Hidayatullah.comHidayatullah.comHidayatullah.com
Pemberitahuan Lebih Banyak
Font ResizerAa
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Font ResizerAa
Hidayatullah.comHidayatullah.com
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Pencarian
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Oase Iman

Ilmu, Jalan Bahagia Paripurna

Insan Kamil
Terakhir diupdate: 8 Desember 2020 16:19 4:19 pm
Insan Kamil
Dipublikasikan 8 Desember 2020 16:19
Bagikan
[Ilustrasi]
Bagikan

Hidayatullah.com | SEBAGAI Muslim yang hidup di bumi Nusantara tentu kita tidak bisa lepas dari urf   (kebiasaan) yang berlaku di masyarakat Nusantara.  Hal ini adalah sebuah kelumrahan sebab manusia memang merupakan makhluk sosial yang tidak mungkin bisa lepas dari sistem dan pranata sosial yang berlaku di lingkungannya.

Urf  sendiri tidak selamanya bernilai buruk. Secara etimologi urf  berasal dari kata ‘arafa – ya’rifu, (عرف-  يعرف) yang artinya adalah sesuatu yang dikenal dan bernilai baik, sesuatu yang tertinggi, berurutan, pengakuan, dan kesabaran. (Syeikh Wahbah al Zuhailiy, Ushûl al-Fiqh al-Islâmiy, Vol. II, Damaskus: Dâr al-Fikr, Cetakan 16, 2008), 104).

Dan secara terminologi, urf  adalah keadaan yang sudah tetap dalam diri manusia, dibenarkan oleh akal serta diterima pula oleh tabiat yang sehat. Definisi ini menjelaskan bahwa perkataan dan perbuatan yang jarang dilakukan dan belum dibiasakan oleh sekelompok manusia, tidak dapat disebut sebagai ‘urf .

Begitu juga hal-hal yang sudah menjadi kebiasaan, namun ia bersumber dari nafsu dan syahwat, seperti minum khamr dan seks bebas, yang sudah menjadi sebuah tradisi sekelompok masyarakat, tidak bisa dikategorikan sebagai ‘urf .

Artinya, ‘urf  bukanlah suatu kebiasaan yang menyimpang dari norma dan aturan. (Konsep ‘Urf  dalam Penetapan Hukum Islam; Jurnal Tsaqofah Unida Gontor Vol. 13, No. 2 hal 282, November 2017).

Baca Juga

Masihkah Bisa Tersenyum Saat Al-Aqsha Terjajah?
Khutbah Jum’at: Saat Masjid Al-Aqsha Ternoda, Apa Masih Ada Nyala Iman di Dada?
Khutbah Jum’at: Ramadhan Berlalu, Amal Tetap Kontinu
Khutbah Idul Fitri 1447 H : Deklarasi Kemenangan Hati di Tengah Riuhnya Kesalehan Visual
Khutbah Jumat: Mengisi Rajab dengan Muhasabah, Amal dan Puasa

Sebagaimana penjelasan tersebut, di nusantara ini banyak sekali kita dapati beberapa kebiasaan (urf ) yang hampir tidak pernah ditinggalkan, salah satunya adalah dzikir dan wiridan berjama’ah lalu dipungkasi dengan doa penutup. Dan uniknya yang menjadi ciri khas Muslim di nusantara adalah sering membaca doa-doa pendek yang disambung secara berurutan.

Hal itu sesuai yang dicontohkan oleh Nabi Muhammad ﷺ yang diriwayatkan dari Sayyidah Aisyah radhiyallahu ‘anha, bahwa beliau berkata,

كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَسْتَحِبُّ الْجَوَامِعَ مِنْ الدُّعَاءِ وَيَدَعُ مَا سِوَى ذَلِكَ

“Rasulullah ﷺ menyukai doa-doa yang singkat padat, dan meninggalkan selain itu.” (HR: Abu Daud no. 1482)

Dan yang “wajib” untuk tidak ditinggal oleh umat Islam di Nusantara adalah doa sapu jagad yang biasanya dibaca di penghujung doa sebelum ditutup dengan sholawat kepada Nabi Muhammad ﷺ. Doa sapu jagad ini adalah doa yang juga sangat disukai oleh Rasulullah ﷺ. Diriwayatkan dari sahabat Anas Bin Malik Radiyallahu Anhu,

 

كَانَ أكثرُ دعاءِ النبيّ – صلى الله عليه وسلم – : (( اللَّهُمَّ آتِنَا في الدُّنْيَا حَسَنَةً ، وَفِي الآخِرَةِ حَسَنَةً ، وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ )) متفقٌ عَلَيْهِ .

