Hidayatullah.comHidayatullah.comHidayatullah.com
Pemberitahuan Lebih Banyak
Font ResizerAa
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Font ResizerAa
Hidayatullah.comHidayatullah.com
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Pencarian
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Tsaqafah

Membangun Peradaban yang Total

Admin Hidcom
Terakhir diupdate: 28 November 2012 06:06 6:06 am
Admin Hidcom
Dipublikasikan 28 November 2012 06:06
Bagikan
Bagikan

Oleh: Mohammad Ismail

SALAH satu tantangan terbesar umat Islam saat ini adalah perang pemikiran (al-ghazwul al-fikr). Perang pemikiran memang bukan hal yang baru dalam Islam. Meskipun demikian, ancaman inilah yang justru mampu mengeluarkan umat Islam dari agamanya. Bahkan, lebih bahaya lagi, perang ini bisa mengakibatkan muslim memerangi agamanya sendiri.

Karena masalah pemikiran, maka tidak dapat terlepas dari konteks keilmuan saat ini. Al-Attas mengatakan bahwa konsep ilmu yang dipahami umat Islam saat ini lebih mengedepankan akal dari pada wahyu. Inilah yang menjadi salah satu penyebab kemunduran umat Islam.

Akal yang seharusnya tunduk kepada wahyu kini dibalik. Wahyu (al-Qur’an) dihujat dan akal pun dituhankan. Karena meninggikan akal di atas wahyu, maka ilmu yang dihasilkan pun akhirnya menjadi sekular. Paham sekular ini berusaha untuk melepaskan unsur agama dari keilmuan.

Selain itu, arus globalisasi yang dibawa oleh peradaban Barat pun menjadi bagian dari tantangan Islam. Arus ini telah menebarkan benih-benih sekularisme, liberalisme, dan pluralisme. Paham-paham tersebut ingin menghapuskan agama dari tataran kehidupan manusia. Faktanya, ilmu ekonomi, sosial, politik, pendidikan bahkan budaya kini benar-benar menjauh dari unsur-unsur agama. Artinya, globalisasi telah sukses memisahkan agama dari semua bidang keilmuan. Itulah hakekat dari peradaban Barat.

Baca Juga

Buya Hamka
Buya Hamka: Hari Raya sebagai Cermin Kekuatan Batin Bangsa
Salaf Saleh dan Tafsir Kata Ulil Amri
Ulama Sufi dan Islam Nusantara
Amalan di Bulan Muharram yang Dapat Kita Lakukan
Pengaruh Freemason dalam Wacana Pluralisme Agama (2)

Berbeda dengan Islam. Islam justru mengikat semua bidang ilmu pengetahuan dengan agama. Sebab, agama (Islam) adalah inti dari segala segi kehidupan. Tanpa agama, Islam akan sulit untuk membangun peradaban dunia. Dan tentunya, itu bukan prinsip agama Islam.

Islam sebagai agama (din) sejatinya telah memiliki konsep peradaban. Hal ini dapat ditinjau dari kata din itu sendiri, seperti yang disampaikan oleh al-Attas dalam Prolegomena bahwa din telah membawa makna keberhutangan, susunan kekuasaan, struktur hukum, dan kecenderungan manusia untuk membentuk masyarakat yang mentaati hukum dan mencari pemerintah yang adil.

Dalam konsep din tersembunyi sistem kehidupan. Sebuah sistem yang berdasarkan al-Qur’an dan al-Hadits. Ketika agama Islam (din) telah disempurnakan dan diterapkan, maka tempat itu diberi nama madinah. Dari akar kata tersebut terciptalah kata baru madana, yang berarti membangun, mendirikan kota, memajukan, memurnikan dan memartabatkan. Dan akhirnya, tamaddun atau peradaban.

