Hidayatullah.comHidayatullah.comHidayatullah.com
Pemberitahuan Lebih Banyak
Font ResizerAa
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Font ResizerAa
Hidayatullah.comHidayatullah.com
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Pencarian
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Opini

Zohran Mamdani, Venezuela, dan Ingatan Panjang Kekerasan Amerika

Ketika Amerika Serikat menangkap Nicolás Maduro, presiden negara berdaulat Venezuela, dunia kembali diingatkan pada ingatan panjang kekerasan Amerika. Di tengah kebungkaman itu, suara Zohran Mamdani justru memilih membangkang dan menyebutnya apa adanya: pelanggaran hukum internasional.

Admin Hidcom
Terakhir diupdate: 5 Januari 2026 10:57 10:57 am
Admin Hidcom
Dipublikasikan 5 Januari 2026 11:00
Bagikan
Bagikan

Oleh: Ady Amar, Kolumnis

Hidayatullah.com – Peristiwa ini bukan insiden tunggal yang lahir dari ruang hampa. Ia adalah kelanjutan dari tradisi lama dalam politik global Amerika Serikat—tradisi yang memosisikan kekuatan sebagai sumber legitimasi, dan hukum internasional sebagai alat yang bisa dipakai atau dibuang sesuai kepentingan. Penangkapan kepala negara berdaulat, beserta istrinya, lalu dibawa keluar dari wilayah negaranya sendiri, bukanlah penegakan hukum. Ia adalah pernyataan kekuasaan yang telanjang.

Dalih yang digunakan pun terasa usang namun efektif: tuduhan penyelundupan narkotika. Dalih semacam ini telah lama menjadi pintu masuk intervensi. Dalam sejarah panjang Amerika Latin, kriminalisasi pemimpin kerap menjadi tahap awal sebelum penggulingan, isolasi, atau penghancuran sistematis. Bahasa hukum dipinjam, tetapi tujuannya politik.

Amerika Latin mengenal pola ini terlalu baik. Guatemala, Chile, Nikaragua, Panama, Bolivia—daftar itu menyimpan luka yang sama. Pemimpin yang tak sejalan dengan Washington lebih dulu didelegitimasi, lalu disingkirkan. Kedaulatan di kawasan ini kerap bersyarat: dihormati selama tidak mengganggu kepentingan geopolitik dan ekonomi Amerika Serikat.

Sejarah itu tidak berhenti di belahan selatan benua Amerika. Dunia masih mengingat bagaimana Iraq dihancurkan dengan dalih senjata pemusnah massal—klaim yang kemudian terbukti palsu. Tidak ada pengadilan internasional bagi para perancang perang. Tidak ada pertanggungjawaban moral atas jutaan korban jiwa dan kehancuran satu bangsa. Irak menjadi monumen permanen dari satu kenyataan pahit: ketika Amerika memutuskan bertindak, kebenaran sering kali menjadi korban pertama.

Baca Juga

Ketika Ilmu Pengetahuan Berpihak pada Kuasa, Bukan Kebenaran
Pelajaran dari Kejatuhan Keir Starmer: Belum Sampai ke Pantai
Mendudukkan Kasus Kejahatan Seksual di FHUI
Flotilla Indonesia to Gaza 2.0: Peluang, Tantangan, Transparansi
Menyikapi Fenomena ‘Cocoklogi’: Mengaitkan Peristiwa Kontemporer dengan Nubuat Akhir Zaman

Dalam cahaya sejarah itulah penangkapan Maduro harus dibaca. Tuduhan narkotika hari ini menggemakan kebohongan senjata pemusnah massal kemarin.
Keduanya bekerja dengan logika yang sama; menciptakan musuh moral agar kekerasan bisa diterima publik. Sulit pula menafikan faktor geopolitik yang lebih telanjang—minyak. Venezuela memiliki cadangan minyak terbesar di dunia, bahkan melampaui Saudi Arabia. Dalam politik global, sumber daya strategis hampir tak pernah netral.

Ketika sanksi ekonomi gagal melumpuhkan, ketika tekanan diplomatik menemui jalan buntu, maka kriminalisasi pemimpin negara menjadi jalan pintas. Bukan demi hukum, melainkan demi kendali. Di titik inilah hukum internasional kehilangan maknanya dan berubah menjadi jargon kosong.

Di tengah tradisi kekerasan yang panjang dan mapan itu, sikap Zohran Mamdani menjadi penting. Ia bukan diplomat, bukan senator federal, bukan arsitek kebijakan luar negeri. Ia pejabat publik di tingkat lokal–Wali Kota New York. Namun justru dari posisi itulah keberaniannya memiliki bobot moral.
Dalam iklim politik Amerika yang kerap menyamakan kritik dengan pembangkangan, Mamdani memilih untuk tidak ikut diam.