“Doa yang lebih sering diucapkan oleh Rasulullah ﷺ adalah Allahumma aatina fid dunyaa hasanah, wa fil akhiroti hasanah, wa qinaa ‘adzaban naar (Ya Allah, berikanlah kepada Kami kebaikan di dunia, berikan pula kebaikan di akhirat dan lindungilah Kami dari adzab Neraka).” (HR: Bukhari no. 4522 dan Muslim no. 2690).

Mengapa doa ini disukai oleh Rasulullah ﷺ dan dianggap sebagai doa sapu jagad, sebab di dalam doa ini tercakup tiga hal yang sangat dibutuhkan oleh setiap manusia yakni kebaikan dunia; kebaikan akhirat; dan sekaligus terbebas dari api neraka. Itulah mengapa doa sapu jagad menjadi primadona yang tentu menjadi kewajaran belaka jika menjadi doa yang selalu wajib dibaca.

Mengenai doa yang tersebut di dalam surah Al Baqarah ayat 201 ini, Imam Hasan Al Bashri Radiyallahu Anhu memiliki tafsir yang menarik. Beliau menafsirkan kalimat kebaikan di dunia (hasanah fid dunya) adalah berupa ilmu dan ibadah. Dan kebaikan di akhirat (hasanah fil akhirah) adalah Surga.

Ini senada dengan ungkapan dari Imam Syafii Radiayallahu anhu yang mengatakan,

مَن أراد الدنيا فعليه بالعلم, ومَنۡ أراد الأٓخرۃ فعليه بالعلم, فإنّهُ يُحۡتَاجُ اليه في كُلِّ منهما

“Barangsiapa yang menginginkan dunia maka harus dengan ilmu;  dan barangsiapa yang menginginkan akhirat maka harus dengan ilmu; maka sesungguhnya ilmu itu dibutuhkan untuk mendapatkan keduanya (dunia dan akhirat).”

Ini menandakan bahwa kebaikan di dunia dan di akhirat hanya bisa digapai dengan cara yang sama yakni melalui ilmu.  Ibadah yang merupakan aktivitas paling fitrah bagi manusia yang merupakan hamba Allah pun juga membutuhkan ilmu.

Sebab ibadah yang tidak didasari dengan ilmu lebih banyak mudharatnya daripada manfaatnya. Hal ini kata para ulama salaf diakibatkan karena ibadah yang dikerjakan tanpa landasan ilmu berpeluang besar banyak tidak sah nya atau minimal dominan kecacatannya.

Maka dari itulah ilmu sangat diperlukan di dalamnya. Sehingga wajar manakala aktivitas apapun yang terkait dengan ilmu sangat dijunjung kedudukannya di dalam Islam.

Rasulullah ﷺ pernah bersabda,

مَا عُبِدَ اللهُ بِشيءٍ أفضل منَ الفِقۡهِ في الدّين

“Tidaklah Allah disembah (diibadahi) dengan sesuatu yang lebih utama dibandingkan dengan paham pada ilmu agama.” (HR: Baihaqi).

Lebih lanjut hadis itu dijelaskan oleh hadis yang diriwayatkan oleh Sayyidina Ibnu Abbas Radiyallahu Anhu yang berkata bahwa Rasulullah ﷺ bersabda,

فقيهٌ واحدٌ أشدُّ علیٰ الشيطانِ مِنۡ ألفِ عابد

“Seorang yang paham ilmu agama lebih ditakuti setan daripada seribu ahli ibadah (yang tidak paham ilmu).”(HR: At Tirmidzy).

Mengenai kedudukan ilmu dan yang terkait dengannya, sahabat Abu Darda’ Radiyallahu Anhu berkata,

العالمُ والمتعلّمُ شريكانِ في الخير, وساءرالناس همَجٌ لا خيرَ فيهم

“Orang yang berilmu dan orang yang belajar ilmu itu adalah dua sekutu dalam kebaikan, sedangkan seluruh manusia (lainnya) adalah dungu, tidak ada kebaikan padanya.”

Al Allamah Al Habib Zain Bin Ibrahim Bin Smith di dalam kitabnya, Manhajus Sawy, menyatakan bahwa ilmu lebih tinggi dan lebih utama daripada seluruh amal yang dilakukan untuk mendekat kepada Allah Swt.   Sebab ilmu adalah pondasi daripada ibadah dan sumber daripada kebaikan seperti halnya bahwa kebodohan adalah pokok daripada segala keburukan dan pangkal daripada malapetaka. (Manhajus Sawy Syarh Ushul Thoriqoh Sadah Al Ba’alawy Lil Habib Zein Bin Ibrahim Bin Smith, hal : 77-78).

Maka jikalau benar umat Islam ingin mendapatkan kebahagiaan dunia- akhirat dan bebas daripada api neraka tidak ada jalan lain melainkan dengan ilmu. Sebab kata Imam Junaid Bin Muhammad Al Baghdadi (Sayyidut Tho’ifah), semua jalan menuju Allah Swt telah tertutup dan hanya satu yang masih terbuka yakni lewat cara menapaki atsar (jejak) Nabi Muhammad ﷺ.

