel’ Makin Menampakkan Kemunafikan Barat

11 Oktober 2023 21:55
Hidayatullah.comHidayatullah.com
Follow US
Copyright 2023 © Hidayatullah.COM
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Informasi Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Indeks
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lupa password?