Hidayatullah.comHidayatullah.comHidayatullah.com
Pemberitahuan Lebih Banyak
Font ResizerAa
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Font ResizerAa
Hidayatullah.comHidayatullah.com
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Pencarian
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Opini

Saling Berpantun Simbol Tanpa Suara

Admin Hidcom
Terakhir diupdate: 13 Juni 2021 13:49 1:49 pm
Admin Hidcom
Dipublikasikan 13 Juni 2021 10:00
Bagikan
Bagikan

Oleh: Ady Amar

Hidayatullah.com | SIMBOI-simbol akan terus muncul di seputar kita, bahkan dimunculkan sebagai bahasa isyarat. Dalam budaya Jawa simbol menjadi tradisi ungkapan atau isyarat, tidak dalam kalimat vulgar atau terang-terangan. Tapi pihak yang disasar setidaknya memahami, bahwa simbol itu dikirim untuknya.

Semua bisa disimbol-simbolkan, apalagi dalam politik. Maka simbol-simbol akan dikirim, bahkan tak mustahil saling berbalasan seperti pantun tanpa kata. Bisu dalam bersuara, tapi tidak diam bersikap-bertindak dalam mengirim isyarat apa yang dimaksudkan dan dikehendaki. Simbol itu punya makna, meski tidak semua ngeh memahaminya.

Presiden Joko Widodo juga mengirim simbol saat Megawati menerima gelar Profesor Kehormatan. Ia tidak hadir dalam acara penganugerahan di Universitas Pertahanan RI (Unhan) itu. Hanya mengirim ucapan selamat lewat video, dan diputar atau dimunculkan di akhir acara seremonial, saat acara sudah selesai.

Baca Juga

Mendudukkan Kasus Kejahatan Seksual di FHUI
Flotilla Indonesia to Gaza 2.0: Peluang, Tantangan, Transparansi
Menyikapi Fenomena ‘Cocoklogi’: Mengaitkan Peristiwa Kontemporer dengan Nubuat Akhir Zaman
Board of Peace dan International Stabilization Forces: 5 Tanda Bahaya bagi Diplomasi Indonesia
Prabowo Tidak Peduli dengan Palestina

Lalu apa hubungannya dengan simbol yang dikirim Presiden Jokowi itu, pada hal apa itu bisa dikatakan simbol. Maka ketidakhadirannya di acara itu, dan lebih memilih kunjungan ke Jawa Tengah menemui Ganjar Pranowo, dari situlah kita bisa memahami, bahwa simbol telah dikirimnya.

Maka, makna simbol yang dikirim itu bisa ditafsir, bahwa “perjodohan” di sana, Prabowo yang duduk bersebelahan dengan Puan Maharani pada acara di Unhan itu, menurut simbol yang dikirimnya, itu tidak tepat. Maka memilih menemui Ganjar Pranowo itulah pilihan yang ingin ditampakkannya. Sebuah pilihan keberpihakan.

Tentu menafsir simbol di tahun politik lebih mudah dibaca arah dan sasarannya hendak ke mana. Tapi menafsir simbol itu tentu belum pasti kebenarannya, meski benang merahnya sudah tampak benderang. Sekali lagi, itu belum pasti benar.

Tapi jika lalu pihak lain menghubung-hubungkan sebuah peristiwa itu dengan simbol, maka tidak patutlah itu disalahkan. Itu semacam analisa pada suatu peristiwa, bisa benar atau bisa sebaliknya. Simbol itu bahasa isyarat, justru bisa jadi si pengirim simbol berharap ada pihak yang mau menfasir, agar pesannya sampai.

Simbol dengan Pesan Tajam Menyengat

Simbol yang dikirim atau dilakukan, itu lebih sebagai bentuk protes dengan isyarat. Tidak ingin terang-terangan. Maka simbol dikirimnya agar para pihak yang disasar memahaminya. Memahami akan sikapnya, sikap protesnya. Maka simbol yang dikirimnya, itu bisa juga ditafsir pihak lain. Sekali lagi, bisa jadi itulah yang memang diharapkannya.

Maka simbol yang dikirim menjadi konsumsi publik. Maka para penafsir simbol bersahutan menerjemahkannya agar lebih jelas maknanya. Lebih mudah difahami, agar tahu sikap dan posisi pengirim simbol itu berada di mana.

Mengapa memilih ke Jawa Tengah ketimbang menghadiri peristiwa “sakral” yang diterima Ibu Megawati Soekarnoputri, yang itu bisa jadi sekali-kalinya dalam hidup, yang bisa diibaratkan dengan kematian, yang juga cuma sekali diterima anak manusia.

