Hidayatullah.comHidayatullah.comHidayatullah.com
Pemberitahuan Lebih Banyak
Font ResizerAa
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Font ResizerAa
Hidayatullah.comHidayatullah.com
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Pencarian
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Nasional

Satu Wasiat Penting KH. Abdullah Said

Admin Hidcom
Terakhir diupdate: 13 Agustus 2021 16:22 4:22 pm
Admin Hidcom
Dipublikasikan 13 Agustus 2021 16:21
Bagikan
Bagikan

oleh: Muh. Zaitun Rasmin

 

Hidayatullah.com | PADA pada 1 Muharram 1443 Hijriah organisasi Hidayatullah memasuki masa setengah abad, yang dikenal sebagai usia emas. Sejarah kelahiran dan perkembangan ormas Islam tersebut tidak dapat dipisahkan dari nama besar KH. Abdullah Said rahimahullah.

Beliau, yang dibantu sejumlah pemuda muslim bersemangat tinggi, pada 1971 membangun sebuah ponpes ‘darurat’ di tengah hutan Kalimantan. Dari ponpes ‘darurat’ (secara fisik) itulah, semangat dakwah dan tarbiyah digelorakan para santri beliau ke seluruh penjuru Indonesia.

Ketua Umum Dewan Dakwah Islamiyah Indonesia (DDII), Dr. Adian Husaini, MA., bersyukur atas keberhasilan para santri KH. Abdullah Said dalam memajukan dakwah dan tarbiyah, sehingga Hidayatullah bisa disejajarkan dengan ormas-ormas Islam yang lahir terlebih dahulu puluhan tahun silam. (adianhusaini.id, 8/8/2021).

Baca Juga

Lukmanul Hakim MUI wafat
KH Dr. Lukmanul Hakim, Pejuang Ekonomi Umat yang Berpulang
Layanan SIHALAL Bermasalah, ALPHI Minta Dikembalikan Ke Sistem Lama
LPPOM Bersama ALPHI Kupas Tuntas Tarif dan Waktu Proses Sertifikasi Halal
PAD Kota Depok Meningkat Tanpa Iklan Rokok
Pembukaan Silatnas 2023, Pj Gubernur Kaltim Puji Kiprah Dai – Daiyah Hidayatullah

Kini, semangat dakwah dan tarbiyah Hidayatullah telah dijadikan teladan oleh sejumlah lembaga yang lebih ‘muda’, salah satunya Wahdah islamiyah, untuk turut membumikan ajaran Nabi Muhammad ﷺ di seluruh penjuru Indonesia, bahkan dunia. Masih sangat banyak umat muslim yang membutuhkan pembinaan dari para da’i, agar mereka dapat memahami dan merealisasikan Islam secara murni sesuai yang telah diajarkan Rasulullah ﷺ.

Tidak sedikit pula umat non-muslim yang ingin diajak berdialog oleh para da’i, agar mereka lebih mengenal Islam sebagai agama rahmatan lil alamin. Suatu kebahagiaan jika ada di antara mereka yang kembali kepada Islam, setelah diajak berdialog secara sejajar dengan para da’I, atau minimal mereka bersimpati kepada Islam, meskipun belum diberi hidayah untuk memeluk agama ini.

KH. Abdullah Said berharap agar Hidayatullah dan lembaga-lembaga dakwah lainnya dapat ‘menerjunkan’ sebanyak mungkin da’i berkualitas yang diterima secara luas oleh jutaan, bahkan milyaran penduduk dunia ini. Tentang kualitas da’i, ada banyak point penting yang telah diwasiatkan KH. Abdullah Said.

Wasiat-wasiat tersebut banyak disampaikan secara lisan melalui mimbar-mimbar ceramah, juga tidak sedikit yang dituliskan secara random maupun berseri pada rubrik Sistematika Wahyu majalah Suara Hidayatullah. Namun dalam tulisan ini hanya disebutkan satu point wasiat saja: da’i harus rajin membaca.