Menurut Yves Brunsvick dalam “Lahirnya Sebuah Peradaban” (2005), arus globalisasi telah membawa dampak perubahan peradaban. Baik dari budaya, bahasa, agama dan sistem. Semuanya telah berubah. Tergantung oleh siapa yang mampu mengiringi globalisasi tersebut. Ini menunjukkan bahwa saat ini, peradaban yang menguasai dunia datang dari peradaban Barat. Pernyataan ini diamini oleh Budi Winam dalam bukunya “Globalisasi & Krisis Demokrasi” (2007). Ia menyatakan bahwa salah satu bukti suksesnya arus globalisasi ialah terjadinya perubahan sistem pemerintahan yang demokratis.

Peradaban Barat yang dibawa oleh globalisasi tidak sejalan dengan konsep peradaban Islam. Jika Barat maju karena meninggalkan agama, Islam tidak demikian. Justru ketika umat Islam memisahkan diri dari agama, maka kehancuran atau kebiadaban akan semakin berkuasa. Untuk itu, diperlukan suatu perubahan peradaban dunia yang sarat akan nilai-nilai Islam.

Menurut Ibn Khaldun dalam “The Muqaddimah: an Introduction to History” (1978 : 54-57), suatu peradaban akan mampu terwujud apabila tiga hal pokok telah terpenuhi, yaitu, Kemampuan manusia untuk berpikir yang menghasilkan sains dan teknologi, Kemampuan berorganisasi dalam bentuk kekuatan politik dan militer dan kesanggupan berjuang untuk hidup.

Lebih lanjut, Ibn Khaldun mengatakan bahwa tanda terwujudnya peradaban ialah di mana ilmu pengetahuan seperti fisika, kimia, geometri, aritmatika, astronomi, optik, kedokteran, dsb. berkembang secara pesat. Bahkan maju mundurnya suatu peradaban tergantung atau berkaitan dengan maju mundurnya ilmu pengetahuan. Jadi substansi peradaban yang terpenting dalam teori Ibn Khaldun adalah ilmu pengetahuan. Namun, bukan berarti itu adalah satu-satunya substansi peradaban.

Sayid Husein Nasr –Seorang tokoh pertama dalam pembicaraan wacana baru tentang “Ilmu Pengetahuan dan Islam”, di Teheran, Iran– menyebut ilmu pengetahuan dengan Scientia Sacra (Sacred Science, Ilmu Sacral) untuk menunjukkan bahwa aspek kearifan ternyata jauh lebih penting dari pada aspek teknologi yang sampai saat ini masih menjadi ciri utama ilmu pengetahuan modern.

Senada dengan Syed Husein Nasr, Muhammad Abduh lebih menekankan pada aspek agama. Menurutnya, agama, keimanan serta nilai-nilai spiritualitas adalah pokok terpenting dari membangun peradaban. Jadi, menolak agama sebagai inti peradaban berarti sama halnya dengan membangun rumah tanpa pondasi.

Hamid Fahmy Zarkasyi dalam bukunya “Peradaban Islam” (2010) mengajukan strategi sebagai solusi untuk membangun kembali peradaban Islam.

Pertama, Memahami sejarah jatuh bangunnya peradaban Islam di masa lalu.

Kedua, Memahami kondisi umat Islam masa kini dan mengidentifikasi masalah atau problematika yang sedang dihadapi umat Islam masa kini.

Dan ketiga, Sebagai prasyarat bagi poin kedua, adalah memahami kembali konsep-konsep kunci dalam Islam.

Karena dasar peradaban Islam adalah agama dan ilmu pengetahuan, maka solusi untuk memahami kembali konsep-konsep dasar Islam adalah tepat. Upaya ini lebih populer disebut dengan Islamisasi. Artinya, mengembalikan esensi konsep keilmuan sesuai dengan al-Qur’an dan al-Hadits. Islamisasi merupakan tugas besar umat Islam saat ini. Adapun harapan dari upaya tersebut ialah terintegrasinya ilmu pengetahuan dengan agama. Inilah yang akan menjadi pondasi peradaban Islam. Dengan demikian, peradaban Islam akan mampu mengawal peradaban dunia.

