Hidayatullah.comHidayatullah.comHidayatullah.com
Pemberitahuan Lebih Banyak
Font ResizerAa
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Font ResizerAa
Hidayatullah.comHidayatullah.com
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Pencarian
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Analisis

Kenapa Turki Sukses jadi Mediator Kesepakatan Gandum Ukraina-Rusia?

Admin Hidcom
Terakhir diupdate: 25 Juli 2022 17:24 5:24 pm
Admin Hidcom
Dipublikasikan 25 Juli 2022 18:30
Bagikan
Penandatanganan ekspor gandum antara Ukraina, Rusia, Turki dan PBB di Istanbul. (Foto file - Anadolu Agency)
Bagikan

Turki berhasil menjadi mediator kesepakatan membuka blokir jutaan ton gandum, menyelamatkan 47 juta orang yang terancam “kelaparan akut”. Turki juga aktif menjadi mediator pedamaian Palestina, Suriah, Mesir, Azerbaijan, sampai Bangsamoro

Oleh: Pizaro

Hidayatullah.com | BERKAT mediasi Turki dan PBB, Ukraina dan Rusia pada 22 Juli 2022 resmi menandatangani perjanjian dimulainya kembali pengiriman gandum Ukraina dari pelabuhan Laut Hitam. Perjanjian ini telah dinanti-nantikan masyarakat internasional untuk menghindari krisis pangan akibat perang.

Ukraina, yang dikenal sebagai lumbung roti dunia, adalah pengekspor gandum terbesar kelima di dunia. Namun ekspor gandum Ukraina terhambat karena Rusia memblokade pelabuhan Laut Hitam.

Menurut PBB, dampak dari terhambatnya ekspor gandum Ukraina dapat melahirkan ancaman krisis pangan global dan kelaparan. Berdasarkan Program Pangan Dunia PBB (WFP), setidaknya 47 juta orang menghadapi “kelaparan akut” di tengah kekhawatiran krisis pangan global selama ekspor Ukraina ditutup.

Baca Juga

Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan di Sidang Umum PBB UNGA
Mimpi Buruk Israel: Turki Bangkit Jadi Kekuatan Baru Timur Tengah
Strategi Ibrahim Traoré: Tinggalkan Penjajah Prancis, Dekati Rusia
“Gubernur Konten”,  Antara Pencitraan, dan Polarisasi Digital
Kampanye Digital Masif dari Arab Diluncurkan untuk Menjatuhkan Sinwar dan Hamas
NAS Daily Terima Penghargaan dari Lobi ‘Israel’

Perang yang semakin dalam antara kedua negara ini juga melahirkan krisis ekonomi baik di dunia. Inflasi merajalela, daya beli masyarakat menurun, dan perbedaan antar kelas semakin melebar.

Rusia dan Ukraina adalah sama-sama lumpung pangan dunia. Kini, Ukraina dapat kembali melakukan ekspor ke berbagai negara dunia dengan melalui Laut Hitam dengan persetujuan Rusia dan pengawasan Turki.

Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan dan Sekretaris Jenderal PBB Antonio Guterres menghadiri Upacara Penandatanganan Initiative on the Safe Transportation of Grain and Foodstuffs from Ukrainian Ports Document di Istana Kepresidenan Turki Dolmabahce bersama perwakilan dari Rusia dan Ukraina. Berdasarkan kesepakatan, sebuah pusat koordinasi akan didirikan untuk melakukan inspeksi bersama di pintu masuk dan keluar pelabuhan, dan memastikan keamanan rute.

Menteri Pertahanan Turki Hulusi Akar mengatakan tujuan dari kesepakatan itu adalah untuk memfasilitasi navigasi yang aman untuk ekspor biji-bijian dan makanan lainnya dari pelabuhan Ukraina di Odesa, Chernomorsk dan Yuzhny.

Erdogan mengatakan dirinya bangga menjadi instrumen dalam inisiatif yang akan memainkan peran utama dalam solusi krisis pangan global. “Kami akan berkontribusi untuk mencegah bahaya kelaparan yang menunggu miliaran orang di dunia,” kata Presiden Turki itu.

Erdogan juga mengatakan kesepakatan telah dibuat pada semua proses mulai dari keberangkatan kapal hingga perjalanan yang aman serta kedatangan di pelabuhan tujuan. “Pelaksanaan dan pengawasan dari rencana yang sangat penting ini akan dilakukan oleh pusat koordinasi bersama yang akan didirikan di Istanbul,” ungkap Erdogan.