Bukankah ke Jawa Tengah bisa diatur pada waktu lainnya, bisa di- reschedule ulang pada waktu yang tepat. Tapi jika itu yang dilakukan, tentu tidak muncul simbol. Padahal simbol itu ada setelah pemihakan pilihan itu dimunculkan. Simbol itu yang sedang dikirimkannya. Dan khalayak dengan sendiri nya melihat kemunculan simbol-simbol itu.

Simbol yang dikirim menjadi menarik dan berkelas, jika simbol yang dikirim itu punya bobot pesan yang tajam dan menyasar pihak yang juga punya posisi sedang di atas. Sedang ada dalam pusaran menentukan arah strategi perjalanan yang akan ditentukan. Jika itu ditingkat negara, maka perjalanan menuju 2024, bisa disebut makna sebenarnya dari simbol itu dikirim.

Maka tidak salah jika petugas partai pun pada suatu waktu juga akan menunjukkan sikapnya, jika itu menyangkut kekuasaan. Tampak melawan meski hanya dengan simbol. Tapi simbol yang dikirimnya, itu tajam menyengat bagai kalajengking Afrika, meski ia asli etnis Jawa. (*)

Kolumnis, tinggal di Surabaya

Baca: artikel lain Ady Amar

Redaktur: Admin Hidcom
Bantu kami terus menyuarakan kebenaran!

Scan QRIS dan dukung #Journalism4Ummah

donasi online
Bagikan tulisan ini
Facebook Whatsapp Whatsapp Telegram Email Salin tautan Print
Tulisan sebelumnya Ibadah Haji 2021 Saudi ditiadakan Haji 2021 Hanya untuk Warga Saudi dan Ekspatriat, Pemerintah Indonesia Fokus Persiapan Haji 2022
Tulisan selanjutnya Azerbaijan Tukar 15 Tawanan Armenia dengan Peta Lokasi Ranjau Darat

Ikuti Kami

1.2KLike
89KFollow
27.8KFollow
222KSubscribe
Ad image
Ad image

Terpopuler

Berita

MUI: Qurban Presiden dengan Dana APBN untuk Masyarakat Sah dan Sesuai Syariat

Berita
3 Juni 2026 12:08
Ekonomi Syariah Global Tembus USD 8,6 Triliun, Indonesia Harus Naik Kelas Jadi Produsen Utama
Irlandia Bakal Larang Impor dari Permukiman ‘Israel’ Mulai Pertengahan Juli
Influencer Singapura Didenda S$3.500 karena Mengiklankan Vape di Telegram
Iran Persiapkan Upacara Pemakaman Besar untuk Ayatullah Ali Khamenei

Terbaru

  • Turki Tegaskan Komitmennya untuk Perkuat Keuangan Syariah
  • Fatah Tunjuk Hussein al-Sheikh Jadi Wakil Mahmoud Abbas
  • ‘Israel’ Klaim Penjualan Senjata ke Negara Arab Melonjak Tajam, Banyak yang Beli Diam-Diam
  • Turki Siapkan Proyek Kereta Hijaz sebagai Alternatif Selat Hormuz
  • Harga Obat Terancam Naik, DPR Minta Perlindungan untuk Pasien Penyakit Kronis
  • Bantah Menolak Lepas Kendali Gaza, Hamas: Kebohongan ‘Israel’
  • Bachtiar Nasir: Pesantren Hadapi Ujian Besar Kepercayaan Publik di Era Digital
  • Ekonomi Syariah Global Tembus USD 8,6 Triliun, Indonesia Harus Naik Kelas Jadi Produsen Utama
  • Presiden Erdogan Kini Punya 10 Cucu, Kabar Bahagia Datang dari Keluarga Presiden Turki
  • Hampir 135 Ribu Jamaah Indonesia Salurkan Dam Lewat Adahi, Daging Diprioritaskan untuk Palestina

Mungkin Anda Juga Suka

Opini

Dampak Genosida Gaza, Ekspor Produk Pertanian ‘Israel’ Terancam Kolaps

22 Januari 2026 07:40
Opini

Zohran Mamdani, Venezuela, dan Ingatan Panjang Kekerasan Amerika

5 Januari 2026 11:00
Opini

Zohran Mamdani dan Paranoia Primitif di Jantung Amerika

11 November 2025 16:00
Opini

Ketika Bertanya Dianggap Bersalah: Membaca Logika Polisi atas Kasus Roy Suryo Cs

10 November 2025 10:19
Hidayatullah.comHidayatullah.com
Follow US
Copyright 2023 © Hidayatullah.COM
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Informasi Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Indeks
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lupa password?