Hidayatullah.comHidayatullah.comHidayatullah.com
Pemberitahuan Lebih Banyak
Font ResizerAa
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Font ResizerAa
Hidayatullah.comHidayatullah.com
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Pencarian
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Catatan Akhir Pekan

Geger Gereja Pakai Nama Ulama

Admin Hidcom
Terakhir diupdate: 19 Juni 2021 10:23 10:23 am
Admin Hidcom
Dipublikasikan 19 Juni 2021 10:23
Bagikan
GKI Yasmin
Lokasi hibah lahan untuk pembangunan rumah ibadah GKI di Jalan KH Abdullah Bin Nuh, Kelurahan Cilendek Barat, Bogor Barat, Bogor.
Bagikan

Oleh: Dr. Adian Husaini

Hidayatullah.com | RENCANA Gereja Kristen Indonesia (GKI) Yasmin Bogor untuk memakai nama KH Abdullah bin Nuh akhirnya dibatalkan. Rabu (16/6/20201) malam ini, saya menerima kiriman pernyataan KH Musthafa Abdullah bin Nuh, bahwa GKI Yasmin Bogor batal memakai nama KH Abdullah bin Nuh.

Pernyataan KH Musthafa – Ketua MUI Kota Bogor dan seka”ligus putra KH Abdullah bin Nuh – itu mengakhiri kehebohan tentang penggunaan nama ulama untuk sebuah gereja. Pada 15 Juni 2021 situs https://koran.tempo.co menurunkan berita berjudul “Menanti Kehadiran Gereja Abdullah bin Nuh”.

Berita inilah yang antara lain memicu kehebohan di jagad berita. Banyak ulama bereaksi. Dua ulama terkenal Bogor, yaitu KH Didin Hafidhuddin dan KH Muhyidin Junaedi membuat pernyataan yang menolak penggunaan nama KH Abdullah bin Nuh untuk sebuah gereja. Dewan Da’wah Islamiyah Indonesia Kota Bogor juga secara resmi memohon kepada KH Musthafa untuk tidak menyetujui penggunaan nama KH Abdullah bin Nuh untuk gereja.

Tampaknya, begitu banyak masyarakat muslim yang memprotes penggunaan nama ulama besar asal Bogor itu. Dan alhamdulillah, akhirnya secara resmi KH Musthafa mengumumkan bahwa GKI Yasmin membatalkan rencana penggunaan nama KH Abdullah bin Nuh untuk gerejanya.

Baca Juga

Hiruk Pikuk Urusan Pilpres, Jangan Lupakan 5 Adab Bernegara
Selamat, Prof. KH Hamid F Zarkasyi jadi Tokoh Perbukuan Islam
Catatan Akhir Pekan: Jangan Lupakan dan Jangan Hancurkan Peradaban Melayu yang Agung
Jatuh Bangunnya Peradaban
Beginilah Berpolitik yang Cerdas

Alasan penggunaan nama KH Abdullah bin Nuh untuk GKI Yasmin Bogor memang didasarkan pada lokasi gereja yang berada di Jalan KH Abdullah bin Nuh, Bogor. Mungkin nama lengkapnya: “Gereja Jalan KH Abdullah bin Nuh”. Tapi, nama yang beredar sesuai pemberitaan media massa adalah “Gereja Abdullah bin Nuh”.

*****

Protes keras umat Islam terhadap penggunaan nama KH Abdullah bin Nuh untuk sebuah gereja tentu  terkait dengan kecintaan mereka kepada ulama besar itu. KH Abdullah bin Nuh bukanlah ulama sembarangan. Beliau adalah seorang ulama, pejuang kemerdekaan, sastrawan, sejarawan, dan juga penulis produktif.