Kesuksesan diplomasi Turki

Tentu keberhasilan Turki dalam memediasi Ukraina dan Rusia adalah hasil dari jerih payah Ankara yang tampil sebagai aktor global untuk meredakan perang antara Moskow dan Kyiv.  Berkat usahanya, peran diplomasi Turki melahirkan banyak pujian oleh dunia internasional karena telah berkontribusi menghindari krisisi pangan global.

AS menyebut kesepakatan gandum Ukraina sebagai langkah positif dan berterima kasih kepada Presiden Erdogan dan Sekjen PBB Antonio Guterres atas upaya mereka. Sedangkan, Kepala kebijakan luar negeri Uni Eropa Josep Borrell juga menyambut baik upaya Turki dan PBB yang memediasi kesepakatan itu.

Sementara itu, Uni Afrika memuji kesepakatan penting antara Ukraina dan Rusia yang ditengahi Turki yang memungkinkan Kyiv melanjutkan ekspor gandum melalui Laut Hitam.

Seperti diketahui, pertanian Ukraina adalah sumber utama biji-bijian untuk pasar dunia, khususnya di Timur Tengah dan Afrika, di mana persediaan makanan sangat terbatas. Harga sereal di benua termiskin di dunia itu melonjak karena kemerosotan ekspor dan  mempertajam dampak konflik yang dapat memicu kerusuhan sosial.

Tiga faktor kesuksesan

Setidaknya ada tiga faktor di balik kesuksesan Turki dalam perjanjian gandum Ukraina-Rusia. Pertama, kepemimpinan yang kuat. Erdogan merupapakan pemimpin yang sangat concern membangun perdamaian global dan kawasan. Sejak perang meletus pada 24 Februari, Erdogan sangat aktif menjalin komunikasi dengan para pemimpin global.

Akhirnya pada 10 Maret 2022, pertemuan tripatrit antara Rusia, Ukraina, dan Turki berlangsung di Antalya. Pertemuan tripatrit antara menteri luar negeri masing-masing menjadi meeting tingkat tinggi pertama yang terjadi setelah perang.

Perlu dicatat, Erdogan mengadakan kontak dan pertemuan dengan 30 pemimpin negara atau pemerintah pada minggu pertama perang. Diplomasi marathon ini yang membuat moskow dan Kyiv sangat mempercayai Ankara sebagai juru runding Ketika perwakilan Rusia dan Ukraina berkumpul satu meja di Istanbul lalu Presiden Erdogan memasuki ruangan, mereka semua memberi tepuk tangan meriah. Proses ini sedang berlangsung dan akan terus berlanjut.

Kedua, posisi independen Turki. Meski anggota NATO, Turki termasuk negara yang tidak ingin terjebak pada polarisasi dukungan dalam perang. Sebagai negara yang gigih meredakan ketegangan, Turki sejak awal sudah menawarkan kepada Presiden Vladimir Putin dan Presiden Zelenskyy sebagai tuan rumah negosiasi.

Burhanettin Duran, sarjana politik Turki sekaligus ahli hubungan internasional lembaga think tank SETA, mengatakan koridor gandum bisa dibuka karena Turki menjalin kepercayaan dengan Ukraina dan Rusia untuk terlibat dalam negosiasi. Turki tidak mendapatkan kepercayaan Kyiv dan Moskow secara gratis dan kebetulan. Inisiatif tersebut merupakan produk dari kebijakan Turki terhadap kedua negara, sebelum dan selama perang.

Selain itu, kesepakatan tercapai berkat upaya diplomatik Erdogan dalam merespons persaingan kekuatan besar, yang memperoleh momentum di tengah transisi global ke multipolarisme.

Ketiga, Turki telah menjadi aktof resolusi konflik regional dan global. Negara ini hadir pedamaian global dari mulai Palestina, Suriah, Mesir, Azerbaijan. Bahkan Turki berkontribusi dalam perjanjian damai antara Pemerintah Filipina dan Bangsamoro.

Mereka juga menyambangi negara-negara miskin di Afrika untuk berperan serta dalam pembangunan. Turki memiliki kemitraan yang berkembang pesat dengan negara-negara Afrika karena hubungannya dengan benua itu didasarkan pada sikap saling menghormati.

