Hidayatullah.comHidayatullah.comHidayatullah.com
Pemberitahuan Lebih Banyak
Font ResizerAa
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Font ResizerAa
Hidayatullah.comHidayatullah.com
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Pencarian
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Tsaqafah

Kekayaan Alam RI dan Usaha Mengecilkan Arti Islam

Admin Hidcom
Terakhir diupdate: 19 Desember 2011 10:48 10:48 am
Admin Hidcom
Dipublikasikan 19 Desember 2011 10:48
Bagikan
Bagikan

Oleh: Imam Nawawi

INDONESIA merupakan satu negara yang unik lagi penuh pesona. Beragam budaya, agama, keyakinan, adat, dan tradisi terhimpun di negeri katulistiwa ini. Belum lagi sumber daya alam yang boleh dikatakan hampir merata dari Sabang hingga Merauke, menjadikan negeri ini tak begitu asing bagi pelancong, investor, dan peneliti dari berbagai negara di belahan dunia ini.

Bahkan keberadaan Indonesia telah lama dikaji, diteliti bahkan dibidik untuk bisa diambil manfaat kekayaan alamnya. Ini terbukti dengan datangnya tiga negara imperialis ke Indonesia, yaitu; Portugis, Belanda, dan Jepang untuk masa penjajahan. Dan, kini terlihat dengan banyaknya perusahaan multi nasional yang mengeruk kekayaan SDA tanah air kita bersama.

Uniknya, di negeri yang baru setengah abad lebih merdeka ini, justru dihuni oleh mayoritas penduduk beragama Islam. Sebuah agama yang dalam sejarah peradaban Barat merupakan penghalang terbesar bagi terwujudnya idealisme mereka.

Kabar Muslim Indonesia

Baca Juga

Buya Hamka
Buya Hamka: Hari Raya sebagai Cermin Kekuatan Batin Bangsa
Salaf Saleh dan Tafsir Kata Ulil Amri
Ulama Sufi dan Islam Nusantara
Amalan di Bulan Muharram yang Dapat Kita Lakukan
Pengaruh Freemason dalam Wacana Pluralisme Agama (2)

Jika ada negara yang mayoritasnya harus sering mengalah, bahkan terus dibuat kalah itulah Ummat Islam Indonesia. Sejak awal kemerdekaan ummat Islam Indonesia sering “kehilangan” hak konstitusinya. Salah satunya adalah dengan pencoretan tujuh kata dalam Piagam Jakarta.

Tak hanya itu, ummat Islam juga sering difitnah sebagai kelompok yang selalu berupaya melakukan gerakan separatisme. Hingga akhirnya ummat Islam hidup dalam tekanan yang luar biasa berat. Bahkan terakhir secara sistematis publik digiring pada satu stigma negatif seolah-olah gerakan terorisme itu berasal dari ajaran Islam.

Media ikut memperparah dan menghembuskan stigma tersebut dan ujungnya menjadikan beberapa pondok pesantren tertuduh pusat pendidikan “teroris”. Akhirnya, masyarakat ragu akan keberadaan pesantren. Tidak lama kemudian, ummat Islam kebanjiran stigma negatif. Ada fundamentalisme, radikalisme, ekstrimisme, yang semuanya diajarkan dan menjadi bahan dasar kurikulum pendidikan di beberapa pondok pesantren.

Seorang tokoh liberal, Luthfi Assyaukanie dalam pengantarnya pada buku yang ditulis oleh BHM Vlekke, bahkan menuduh, isu terorisme yang didasarkan pada pesantren tidaklah mengherankan. Menurutnya, dengan mengutip pendapat Ricklefs dalam beberapa karyanya, kesadaran beragama ummat Islam Indonesia terjadi sejak 1830 yang dipelopori oleh kaum putihan (santri), “kaum putihan” inilah yang menurut Syaukani menjadi biang terjadinya polarisasi ummat Islam di Jawa.
Lutfie as Syaukanie seolah menggiring pembaca untuk memahami bahwa sumber konflik politik kontemporer yang melibatkan ummat Islam berawal dari polarisasi yang dipelopori oleh kaum putihan. (Vlekke 2008 hlm 4 – 5).

Lebih detail Syaukanie menulis:

“Para haji dan pelajar yang pulang dari Mekah memainkan peran cukup besar dalam menyemai tumbuhnya kaum putihan di Indonesia. Mereka inilah yang secara gencar dan terus-menerus melakukan pemurnian Islam Nusantara. Tentu saja, yang menjadi model bagi mereka adalah praktik-praktik Islam yang dilakukan di Timur Tengah, di Arab Saudi khususnya. Bagi mereka praktik-praktik Islam local, Islam abangan, adalah praktik-praktik yang keliru dan harus diluruskan.” (hlm 5).

