Hidayatullah.comHidayatullah.comHidayatullah.com
Pemberitahuan Lebih Banyak
Font ResizerAa
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Font ResizerAa
Hidayatullah.comHidayatullah.com
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Pencarian
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Ilahiyah Finance

Swasembada dan Kemerdekaan

Admin Hidcom
Terakhir diupdate: 5 Juni 2012 14:24 2:24 pm
Admin Hidcom
Dipublikasikan 5 Juni 2012 14:24
Bagikan
Bagikan

Oleh: Muhaimin Iqbal

MAHATMA Gandi perlu waktu 32 tahun (1915 – 1947) untuk memerdekakan negerinya dari penjajahan Inggris dengan gerakan swasembada (swadeshi)-nya. Periode yang kurang lebih sama diperlukan negeri ini untuk kehilangan kemerdekaan ekonominya (1966-1998) yang ditandai dengan menunduknya presiden negeri ini ketika harus menanda tangani 50 butir kesepakatan (LOI – Letter of Intent) dengan IMF. Yang saya ingin sampaikan adalah betapa dekatnya hubungan antara swasembada itu dengan kemerdekaan suatu bangsa.

Foto yang amat terkenal dibawah seolah bercerita dengan sejuta kata, betapa suatu negeri besar dengan lebih dari 200 juta penduduknya, harus tunduk pada kekuatan asing dengan kepentingannya sendiri-sendiri. Dari 50 butir letter of intent yang ditanda tangani presiden kita waktu itulah akhirnya BUMN-BUMN yang paling menguntungkan negeri ini – seperti di sektor telekomunikasi, pindah kepemilikannya ke tangan asing. Begitu pula bank-bank swasta nasional kita, hampir keseluruhannya kini dipegang tangan-tangan asing di belakangnya.

Kepentingan ekonomi dari pihak-pihak tertentu di sektor pertanian, perikanan dan produk hutan, juga nampak jelas sekali menumpang dalam LOI tersebut diatas. Dampaknya hingga kini adalah produk-produk pertanian dan perikanan asing merajalela di negeri ini. Bentuk dari ‘keterjajahan’ ini akan Anda rasakan ketika Anda membaca laporan-laporan dari wakil pemerintah kita waktu itu yang disampaikan ke IMF. Sampai sekarang kita masih bisa baca filenya di situs resmi IMF dan search dengan keyword “… Indonesian Letter of Intents”. Salah satunya saya beri link di sini.

Bukan luka lama yang ingin kita buka kembali, tetapi adalah suatu pelajaran dari sejarah panjang bagaimana suatu negeri bisa memperoleh kemerdekaannya melalui swasembada, dan sebaliknya bagaimana suatu negeri bisa kehilangan kemerdekaannya melalui ketergantungan pada tangan-tangan asing.

Baca Juga

Indonesia Masuk Peringkat Dunia dalam Keuangan Syariah, Perlu Pembenahan Kurikulum Lebih Baik
Cashback yang di Tawarkan Go-pay dan OVO, Haramkah?
Industri Pertanian Zaman Nabi
Makanan Yang Membuat Tidak Miskin
Industry 0.0

Maka bila Mahatma Gandhi sampai belajar memintal benang sendiri agar dia bisa mengajak rakyatnya swasembada sandang – bahkan dia juga berinovasi dengan pemintal benang portable untuk meng-inspirasi rakyatnya, maka mungkin inilah yang harus dilakukan bangsa ini untuk bisa merdeka dalam ekonomi, merdeka dalam pemikiran , merdeka dalam budaya dan berbagai bentuk kemerdekaan lainnya. Para pemimpin kita barangkali perlu turun tangan pada tataran praktis – dalam satu dua hal yang dianggap sangat penting, memberi contoh langsung “how to do it” – bukan sekedar “…saya telah menginstruksikan…” kemudian mengeluh “…instruksi saya tidak dilaksanakan…”.

Mahatma Gandhi memang bukan orang Islam, tetapi karena kedekatannya dengan Islam-lah yang membuat dia mati dibunuh oleh orang yang membenci Islam di negaranya 30 Januari 1948. Sangat bisa jadi karena belajar dari Islam pula dia bisa melahirkan gerakan non-cooperation-nya yang menolak kerjasama dengan penjajah yang membunuhi rakyatnya.

Kita tidak dilarang untuk bekerjasama dengan non-muslim sejauh mereka tidak memusuhi kita. Tetapi kita dilarang kerjasama dengan non mslim yang memusuhi kita, yang membunuhi saudara-saudara kita atau menyaksikan saudara-saudara kita terbunuh tidak berusaha menghentikannya – atau bahkan malah mendukungnya.