Nama KH Abdullah bin Nuh tidak bisa dipisahkan dari nama al-Ghazali. Beliau juga dikenal sebagai penerjemah buku-buku al-Ghazali dan secara rutin mengajarkan Kitab Ihya’ Ulumiddin di  “Majlis al-Ghazali” yang berlokasi di Kota Bogor. Abdullah bin Nuh lahir di Cianjur, Jawa Barat,  pada 30 Juni 1905 (26 Rabiul Tsani 1323H). Ia wafat di Bogor pada 26 Oktober 1987.

umur belia, Abdullah bin Nuh telah menghafal kitab Nahwu Alfiyah Ibn Malik.  Ia juga pintar bergaul, santun dan ramah.     Pendidikan formalnya ditempuh di Madrasah I’anat ath Thalibin Muslimin, Cianjur. Madrasah ini didirikan oleh ayahnya. Keluarganya menanamkan percakapan bahasa Arab di rumah sejak kecil.  Hingga ia mengusai bahasa Arab baik lisan maupun tulisan. Disamping itu, Abdullah bin Nuh juga menguasai bahasa Inggris, Belanda, Jerman dan Perancis secara autodidak.

Kemampuannya dalam bahasa Arab memang mengagumkan. Abdullah bin Nuh mampu menggubah syair-syair dalam bahasa Arab. Ia juga menulis sejumlah buku dalam bahasa Arab. Mantan Menteri Agama, M. Maftuh Basyuni, yang pernah menjadi mahasiswanya di Jurusan Sastra Arab Universitas Indonesia, menceritakan bagaimana tingginya kemampuan bahasa Arab Abdullah bin Nuh.

Di awal tahun 1960-an, Maftuh sempat membantu dosennya itu dalam menyiapkan naskah-naskah radio berbahasa Arab. Naskah yang disiapkan Maftuh selalu mendapat koreksi yang sangat teliti dari Abdullah bin Nuh. “Beliau sangat membimbing dan memberi semangat dalam mengkoreksi. Padahal, banyak sekali kesalahan yang saya buat,” kata Maftuh.

Pada masa mudanya, Abdullah bin Nuh juga gigih memperjuangkan kemerdekaan Indonesia. Ia pernah menjadi anggota Pembela Tanah Air (PETA), 1943-1945, wilayah Cianjur, Sukabumi dan Bogor. Tahun 1945-1946 ia memimpin Badan Keamanan Rakyat (BKR) dan Tentara Keamanan Rakyat (TKR). Pada tahun 1948-1950, ia menjadi anggota Komite Nasional Indonesia Pusat (KNIP) di Yogyakarta.  Saat di Yogyakarta itu ia juga menjadi Kepala Seksi Siaran Bahasa Arab pada Radio Republik Indonesia (RRI) Yogyakarta dan Dosen Luar Biasa pada Universitas Islam Indonesia (UII).

Pada tahun 1950-1964 Abdullah bin Nuh menjabat Kepala Siaran Bahasa Arab pada RRI Jakarta. Ia juga seorang Lektor Kepala Fakultas Sastra Universitas Indonesia. Lebih dari 20 buku telah dihasilkan oleh KH Abdullah bin Nuh dalam berbagai bahasa. Diantara karyanya yang terkenal adalah :  (1). Kamus Indonesia-Inggris-Arab (bahasa Indonesia), (2) Tafsir al-Qur’an (bahasa Indonesia), (3). Studi Islam dan Sejarah Islam di Jawa Barat  hingga Zaman Keemasan Banten (bahasa Indonesia), dan sebagainya.

Satu karya besarnya dalam Bahasa Arab adalah kitab “Ana Muslimun  Sunniyun Syafi’iyyun”.  Sekitar tahun 1985-1987, bersama sejumlah mahasiswa IPB saya secara rutin mengkaji kitab Ana Muslimun Sunniyyun Syafi’iyyun.

Yang masih sangat berkesan adalah cara KH Abdullah bin Nuh menyikapi masalah-masalah khilafiah. Ketika memasuki pembahasan masalah-masalah khilafiah, beliau mengatakan, “Ini pendapat Mamak, terserah Ananda untuk mengambil pendapat yang lain.”

Mamak adalah sebutan akrab untuk KH Abdullah bin Nuh. Saya menyaksikan, bahwa beliau juga tetap berusaha melaksanakan shalat berjamaah di mushalla Majlis al-Ghazali, meskipun sambil duduk. Kadangkala rakaat pertama masih berdiri, tapi rakaat kedua sudah shalat sambil duduk.