Argumen di atas nampaknya juga menjadi justifikasi (pembenaran) upaya stigmatisasi ummat Islam melalui pondok pesantren. Tak aneh, pihak-pihak yang rabun jauh terhadap Islam sangat berkepentingan atas terkendalinya pengajaran di pesantren ikut mengamini pendapat ini.

Bagaimanapun pedihnya perjalanan umat Islam menghadapi masalah ini, satu yang pasti, sejarah mencatat, Islam-lah yang banyak berperan “menyelamatkan” Nusantara. Pakar sejarah, Prof Ahmad Mansur Suryanegara dalam bukunya “Api Sejarah” menulis, kekuatan Islam-lah yang menyelamatkan Nusantara ini dari penjajahan Portugis dan Belanda. Jika kemudian muncul pernyataan bahwa kaum santri adalah biang polarisasi sejatinya mereka yang mengamini hal tersebut adalah orang-orang yang mengalami kekaburan dalam melihat fakta sejarah secara komprehensif.

Phobia Kekuatan Ummat Islam

Dari paparan di atas, jika kita perhatikan secara seksama, nampak sekali ada ketakutan luar biasa (phobia) dari pihak asing apabila kesadaran ummat Islam tumbuh, menguat, dan mendominasi kelangsungan sistem kehidupan berbangsa dan bernegara di bumi katulistiwa ini. Oleh karena itu dengan cara apapun peluang terjadinya kesadaran tersebut harus ditutup rapat.

MC. Ricklefs misalnya, dalam bab pertama buku yang ditulisnya “Sejarah Indonesia Modern 1200 – 2008” menyebutkan, “Penyebaran Islam merupakan salah satu proses yang sangat penting dalam sejarah Indonesia, tapi juga yang paling tidak jelas.” (MC. Riklefs 2008 hlm. 3).

Bahkan Ricklefs lebih lanjut menegaskan bahwa diskusi tentang Islam di Indonesia tidak akan pernah sampai dapa kesimpulan. Sebab menurutnya, sumber-sumber tentang Islamisasi di Indonesia selain sangat langka juga sangat tidak informatif.
Di sisi lain, dalam banyak diskusi – beberapa dosen di tempat penulis menimba ilmu – dikatakan bahwa di banyak kedutaan RI di luar negeri hanya menampilkan replika candi, patung, dan segala seni budaya Hindu – Budha.

Dua fakta di atas memberikan satu indikasi kuat bahwa ada upaya menjadikan ummat Islam lengah akan identitas negaranya. Sekaligus menggiring opini global bahwa Indonesia itu adalah bukan Islam.

Upaya tersebut tidak berhenti di situ. Coba kita perhatikan buku sejarah yang dipelajari oleh pelajar kita di bangku SMA. Tahun pertama mereka akan diajarkan apa itu sejarah, ragam penulisan sejarah, yang semuanya mengarah pada terbentuknya pola pikir rasionalisme, empirisme.

Di awal tahun kedua, mereka akan mengkaji sejarah kerajaan Hindu – Budha di Indonesia. Baru kemudian sejarah kerajaan Islam, yang kemudian secara tidak langsung memberikan kesan bahwa kerajaan Islam-lah yang menjadi penyebab kehancuran kerajaan Hindu-Budha.

Hal ini rupanya untuk mengantarkan pelajar kepada satu pemahaman bahwa Indonesia asalnya adalah Hindu – Budha.

Misi Asing

Semua itu dilakukan tidak lain dan tidak bukan agar Indonesia yang mayoritas Muslim ini bisa dikendalikan oleh Barat atau di-Barat-kan. Upaya “pembaratan” (westernisasi) melalui jalur pemikiran diyakini yang paling efektif untuk mewujudkan misi mereka. Sebab Islam tidak bisa digempur dengan senjata.

Apabila hal itu tidak dilakukan, maka keberadaan Muslim di negeri yang sangat kaya sumber daya alam perlahan akan menjadi kekuatan besar yang sangat mengerikan bagi mereka. Maka sejak berakhirnya kolonialisme segera dilakukan gempuran pemikiran dan ekonomi sekaligus.

Bernard H.M. Vlekke menegaskan bahwa sejak tahun 1941, perhatian publik Amerika telah tertuju pada Asia Tenggara (baca Indonesia), suatu wilayah yan g tiba-tiba didasari memiliki kepentingan strategis dan ekonomis yang besar bagi pertahanan Amerika Serikat. (Vlekke 2008).