Dalam rubrik Sistematika Wahyu yang ditulis pada tahun-tahun awal Suara Hidayatullah, KH. Abdullah Said menilai, bahwa begitu pentingnya aktivitas membaca bagi umat akhir zaman yang dipimpin Nabi Muhammad ﷺ, hingga Allah swt. menurunkan wahyu pertama-Nya berupa anjuran untuk membaca. (QS. al-Alaq : 1 – 5).

Menurut beliau, dunia dakwah sebenarnya tidak bisa dipisahkan dengan budaya membaca. Para ulama kita memiliki kedalaman ilmu dan keluasan wawasan karena waktunya diluangkan untuk membaca.

Karena jika menggunakan waktu luang untuk membaca, maka hal tersebut tidak akan pernah bisa dilakukan. Sebab pada umumnya da’i sangat sibuk berdakwah dan menunaikan berbagai aktifitas penting (seperti bekerja mencari nafkah) yang diamanahkan kepadanya.

Jika para nabi dan rasul berwawasan luas karena dibimbing langsung oleh Allah swt. melalui wahyu-Nya, maka da’i yang bukan nabi dan rasul harus rajin membaca kitab suci-Nya dan kitab-kitab penunjang karya para ulama yang secara estafet komunikasinya ber-sanad hingga kepada Nabi Muhammad ﷺ.

Dengan rajin membaca, seorang da’i akan menyerap banyak informasi yang nantinya dapat dijadikan sebagai data penting untuk menyampaikan ceramah secara lisan maupun tertulis. Tidak hanya mendorong para santrinya untuk rajin membaca, aktivitas tersebut juga dicontohkan sendiri oleh KH. Abdullah Said.

Bahkan beliau juga rajin membaca buku-buku maupun media-media cetak lainnya dengan tema yang (pada era 1960-an hingga wafatnya beliau pada 1997) tidak ada hubungan langsung dengan dunia dakwah, seperti buku tentang sepakbola. Beliau tidak hanya rajin membeli berdus-dus buku dalam sekali transaksi, tetapi semua buku tersebut juga dibacanya. (Shalbu, 2005; Utomo, 2018). Beliau juga rajin membaca majalah pertanian Trubus, sehingga pernah ditanya oleh seorang santrinya, apakah beliau ingin juga menjadi petani. (Nurhidayat, 2018).

Ternyata saat ini tema-tema yang dulu ‘jauh’ dari bidang dakwah (seperti sepabola), kini seakan sudah bisa menyatu, seiring dengan banyaknya bintang sepakbola dunia yang diberi hidayah untuk kembali memeluk Islam. Apalagi tidak sedikit pula bintang sepakbola muslim asal Afrika dan Timur Tengah yang dikagumi umat non-muslim Eropa karena keluhuran adab mereka. Sehingga dakwah pun bisa dihidupkan pada komunitas bola mania.

Ulama besar Mesir, Syekh Hasan al-Banna dalam buku memoar-nya menganjurkan para da’i untuk setiap hari membaca minimal satu buku di luar bidang yang digeluti mereka. Seperti da’i yang berpendidikan sarjana ilmu sosial, dianjurkan untuk membaca buku ilmu teknik elektro maupun ilmu lainnya. Sebab setiap bidang ilmu dapat dimanfaatkan untuk memperjuangkan Islam. (Rosa, 1999).

Rajin membaca seakan tidak dapat dipisahkan dari pribadi para intelektual sejati Islam yang nantinya akan menjadi tokoh berpengaruh di tingkat nasional maupun internasional. Di Indonesia, para ulama besar abad ke-20 yang sebagian umat muslim menobatkan mereka sebagai tokoh pembaharu (mujaddid), seperti KH. Ahmad Dahlan (Muhammadiyah), KH. Ahmad Hassan (Persis), KH. Hasyim Asy’ari (NU), KH. Moh. Natsir (DDII), dan para intelektual lainnya dikenal rajin membaca sejak muda.