Dan apakah jejak yang ditinggalkan oleh Rasulullah ﷺ, tidak lain melainkan Al Qur’an dan As Sunah.  Dan bagaimana cara memahami dua pusaka warisan agung itu, tidak ada lain melainkan lewat jalur ilmu.

Ini sesuai sabda Rasulullah ﷺ,

“Sesungguhnya para Nabi tidak mewariskan dinar dan dirham, mereka hanyalah mewariskan ilmu. Barangsiapa yang mengambilnya, maka dia telah memperoleh keberuntungan yang banyak.” (HR Abu Dawud).

Dari berbagai pemaparan di atas dapat disimpulkan bahwa pengejawantahan nyata dari doa sapu jagad adalah lewat jalur ilmu. Ini menjadi sebuah konsekuensi logis sebab yang dituju bukanlah cita-cita yang remeh.

Kebahagiaan dunia dan akhirat serta terbebas dari siksa neraka adalah hal besar yang mesti “ditebus” dengan pengorbanan yang besar pula, yakni berpayah-payah dalam menuntut ilmu. Dan itulah satu-satunya harga yang pantas. Wallahu A’lam Bis Showab.* Muhammad Syafi’i Kudo, murid Kulliyah Dirosah Islamiyyah Pandaan Pasuruan

 

Redaktur: Insan Kamil
Bantu kami terus menyuarakan kebenaran!

Scan QRIS dan dukung #Journalism4Ummah

donasi online
TAG:ilmujalan bahagiakebahagian akheratkebahagian duniakehidupanMuslim
Bagikan tulisan ini
Facebook Whatsapp Whatsapp Telegram Email Salin tautan Print
Tulisan sebelumnya Macron Menghadapi Masalah Hak Asasi Manusia Mesir di Tengah Kunjungan As-Sisi
Tulisan selanjutnya PP Muhammadiyah Menyayangkan Keterlibatan TNI dalam Proses Penjelasan Kematian 6 Anggota FPI

Ikuti Kami

1.2KLike
89KFollow
27.8KFollow
222KSubscribe
Ad image
Ad image

Terpopuler

Lentera Hidup

Teladan Jusuf Wibisono : Pejabat Masyumi yang Berintegritas Tinggi

Lentera Hidup
30 Juni 2026 10:26
Membangun Peradaban dari Rumah: Ketahanan Keluarga sebagai Jalan Kebangkitan Umat
Helikopter Mendarat Darurat di Laut Arab Satu Tentara Amerika Hilang
Kloter Terakhir Jamaah Indonesia Tiba di Tanah Air, Operasional Haji 2026 Berakhir
Ketua Umum MUI Dorong Pemerintah Tiru Rusia Tetapkan Gerakan LGBT Teroris

Terbaru

  • Pesan Khutbah Jum’at H. Agus Salim Tahun 1928: Persatuan Lahir dan Batin
  • Kloter Terakhir Jamaah Indonesia Tiba di Tanah Air, Operasional Haji 2026 Berakhir
  • Hamas Berharap Pasukan Internasional Jadi Penghalang Pelanggaran ‘Israel’ di Gaza
  • Aksi-Aksi Suporter Bola Dukung Palestina di Piala Dunia 2026
  • Akui Gagal Gulingkan Hamas, Netanyahu Siapkan “Migrasi Sukarela” bagi Penduduk Gaza
  • Rusia Sempat Dituduh, Pipa Gas Nord Stream Ternyata Disabotase Tentara Ukraina
  • Helikopter Mendarat Darurat di Laut Arab Satu Tentara Amerika Hilang
  • Membangun Peradaban dari Rumah: Ketahanan Keluarga sebagai Jalan Kebangkitan Umat
  • Ketika Ilmu Pengetahuan Berpihak pada Kuasa, Bukan Kebenaran
  • MUI Perjuangkan Akses Hunian Layak bagi Dai dan Guru Ngaji

Mungkin Anda Juga Suka

Oase Iman

Khotbah Jumat: Islam Menentang Aksi Premanisme

8 Mei 2025 13:08
Oase Iman

Khutbah Jumat: Hormat kepada Ulama, Santun kepada Sesama

24 April 2025 18:21
Oase Iman

Khutbah Jumat: Waspadai Faktor Penggagal Fatwa Jihad PalestinaL: Diri Kita Sendiri!

11 April 2025 07:28
Oase Iman

Khutbah: Idul Fitri dan Momentum Merajut Persaudaraan Sesama Umat Islam

30 Maret 2025 22:00
Hidayatullah.comHidayatullah.com
Follow US
Copyright 2023 © Hidayatullah.COM
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Informasi Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Indeks
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lupa password?