Ia menyebut penangkapan itu sebagai pelanggaran hukum internasional dan tindakan perang.
Pernyataan ini sederhana, tetapi mahal. Ia menolak loyalitas buta pada negara ketika negara itu sendiri melanggar prinsip yang dikhotbahkannya ke dunia. Mamdani menunjukkan bahwa Amerika Serikat bukan suara tunggal, bukan mesin tanpa nurani.

Esai ini tidak sedang membela satu rezim atau mengultuskan satu figur. Ia membela prinsip yang kian rapuh: bahwa tidak ada negara, betapapun kuatnya, yang berhak bertindak sebagai polisi dunia tanpa hukum. Ketika kekuasaan memilih kekerasan dan mayoritas memilih diam, maka suara kecil yang berani berkata “ini salah” menjadi sangat berharga.

Zohran Mamdani telah memilih posisi itu. Dan dalam dunia yang semakin terbiasa menyaksikan ketidakadilan sambil berpaling, keberanian untuk bersuara—meski sendirian—adalah bentuk perlawanan paling awal, dan mungkin yang paling jujur.**

Redaktur: Admin Hidcom
Bantu kami terus menyuarakan kebenaran!

Scan QRIS dan dukung #Journalism4Ummah

donasi online
TAG:ASDonald TrumpPenculikan Nicolas MaduroVenezuelaZohran Mamdani
Bagikan tulisan ini
Facebook Whatsapp Whatsapp Telegram Email Salin tautan Print
Tulisan sebelumnya Spanyol dan Lima Negara Amerika Latin Kecam ‘Aksi Militer AS’ di Venezuela
Tulisan selanjutnya Laparkan Gaza, ‘Israel’ Cabut Izin 37 Organisasi Kemanusiaan Internasional

Ikuti Kami

1.2KLike
89KFollow
27.8KFollow
222KSubscribe
Ad image
Ad image

Terpopuler

Berita

MUI Siapkan Naskah Akademik dan RUU Pidana LGBT, Akan Didorong Masuk Prolegnas

Berita
29 Juni 2026 17:12
Otoritas Eropa Masih Imbau Maskapai Penerbangan Hindari Wilayah Udara Iran dan Timur Tengah
Tangis Perempuan Guangzhou: Ketika Pasar Jodoh China jadi Cermin Krisis Sosial
Sindikat Pakistan Selundupkan Plasenta Manusia untuk Injeksi Anti Penuaan
UNICEF: Anak-Anak Gunakan AI 3 Kali Lipat Lebih Banyak Dibanding Orang Dewasa

Terbaru

  • Jelang Proses Pemakaman Ayatullah Ali Khamenei, Jenderal Garda Revolusi Keluar dari Persembunyian
  • Sindikat Pakistan Selundupkan Plasenta Manusia untuk Injeksi Anti Penuaan
  • Otoritas Eropa Masih Imbau Maskapai Penerbangan Hindari Wilayah Udara Iran dan Timur Tengah
  • Dihantam Rudal di Selat Hormuz Kapal Kontainer CMA CGM akan Jadi Besi Rongsokan
  • Dua Pria Rumania Dibui karena Menikam Jurnalis Iran di London atas Suruhan Teheran
  • Sebuah Kafe di Damaskus Dibom, Sepuluh Orang Tewas
  • Psikolog UGM Ini Paparkan Sejarah APA “Normalisasi Homoseksual”
  • BEM Psikologi UI Sebut “Homoseksualitas Normal”, Psikolog Memberi Bantahan
  • OKI mengutuk RUU Penjajah ‘Israel’ Melarang Seruan Azan
  • DSKS Desak DPRD Solo Dorong Regulasi Tegas soal LGBT, DPRD Siap Kaji

Mungkin Anda Juga Suka

Opini

Board of Peace dan International Stabilization Forces: 5 Tanda Bahaya bagi Diplomasi Indonesia

20 Februari 2026 16:30
Opini

Prabowo Tidak Peduli dengan Palestina

29 Januari 2026 16:00
Opini

Dampak Genosida Gaza, Ekspor Produk Pertanian ‘Israel’ Terancam Kolaps

22 Januari 2026 07:40
Opini

Zohran Mamdani dan Paranoia Primitif di Jantung Amerika

11 November 2025 16:00
Hidayatullah.comHidayatullah.com
Follow US
Copyright 2023 © Hidayatullah.COM
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Informasi Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Indeks
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lupa password?