Hidayatullah.comHidayatullah.comHidayatullah.com
Pemberitahuan Lebih Banyak
Font ResizerAa
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Font ResizerAa
Hidayatullah.comHidayatullah.com
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Pencarian
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Nasional

Karya Ibu Rumah Tangga Bisa Jadi Jurnalistik, Media Mainstream Belum Tentu

Muhammad Abdus Syakur
Terakhir diupdate: 15 Mei 2014 10:23 10:23 am
Muhammad Abdus Syakur
Dipublikasikan 15 Mei 2014 09:31
Bagikan
Dandhy Dwi Laksono (baju hitam) saat berbicara di depan para wartawan
Bagikan

Hidayatullah.com–Media massa-media massa mainstream (arus utama) belum tentu disebut jurnalisme. Sedangkan seorang ibu rumah tangga bisa saja menjadi seorang jurnalis. Keduanya tergantung sejauh mana elemen-elemen jurnalistik dipenuhi oleh media ataupun pelaku jurnalistik.

Hal ini disampaikan wartawan senior Dandhy Dwi Laksono pada hari pertama acara Lokakarya Peliputan Wilayah Konflik di Hotel Akmani, Jalan KH Wahid Hasyim, Jakarta, Selasa-Rabu (13-14/5/2014). Pada sesi siang itu, Dandhy membawakan tema “Meliput dan Mengemas Cerita Konflik”.

Menurutnya, sebuah media bermodal besar sekalipun bisa saja tidak memenuhi elemen-elemen jurnalistik. Sehingga, “Media mainstream tidak berarti ada jaminan bahwa mereka (sesuai) jurnalisme,” ujarnya di depan sekitar 30 wartawan peserta lokakarya.

Dandhy berpendapat, jurnalisme bukan pada tataran diskusi, bukan soal merek dagang atau bisnis. Juga tidak terletak pada elemen-elemen formal maupun modalnya. Tapi, katanya, jurnalisme adalah hasil akhir sebuah produk jurnalistik yang memiliki ruh.

“Ibu rumah tangga yang bisa menghasilkan sebuah produk yang memenuhi semua kaidah jurnalistik, maka itu jurnalisme,” ujar wartawan televisi penulis buku Jurnalisme Investigasi ini.

Baca Juga

Lukmanul Hakim MUI wafat
KH Dr. Lukmanul Hakim, Pejuang Ekonomi Umat yang Berpulang
Layanan SIHALAL Bermasalah, ALPHI Minta Dikembalikan Ke Sistem Lama
LPPOM Bersama ALPHI Kupas Tuntas Tarif dan Waktu Proses Sertifikasi Halal
PAD Kota Depok Meningkat Tanpa Iklan Rokok
Pembukaan Silatnas 2023, Pj Gubernur Kaltim Puji Kiprah Dai – Daiyah Hidayatullah

Informasi Belum Tentu Data-Fakta

Dandhy menjelaskan, ada beberapa elemen dalam jurnalistik. Pertama, elemen data-fakta. Pada elemen ini, sebuah informasi belum termasuk data-fakta.

Dandhy mencontohkan saat dirinya meliput konflik di Aceh belasan tahun lalu. Saat itu, dia menerima serangkaian informasi bertolak belakang dari dua pihak yang bertikai, yaitu aparat keamanan negara dan Gerakan Aceh Merdeka (GAM).

Dalam laporan harian jumlah korban perang misalnya. Tentara, ungkapnya, mengklaim anggota GAM banyak yang tewas. Sebaliknya, GAM mengklaim tentara banyak yang tewas. Informasi dari keduanya ini dinilai bukan data-fakta.

Sebab, menurut Dandhy, laporan itu  sebagai bentuk propaganda. “Dalam perang semua orang punya kepentingan dengan informasi,” ujarnya.

Informasi dari tentara maupun GAM, tambahnya, akan menjadi data-fakta ketika jurnalis menyebut sumber informasinya. Untuk itulah, jurnalis bertugas mencari data-fakta sendiri selain dari kedua pihak bertikai. Misalnya dengan menggali langsung ke lapangan atau menemui masyarakat.

Memang, kata dia, pencarian data-fakta di lapangan akan memakan waktu lebih lama. Untuk mencari korban tewas saja, ungkapnya, bisa 1-2 hari.

“Ketika muncul (data-fakta) menurut temuan kita sendiri, itu yang membedakan dengan propaganda,” jelasnya.

Elemen kedua dalam jurnalistik, jelas Dandhy, adalah sumber informasi (narasumber/narsum). Jurnalis sebaiknya tidak hanya memikirkan narsum resmi, tapi juga narsum tidak resmi, yang bisa didapat dari lingkungan terdekat jurnalis.