Di lapangan dakwah, memang terdapat perbedaan kualitas dapat dilihat secara jelas oleh umat, antara da’i yang rajin membaca dan da’i yang (maaf) belum rajin membaca. Semoga dengan mengingat satu saja wasiat KH. Abdullah Said tentang anjuran untuk rajin membaca, para da’i dan calon ulama diberi kemudahan oleh Allah swt. dalam membimbing umat meraih kejayaan di dunia dan akhirat. Wallahua’lam.*

Ketua Umum Wahdah Islamiyah dan Wakil Sekretaris Dewan Pertimbangan MUI Pusat  

Redaktur: Admin Hidcom
Bantu kami terus menyuarakan kebenaran!

Scan QRIS dan dukung #Journalism4Ummah

donasi online
TAG:HidayatullahKH Abdullah SaidMilad Hidayatullahwasiat
Bagikan tulisan ini
Facebook Whatsapp Whatsapp Telegram Email Salin tautan Print
Tulisan sebelumnya slogan hindu Pria Muslim Diserang dan Dipaksa Meneriakkan Slogan Hindu ‘Jai Shri Ram’ di Uttar Pradesh, India
Tulisan selanjutnya sumatra Fiksi dan Fakta Asal Nama Sumatra

Ikuti Kami

1.2KLike
89KFollow
27.8KFollow
222KSubscribe
Ad image
Ad image

Terpopuler

Berita

Panas! Iran Hantam Pangkalan AS di Kuwait Setelah Serangan ke Pulau Qeshm

Berita
3 Juni 2026 09:20
Pengadilan Kenya Tolak Rencana Amerika Serikat untuk Mendirikan Fasilitas Karantina Ebola di Negaranya
Israel, Russia Dimasukkan Daftar Hitam Kekerasan Seksual PBB
‘Israel’ Tunjuk Roman Gofman Jadi Kepala Mossad, Loyalis Netanyahu yang Dukung Pendudukan Gaza
MUI: Qurban Presiden dengan Dana APBN untuk Masyarakat Sah dan Sesuai Syariat

Terbaru

  • Bachtiar Nasir: Pesantren Hadapi Ujian Besar Kepercayaan Publik di Era Digital
  • Ekonomi Syariah Global Tembus USD 8,6 Triliun, Indonesia Harus Naik Kelas Jadi Produsen Utama
  • Presiden Erdogan Kini Punya 10 Cucu, Kabar Bahagia Datang dari Keluarga Presiden Turki
  • Hampir 135 Ribu Jamaah Indonesia Salurkan Dam Lewat Adahi, Daging Diprioritaskan untuk Palestina
  • MUI: Qurban Presiden dengan Dana APBN untuk Masyarakat Sah dan Sesuai Syariat
  • Panas! Iran Hantam Pangkalan AS di Kuwait Setelah Serangan ke Pulau Qeshm
  • Hakim Agung Palestina: RUU Pembatasan Adzan adalah Pelanggaran Kebebasan Beribadah
  • ‘Israel’ Tunjuk Roman Gofman Jadi Kepala Mossad, Loyalis Netanyahu yang Dukung Pendudukan Gaza
  • Iran Tegaskan Siap Tempur Lebih Kuat Jika Perang dengan AS Kembali Pecah
  • Perkuat Kompetensi Amil Zakat dan Nazir Wakaf, Kemenag Gelar Sertifikasi Profesi

Mungkin Anda Juga Suka

BeritaBerita dari AndaNasional

Workshop Tenun dan Tudung Manto untuk Santri dan Masyarakat Lingga

6 November 2023 08:51
BeritaLensaNasional

Investasi LM Antam untuk Pendidikan Anak

13 September 2023 11:00
BeritaLensaNasional

[Foto] Belajar Gosok Gigi yang Benar

29 Juli 2023 07:00
BeritaNasional

Dukung Kegiatan PFI, Eri Cahyadi Tawarkan untuk Pameran Foto Berikutnya

14 Mei 2023 07:35
Hidayatullah.comHidayatullah.com
Follow US
Copyright 2023 © Hidayatullah.COM
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Informasi Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Indeks
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lupa password?