Maka, saat inilah momentum bagi umat Islam untuk hijrah menuju kebangkitan berperadaban Islam. Dengan arti lain, tahun yang berganti hendaknya dibarengi dengan perubahan dari hal-hal yang dulunya negatif berubah menjadi yang lebih positif, dari kemaksiatan menuju ketaqwaan, dari keterpurukan peradaban menuju kebangkitan.

Sebagai catatan akhir, peradaban Islam adalah peradaban yang total. Maksudnya, peradaban Islam tidak terlepas dari nilai-nilai agama, pendidikan, politik, ekonomi, sosial, dll. yang saling terintegrasi. Sebuah peradaban yang sangat menjunjung nilai ketuhanan (tauhid) dan ilmu pengetahuan (sains). Untuk itu, hijrah dari peradaban sekular menuju peradaban Islam adalah mutlak dilakukan.*

Penulis adalah Mahasiswa Pascasarjana ISID Gontor

Redaktur: Admin Hidcom
Bantu kami terus menyuarakan kebenaran!

Scan QRIS dan dukung #Journalism4Ummah

donasi online
Bagikan tulisan ini
Facebook Whatsapp Whatsapp Telegram Email Salin tautan Print
Tulisan sebelumnya Hidayatullah Jogja Masuk Seleksi Pesantren Berwawasan Lingkungan Hidup
Tulisan selanjutnya Peringkat Sistem Pendidikan Indonesia Terendah di Dunia

Ikuti Kami

1.2KLike
89KFollow
27.8KFollow
222KSubscribe
Ad image
Ad image

Terpopuler

Berita

Hampir 135 Ribu Jamaah Indonesia Salurkan Dam Lewat Adahi, Daging Diprioritaskan untuk Palestina

Berita
3 Juni 2026 12:30
Setia dari Dulu, Kini dan Akan Datang: Kisah Pak Haji Toeng & Bu Hajjah Intang Kloter 15 KBIHU Hidayatullah Balikpapan di Haji 2026
Presiden Erdogan Kini Punya 10 Cucu, Kabar Bahagia Datang dari Keluarga Presiden Turki
Iran Tegaskan Siap Tempur Lebih Kuat Jika Perang dengan AS Kembali Pecah
Pengadilan Kenya Tolak Rencana Amerika Serikat untuk Mendirikan Fasilitas Karantina Ebola di Negaranya

Terbaru

  • Amerika Jatuhkan Sanksi Atas Presiden Kuba, Anggota Keluarga Castro
  • Usai Serangan Drone Terminal Pelabuhan Mina al-Fahl Oman Beroperasi Kembali
  • Survei Terbaru Ungkap Mayoritas Masyarakat Dunia Tak Menyukai Israel
  • Polisi ‘Israel’ Rekrut Aktivis Zionis untuk Perkuat Kehadiran Yahudi Masjidil Aqsha
  • ‘Israel’ Beri Keringanan Pajak bagi Permukiman Ilegal Yahudi di Tepi Barat
  • Genosida ‘Israel’ di Gaza: Jumlah Warga Palestina Hilang Tembus 9.500 Orang
  • Turki Tegaskan Komitmennya untuk Perkuat Keuangan Syariah
  • Fatah Tunjuk Hussein al-Sheikh Jadi Wakil Mahmoud Abbas
  • ‘Israel’ Klaim Penjualan Senjata ke Negara Arab Melonjak Tajam, Banyak yang Beli Diam-Diam
  • Turki Siapkan Proyek Kereta Hijaz sebagai Alternatif Selat Hormuz

Mungkin Anda Juga Suka

ArtikelTsaqafah

Pengaruh Freemason dalam Wacana Pluralisme Agama (1)

5 Januari 2023 13:30
Tsaqafah

Ijtihad sebagai Solusi Persoalan Umat

29 Desember 2022 19:00
Tsaqafah

Bahaya Sekularisasi dan Sekularisme

26 Desember 2022 13:45
Tsaqafah

Loss of Adab, Kebingungan Ilmu dan Pemimpin Palsu

18 Desember 2022 18:30
Hidayatullah.comHidayatullah.com
Follow US
Copyright 2023 © Hidayatullah.COM
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Informasi Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Indeks
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lupa password?