Begitulah sekilas sosok kehidupan, pemikiran, dan perjuangan KH Abdullah bin Nuh. Begitu banyak murid beliau yang tersebar ke berbagai pelosok Indonesia. Karena itu, bisa dipahami, mengapa umat Islam sangat mencintai KH Abdullah bin Nuh dan berkeberatan namanya digunakan untuk ditempelkan pada sebuah gereja. (Depok, 16 Juni 2021).*

Pengasuh Attaqwa College (ATCO), Depok, Jawa Barat. www.adianhusaini.id

Redaktur: Admin Hidcom
Bantu kami terus menyuarakan kebenaran!

Scan QRIS dan dukung #Journalism4Ummah

donasi online
TAG:gerejaGereja Kristen IndonesiaGKI YasminKH. Abdullah bin Nuhulama
Bagikan tulisan ini
Facebook Whatsapp Whatsapp Telegram Email Salin tautan Print
Tulisan sebelumnya Covid Kembali Melonjak, PP Muhammadiyah: Mungkin Kita Sombong
Tulisan selanjutnya narkoba ma'ruf Ma’ruf Amin: Tugas Ulama Melakukan Perbaikan, Bukan Mencari Kekuasaan

Ikuti Kami

1.2KLike
89KFollow
27.8KFollow
222KSubscribe
Ad image
Ad image

Terpopuler

Berita

Turki Siapkan Proyek Kereta Hijaz sebagai Alternatif Selat Hormuz

Berita
4 Juni 2026 10:00
Hakim Memutuskan Nama Donald Trump Dihapus dari Gedung Kesenian Kennedy Center
Presiden Erdogan Kini Punya 10 Cucu, Kabar Bahagia Datang dari Keluarga Presiden Turki
Hampir 135 Ribu Jamaah Indonesia Salurkan Dam Lewat Adahi, Daging Diprioritaskan untuk Palestina
Harga Obat Terancam Naik, DPR Minta Perlindungan untuk Pasien Penyakit Kronis

Terbaru

  • Fatah Tunjuk Hussein al-Sheikh Jadi Wakil Mahmoud Abbas
  • ‘Israel’ Klaim Penjualan Senjata ke Negara Arab Melonjak Tajam, Banyak yang Beli Diam-Diam
  • Turki Siapkan Proyek Kereta Hijaz sebagai Alternatif Selat Hormuz
  • Harga Obat Terancam Naik, DPR Minta Perlindungan untuk Pasien Penyakit Kronis
  • Bantah Menolak Lepas Kendali Gaza, Hamas: Kebohongan ‘Israel’
  • Bachtiar Nasir: Pesantren Hadapi Ujian Besar Kepercayaan Publik di Era Digital
  • Ekonomi Syariah Global Tembus USD 8,6 Triliun, Indonesia Harus Naik Kelas Jadi Produsen Utama
  • Presiden Erdogan Kini Punya 10 Cucu, Kabar Bahagia Datang dari Keluarga Presiden Turki
  • Hampir 135 Ribu Jamaah Indonesia Salurkan Dam Lewat Adahi, Daging Diprioritaskan untuk Palestina
  • MUI: Qurban Presiden dengan Dana APBN untuk Masyarakat Sah dan Sesuai Syariat

Mungkin Anda Juga Suka

Catatan Akhir Pekan

Peringatan Penting Ulama India

26 Desember 2022 14:45
Catatan Akhir Pekan

Teokrasi dan Demokrasi

17 Desember 2022 17:10
Catatan Akhir Pekan

Beginilah Terjadinya Liberalisasi Politik

5 Desember 2022 11:45
Catatan Akhir Pekan

Menjaga Pikiran di Era Kebohongan

26 November 2022 14:10
Hidayatullah.comHidayatullah.com
Follow US
Copyright 2023 © Hidayatullah.COM
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Informasi Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Indeks
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lupa password?