Hidayatullah.com–Wakil Presiden Ma’ruf Amin mengatakan tugas Majelis Ulama Indonesia (MUI) untuk menjaga umat (himayatul ummah), memberdayakan umat (taqwiyatu al-ummah), dan menyatukan umat (tauhidu al-ummah). Tinggal bagaimana kita di MUI melaksanakan dan mewujudkan apa yang telah tergariskan tersebut.
“Kita di MUI telah memulai himayatul ummah (menjaga umat), baik dari sisi akidah/ibadah sesat, pemikiran menyimpang, akhlah tidak terpuji, mu’amalah ribawiyah, produk tidak halal, dan sebagainya,” katanya dalam acara sambutan Silaturrahim Halal Bihalal Nasional MUI Tahun 2021, Jumat (18/6/2021).“Kita di MUI juga telah memulai taqwiyatul ummah (pemberdayaan umat), baik dari segi ekonomi, pendidikan, kesehatan, dan sebagainya. Kita di MUI juga sudah mengupayakan untuk adanya tauhidul ummah (persatuan umat),” tambahnya.
Menurutnya, tugas ulama bukan mencari kekuasaan, tetapi untuk memperbaiki akidah dan menyatukan umat. Menyatukan umat supaya tidak terjadi sumber perpecahan dan perselisihan. Sayangnya, menurut Ma’ruf Amin, langkah-langkah itu selama ini belum optimal.
Ia mengingatkan, dalam konteks sebagai pengurus MUI harus ingat kembali tugas utama keulamaan, seperti dikatakan Nabi Syuaib dalam Al-Qur’an. “Tugas kita adalah ishlahu al-ummah, memperbaiki umat. Ini merupakan khitthah nabawiyyah, langkah-langkah kenabian.
Menurut Ma’ruf, ada empat perbaikan yang perlu dilakukan. Di antaranya, ishlah fi al-‘aqidah (memperbaiki aqidah), ishlah fi al-ibadah (memperbaiki ibadah), ishlah fi al-mu’amalah (memperbaiki muamalah), dan juga ishlah fi al-akhlaq (memperbaiki ahlak).
“Tugas utama kita adalah melakukan perbaikan-perbaikan itu, dengan niat mencari keridoan Allah SWT, bukan untuk mencari kehormatan, dan bukan juga untuk mencari kekuasaan,” katanya.
Selanjutnya Ma’ruf mengajak MUI lebih meningkatkan ikhtiar agar benar-benar dianggap siap menerima bantuan Allah. “Sebab apabila kita tidak mampu membangun langkah-langkah Khitthah Nabawiyah itu, saya kira barangkali kita belum dianggap siap. Sehingga bantuan Allah yang dijanjikan belum sampai pada kita,” katanya.
Ia juga mengatakan, mungkin ada yang bertanya, bukankan di tempat kita ini banyak ulama dan banyak orang-orang shaleh. Tidakkah keberadaan mereka bisa menaikkan kesiapan kita di mata Allah?
“Saya harus mengatakan bahwa kesalehan seseorang di kelompok tertentu itu tidak menjamin. Jangankan di era kita saat ini, di era Rasulullah pun juga demikian. Suatu ketika Sayyidatuna Zainab pernah bertanya kepada Nabi Muhammad. “Ya Rasulallah, apakah kita bisa dihancurkan padahal kita banyak orang saleh. Nabi Menjawab: iya, bisa, jika kejelekan/kemungkaran itu banyak,” katanya.
Ma’ruf juga mencontohkan, di masa Rasulullah masih hidup ada kisah dalam Perang Uhud yang bisa menjadi pelajaran. Di mana saat itu terjadi al-khabats, berupa ketidakpatuhan pada perintah Rasulullah sebagai ulil amri saat itu.
“Saat itu beliau menempatkan tukang panah (rumaat) di gunung/bukit, dan tidak boleh mereka meninggalkan pos mereka apapun yang terjadi. Saat pasukan umat Islam memperoleh kemenangan dan mengumpulkan rampasan perang, para tukang panah ini melupakan perintah Rasulullah. Mereka tertarik oleh masalah-masalah rampasan (duniawi) sehingga meninggalkan posnya dan turun ikut mengumpulkan rampasan,”katanya.
Ketidakpatuhan dalam menjaga perintah Rasulullah tersebut, kata Ma’ruf, telah membawa akibat yang luar biasa besar. Saat pasukan kuffar Quraisy merebut bukit tersebut dan menguasainya, maka itu menjadi titik kelemahan pasukan Muslim, hingga akhirnya pasukan Muslim kalah dan banyak yang gugur syahid.
“Pertanyaannya, kenapa hal itu bisa terjadi, padahal Rasulullah ada di tengah-tengah mereka. Bukankah Rasulullah adalah orang paling mulia di sisi Allah? Hal itu terjadi tidak lain karena ada al-khabats, yaitu terjadi pengkhianatan, ketidak patuhan, dan ketidaktaatan,” katanya. “Peristiwa ini menjadi pelajaran penting. Kemenangan yang hampir terjadi, berubah menjadi kekalahan disebabkan oleh adanya ketidakpatuhan,” tambahnya.
Selanjutnya, ia mengajak MUI menyiapkan segala sesuatunya agar bisa kuat. “Yakni, membangun umat supaya kuat, karena al-mu’minu al-qowiyyu khoirun wa ahabbu ilallah min al-mu’min ad-dha’if, orang mukmin yang kuat itu lebih baik dan lebih dicintai oleh Allah daripada mukmin yang lemah. Walaupun sebenarnya semua juga baik. Walaupun lemah, orang mukmin itu baik. Tapi al-qawiy ahabbu ilaAllahi, mukmin yang kuat lebih disukai oleh Allah,”tambah Ma’ruf.*