Indonesia yang kaya SDA itu, secara sistematis direkayasa untuk menjadi negara yang miskin produktivitas dan akhirnya akan menjadi negara yang paling konsumtif di dunia. Ktia tentu ingat bagaimana sebagian masyarakat kita rela terinjak-injak hanya untuk membeli BB (Black Berry) dengan separuh harga. Dan, kita tidak bisa menutup diri bahwa kita telah menjadi jongos di negeri sendiri juga sedang berlangsung.

Puncaknya nanti, Indonesia akan menjadi mangsa pasar yang diperebutkan dunia. Saat itu, jika ummat Islam lemah, baik secara keilmuan, politik, dan lebih khusus keimanan, skill dan finansial maka secara matematis logik, boleh jadi kita akan takluk dan menanggung beban derita yang sangat luar biasa.

Dan, itulah misi asing yang sesungguhnya. Maka tidak ada jalan lain kecuali dengan kembali menuntut ilmu dengan tekun, berusaha dengan sungguh, menjadi negara yang produktif bukan konsumtif, dan bersama membangun kekuatan jama’ah ummat. Tanpa itu kita sangat layak untuk dikalahkan. Meskipun kita (kalau sadar dan mau) sebenarnya sangat layak untuk menang. *

Penulis adalah mahasiswa program pascasarjana Ibnu Khaldun, Bogor

Redaktur: Admin Hidcom
Bantu kami terus menyuarakan kebenaran!

Scan QRIS dan dukung #Journalism4Ummah

donasi online
Bagikan tulisan ini
Facebook Whatsapp Whatsapp Telegram Email Salin tautan Print
Tulisan sebelumnya Riba dan Makanan Haram Menutup Semua Pintu Doamu!
Tulisan selanjutnya Khamr Melahirkan Kampung Janda

Ikuti Kami

1.2KLike
89KFollow
27.8KFollow
222KSubscribe
Ad image
Ad image

Terpopuler

Berita

Ekonomi Syariah Global Tembus USD 8,6 Triliun, Indonesia Harus Naik Kelas Jadi Produsen Utama

Berita
3 Juni 2026 13:30
123 Santri Ar-Rohmah Putri Diterima PTN Jalur SNBP dan SNBT, Terbanyak di Malang
Tak Ada Donatur yang Menyumbang, Board of Peace ala Trump Terancam Gagal
Singapura Terbitkan Panduan untuk Bantu Orang Tua Kurangi Screen Time Anak
Penjajah ‘Israel’ Luncurkan Serangan Skala Besar ke Lebanon Selatan

Terbaru

  • 123 Santri Ar-Rohmah Putri Diterima PTN Jalur SNBP dan SNBT, Terbanyak di Malang
  • Amerika Jatuhkan Sanksi Atas Presiden Kuba, Anggota Keluarga Castro
  • Usai Serangan Drone Terminal Pelabuhan Mina al-Fahl Oman Beroperasi Kembali
  • Survei Terbaru Ungkap Mayoritas Masyarakat Dunia Tak Menyukai Israel
  • Polisi ‘Israel’ Rekrut Aktivis Zionis untuk Perkuat Kehadiran Yahudi Masjidil Aqsha
  • ‘Israel’ Beri Keringanan Pajak bagi Permukiman Ilegal Yahudi di Tepi Barat
  • Genosida ‘Israel’ di Gaza: Jumlah Warga Palestina Hilang Tembus 9.500 Orang
  • Turki Tegaskan Komitmennya untuk Perkuat Keuangan Syariah
  • Fatah Tunjuk Hussein al-Sheikh Jadi Wakil Mahmoud Abbas
  • ‘Israel’ Klaim Penjualan Senjata ke Negara Arab Melonjak Tajam, Banyak yang Beli Diam-Diam

Mungkin Anda Juga Suka

ArtikelTsaqafah

Pengaruh Freemason dalam Wacana Pluralisme Agama (1)

5 Januari 2023 13:30
Tsaqafah

Ijtihad sebagai Solusi Persoalan Umat

29 Desember 2022 19:00
Tsaqafah

Bahaya Sekularisasi dan Sekularisme

26 Desember 2022 13:45
Tsaqafah

Loss of Adab, Kebingungan Ilmu dan Pemimpin Palsu

18 Desember 2022 18:30
Hidayatullah.comHidayatullah.com
Follow US
Copyright 2023 © Hidayatullah.COM
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Informasi Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Indeks
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lupa password?