Pengamat politik Turki Yusuf Kaplan menyampaikan Presiden Erdogan mengadakan pertemuan berturut-turut dengan Presiden AS Joe Biden dan Presiden Rusia Vladimir Putin secara bersamaan. Ini sulit dilakukan dalam keadaan seperti ini dan situasi global yang tengah kacau akibat pandemik dan perag. Namun Turki sukses bertindak sebagai mediator.

Turki, kata Kaplan, juga menjadi negara pusat yang muncul selama pertemuan NATO ketika Ankara mencegah Swedia dan Finlandia menjadi anggota NATO karena kedua negara tersebut membantu dan bersekongkol dengan organisasi teroris PKK. “Semua mata tertuju pada kami,” ucap Kaplan.

Ankara juga membangun hubungan dengan China yang memainkan peran dalam mencegah penindasan Beijing terhadap komunitas Uighur di Turkestan Timur. China sangat membutuhkan Turki, dan kebutuhan ini akan semakin meningkat pada periode mendatang.

Dengan langkah-langkah strategis yang dilakukannya, Turki saat ini adalah salah satu dari sedikit negara yang dapat naik ke posisi negara sentral dan mengubah jalannya sejarah.*

Pengajar HI Universitas Al-Azhar Indonesia

Redaktur: Admin Hidcom
Bantu kami terus menyuarakan kebenaran!

Scan QRIS dan dukung #Journalism4Ummah

donasi online
TAG:diplomasi Turkikesepakatan gandumPerang ukrainarusiaTurkiUkraina
Bagikan tulisan ini
Facebook Whatsapp Whatsapp Telegram Email Salin tautan Print
Tulisan sebelumnya Apa Itu Ijma’?
Tulisan selanjutnya Kebakaran Besar Belum Juga Teratasi California Status Darurat

Ikuti Kami

1.2KLike
89KFollow
27.8KFollow
222KSubscribe
Ad image
Ad image

Terpopuler

Berita

UEA Bantah Laporan Transfer $3 Miliar ke Iran

Berita
14 Juni 2026 07:28
Mengukir Senyum, Merajut Persaudaraan: Hangatnya Kebersamaan Qurban di Dukuh Kwarasan
Jelang Musim Panas UEA Sediakan 12 Ribu Tempat Istirahat Ber-AC untuk Pekerja Luar Ruangan
Prosesi Pemakaman Ayatullah Ali Khamenei Dimulai 4 Juli
Pra Kongres Umat Islam VIII, MUI Gelar Halaqah Nasional Bahas Pesantren Aman dan Ramah Anak

Terbaru

  • Aliansi Aktivis dan Umat Muslim Tasikmalaya Desak Polisi Proses Hukum Penghina Sahabat Nabi
  • Tak Hanyut Oleh Banjir: Asa Santri Aceh Tamiang Tetap Menyala
  • Tradisi Membaca sebagai Penguat Halaqoh
  • Jejak Langkah Wanita Pejuang: Nyonya Hafni Zahra Abu Hanifah
  • Prosesi Pemakaman Ayatullah Ali Khamenei Dimulai 4 Juli
  • UEA Bantah Laporan Transfer $3 Miliar ke Iran
  • Persidangan Kasus Rodrigo Duterte di ICC Bisa Melibatkan 1.000 Korban
  • Malaysia akan Putus Aliran Listrik dan Air Bangunan Ilegal Termasuk di Penampungan Rohingya
  • Kapalnya Ditembak Dekat Oman India Panggil Diplomat Amerika Serikat
  • Seorang Ibu Gugat OpenAI Terkait Kematian Putrinya Usai Curhat ke ChatGPT

Mungkin Anda Juga Suka

Mundurnya 'Israel' dari Gaza Utara, Awal dari Perang Penghabisan?
Analisis

Mundurnya ‘Israel’ dari Gaza Utara, Awal dari Perang Penghabisan?

5 Januari 2024 07:00
Analisis

Analisa Mantan Intel AS: Hamas Memenangkan Perang di Gaza

24 November 2023 13:00
Invasi Darat Israel ke Gaza
AnalisisArtikel

3 Skenario Invasi Darat Israel Menurut Pakar Keamanan Internasional

1 November 2023 06:10
Analisis

Serangan Pejuang Kemerdekaan Palestina  terhadap ‘Israel’ Makin Menampakkan Kemunafikan Barat

11 Oktober 2023 21:55
Hidayatullah.comHidayatullah.com
Follow US
Copyright 2023 © Hidayatullah.COM
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Informasi Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Indeks
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lupa password?