“Narsum kita jangan-jangan saat naik angkot, (bertemu) ibu-ibu, nenek-nenek,” ujarnya mencontohkan.

Elemen ketiga, jelasnya, adalah konteks bagaimana sebuah peristiwa terjadi. Konteks ini perlu lengkap, tidak boleh memutus suatu peristiwa.

Elemen keempat adalah kekuatan audio-visual. Elemen ini, jelas Dandhy, sangat menggerakan sebuah cerita yang diangkat jurnalis. “Bisa mengurangi bias kita dalam mengurai informasi,” ujarnya.

Yang kelima adalah elemen pengemasan sebuah produk jurnalistik. Elemen ini menyangkut gaya penulisan atau penyampaian cerita, dan sebagainya.

Dandhy memaparkan, hasil peliputan jurnalistik mengenai konflik harus mampu menghentikan kekerasan yang terjadi. Bukan sebaliknya malah menimbulkan konflik baru.

Sehingga, baginya, ada alasan bagi para pembaca, pendengar, maupun penonton hasil liputan untuk peduli dengan konflik. Misalnya dengan memberikan bantuan atau meminta konflik dihentikan.*

Redaktur: Muhammad Abdus Syakur
Bantu kami terus menyuarakan kebenaran!

Scan QRIS dan dukung #Journalism4Ummah

donasi online
TAG:Jurnalistikmediawartawan
Bagikan tulisan ini
Facebook Whatsapp Whatsapp Telegram Email Salin tautan Print
Tulisan sebelumnya Ini Dia Alasan Kenapa Wartawan Ditawan Saat Perang
Tulisan selanjutnya Pemerintah Belum Ambil Kebijakan Kurangi Jamaah Umrah

Ikuti Kami

1.2KLike
89KFollow
27.8KFollow
222KSubscribe
Ad image
Ad image

Terpopuler

Berita

Fatah Tunjuk Hussein al-Sheikh Jadi Wakil Mahmoud Abbas

Berita
4 Juni 2026 14:01
Tak Ada Donatur yang Menyumbang, Board of Peace ala Trump Terancam Gagal
Israel, Russia Dimasukkan Daftar Hitam Kekerasan Seksual PBB
Penjajah ‘Israel’ Luncurkan Serangan Skala Besar ke Lebanon Selatan
Setia dari Dulu, Kini dan Akan Datang: Kisah Pak Haji Toeng & Bu Hajjah Intang Kloter 15 KBIHU Hidayatullah Balikpapan di Haji 2026

Terbaru

  • Fatah Tunjuk Hussein al-Sheikh Jadi Wakil Mahmoud Abbas
  • ‘Israel’ Klaim Penjualan Senjata ke Negara Arab Melonjak Tajam, Banyak yang Beli Diam-Diam
  • Turki Siapkan Proyek Kereta Hijaz sebagai Alternatif Selat Hormuz
  • Harga Obat Terancam Naik, DPR Minta Perlindungan untuk Pasien Penyakit Kronis
  • Bantah Menolak Lepas Kendali Gaza, Hamas: Kebohongan ‘Israel’
  • Bachtiar Nasir: Pesantren Hadapi Ujian Besar Kepercayaan Publik di Era Digital
  • Ekonomi Syariah Global Tembus USD 8,6 Triliun, Indonesia Harus Naik Kelas Jadi Produsen Utama
  • Presiden Erdogan Kini Punya 10 Cucu, Kabar Bahagia Datang dari Keluarga Presiden Turki
  • Hampir 135 Ribu Jamaah Indonesia Salurkan Dam Lewat Adahi, Daging Diprioritaskan untuk Palestina
  • MUI: Qurban Presiden dengan Dana APBN untuk Masyarakat Sah dan Sesuai Syariat

Mungkin Anda Juga Suka

BeritaBerita dari AndaNasional

Workshop Tenun dan Tudung Manto untuk Santri dan Masyarakat Lingga

6 November 2023 08:51
BeritaLensaNasional

Investasi LM Antam untuk Pendidikan Anak

13 September 2023 11:00
BeritaLensaNasional

[Foto] Belajar Gosok Gigi yang Benar

29 Juli 2023 07:00
BeritaNasional

Dukung Kegiatan PFI, Eri Cahyadi Tawarkan untuk Pameran Foto Berikutnya

14 Mei 2023 07:35
Hidayatullah.comHidayatullah.com
Follow US
Copyright 2023 © Hidayatullah.COM
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Informasi Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Indeks
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lupa password?