“Allah tiada melarang kamu untuk berbuat baik dan berlaku adil terhadap orang-orang yang tiada memerangimu karena agama dan tidak (pula) mengusir kamu dari negerimu. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berlaku adil. Sesungguhnya Allah hanya melarang kamu menjadikan sebagai kawanmu orang-orang yang memerangi kamu karena agama dan mengusir kamu dari negerimu dan membantu (orang lain) untuk mengusirmu. Dan barang siapa menjadikan mereka sebagai kawan, maka mereka itulah orang-orang yang dlalim.” (QS 60 :8-9)

Tetapi bagaimana kita bisa menghentikan perkawanan kita dengan orang-orang yang memerangi (saudara) kita tersebut bila faktanya kita butuhkan gandumnya untuk makanan pokok kita dan kedelainya untuk membuat lauk pauk tradisional kita ?. Justru itulah kita butuh merintis swasembada dalam berbagai aspek kehidupan, agar bisa menentukan sikap kita sebagaimana yang digariskan oleh Al-Qur’an tersebut di atas. Kita tidak akan bisa menghentikan perkawanan kita dengan orang-orang yang memusuhi kita, bila dalam satu dan lain hal kita tergantung pada produk-produk mereka.

Bukan pada Mahatma Gandhi kita mengambil contoh sebenarnya, tetapi bisa kita ambil pelajaran bahwa bahkan seorang non-muslim yang mampu membangun kemandirian sehingga tidak harus bekerja sama dengan musuh-musuhnya – bersikap mirip dengan yang digariskan di ayat tersebut diatas – membuat dia dan bangsanya merdeka. Apalagi bila sikap seperti ini dilakukan dengan landasan keimanan dan ketakwaan, maka insyaallah berkah dari langit itu akan bener-bener tercurah kepada kita.

Bilapun harus menempuh waktu 32 tahun untuk kita bisa mengambil kembali kemerdekaan kita dalam segala bidang, itu tidak mengapa. Tetapi langkah perjalanan kesana harus segera dimulai. Ada yang merintisnya di dunia pangan, pertanian, peternakan, perikanan, kehutanan. Ada pula yang bisa merintisnya melalui teknologi, budaya, pendidikan, hiburan dlsb. Saya bisa memulai peran saya, dan Andapun bisa memulai peran Anda. Bersama kita rintis jalan untuk kemerdekaan anak-cucu kita. InsyaAllah.*

Penulis adalah Direktur Gerai Dinar, kolumnis hidayatullah.com

Redaktur: Admin Hidcom
Bantu kami terus menyuarakan kebenaran!

Scan QRIS dan dukung #Journalism4Ummah

donasi online
Bagikan tulisan ini
Facebook Whatsapp Whatsapp Telegram Email Salin tautan Print
Tulisan sebelumnya Usamah Hidup Sederhana, Hemat Uang Demi “Berjihad”
Tulisan selanjutnya Masjidil Haram akan Bisa Menampung 1,5 Juta Jamaah

Ikuti Kami

1.2KLike
89KFollow
27.8KFollow
222KSubscribe
Ad image
Ad image

Terpopuler

Berita

Singapura Terbitkan Panduan untuk Bantu Orang Tua Kurangi Screen Time Anak

Berita
1 Juni 2026 13:00
Amerika Jatuhkan Sanksi Atas Presiden Kuba, Anggota Keluarga Castro
Prancis Minta Pelecehan Terhadap Aktivis Gaza Flotilla oleh Israel Diselidiki
Bachtiar Nasir: Pesantren Hadapi Ujian Besar Kepercayaan Publik di Era Digital
123 Santri Ar-Rohmah Putri Diterima PTN Jalur SNBP dan SNBT, Terbanyak di Malang

Terbaru

  • 123 Santri Ar-Rohmah Putri Diterima PTN Jalur SNBP dan SNBT, Terbanyak di Malang
  • Amerika Jatuhkan Sanksi Atas Presiden Kuba, Anggota Keluarga Castro
  • Usai Serangan Drone Terminal Pelabuhan Mina al-Fahl Oman Beroperasi Kembali
  • Survei Terbaru Ungkap Mayoritas Masyarakat Dunia Tak Menyukai Israel
  • Polisi ‘Israel’ Rekrut Aktivis Zionis untuk Perkuat Kehadiran Yahudi Masjidil Aqsha
  • ‘Israel’ Beri Keringanan Pajak bagi Permukiman Ilegal Yahudi di Tepi Barat
  • Genosida ‘Israel’ di Gaza: Jumlah Warga Palestina Hilang Tembus 9.500 Orang
  • Turki Tegaskan Komitmennya untuk Perkuat Keuangan Syariah
  • Fatah Tunjuk Hussein al-Sheikh Jadi Wakil Mahmoud Abbas
  • ‘Israel’ Klaim Penjualan Senjata ke Negara Arab Melonjak Tajam, Banyak yang Beli Diam-Diam

Mungkin Anda Juga Suka

Ilahiyah Finance

Probiotic Food dan Prophetic Food

17 Juni 2020 08:00
Ilahiyah Finance

Syirkah “Orang-Orang Miskin”

11 Februari 2019 20:49
Hamas bitcoin
Ilahiyah Finance

Halal Haram Uang Kripto

11 Desember 2018 08:15
Ilahiyah Finance

Golden Balance: Financing the Needy

15 Agustus 2018 13:21
Hidayatullah.comHidayatullah.com
Follow US
Copyright 2023 © Hidayatullah.COM
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Informasi Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Indeks
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lupa password?