Hidayatullah.com—Pemerintan Indonesia akan membuka Forum Religion of Twenty (R20) yang digelar pada 2-3 November 2022. Konferensi internasional itu diinisiasi oleh Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU).
Ketua Umum PBNU KH Yahya Cholil Staquf mengatakan, gagasan konferensi tokoh agama internasional ini muncul setelah penyelenggaraan Muktamar ke-34 NU di Lampung pada Desember 2021 lalu. Idenya adalah agar para pemimpin dunia berkumpul dan berdialog secara jujur tentang dua topik utama.
“Pertama, bagaimana kita menyikapi realitas problematik hubungan antar umat beragama yang berbeda dan realitas situasi yang masih sangat problematis di berbagai tempat di dunia ini,” ujar Yahya dalam konferensi pers di di Grand Hyatt, Kawasan Wisata Nusa Dua Bali, Kabupaten Badung, Selasa (1/11/2022).
Kedua, lanjut dia, untuk membahas tentang bagaimana para pemuka agama dapat mengembangkan visi bagaimana menjadikan agama sebagai solusi atas berbagai permasalahan dunia dengan menanamkan nilai-nilai luhur dan agama dalam dinamika politik dan ekonomi internasional.
“Karena Indonesia adalah tuan rumah forum G20 tahun ini, maka NU kemudian mengajukan gagasan itu ke pemerintah kepada Presiden Joko Widodo dan mengusulkan gagasan itu untuk diadopsi ke forum G20 dan mendapat persetujuan dari pemerintah,” ujar Yahya.
Menurut dia, visi dari R20 ini adalah menjadikan gerakan ini sebagai gerakan global. Di berharap, forum R20 ini kedepannya bisa menjadi agenda tahunan dalam forum G20.
“Kita ingin membawanya lebih jauh, tidak hanya satu acara konferensi, tetapi kita mencari pengembangan ide ini menjadi gerakan global. Itu sebabnya kami membawa ide ini ke pemerintah ke forum G20, sehingga forum agama G20 dapat diadopsi ke forum tahunan G20 dari tahun ke tahun,” jelas Yahya.
Untuk menjadikan gerakan global, tambah dia, tentunya PBNU membutuhkan mitra yang sangat kuat dan terkemuka untuk bergabung dan berjalan bersama untuk mewujudkan ide besar tersebut.
“Oleh karena itu kami mengundang Liga Muslim Dunia (MWL) yang dianggap sebagai entitas terpenting dalam organisasi internasional dunia ini, untuk menjadikan gagasan ini menjadi gerakan internasional lebih realistis untuk dicapai. Insya Allah,” kata Yahya.
Sebelumnya, kegiatan R20 ini menuai sorotan karena rencana kehadiran Ram Madhav, anggota eksekutif nasional Rashtriya Swayamsevak Sangh atau RSS. RSS adalah organisasi kelompok nasionalis Hindu sayap kanan India yang selama ini melakukan penindasan terhadap umat muslim India.
Juru Bicara Forum R20 Muhammad Najib Azca dendiri menjelaskan ihwal keterlibatan RSS dalam kegiatan ini.
Alasan pertama, R20 merupakan agenda yang menempel pada forum G20 yang sebagian pesertanya mewakili negara-negara dalam forum G20. India termasuk salah satunya.
“Representasi tokoh-tokoh agama anggota G20 akan diundang. Kita mengikuti pola dan pakem G20,” kata Najib dilansir oleh Tempo, Kamis, 29 September 2022.
Meski demikian, ada peserta R20 yang bukan representasi anggota G20. Najib mencontohkan kehadiran tokoh agama dari Vatikan dan Uni Emirat Arab.
Kedua, perwakilan RSS diundang karena organisasi itulah yang direkomendasikan oleh pemerintah India. Sebab, RSS merupakan akar kekuatan dari Partai Bharatiya Janata (BJP) yang saat ini berkuasa di negara itu.
Apalagi, Presidensi G20 pada 2023 akan dipegang India. Karenanya, NU sebagai penyelenggara berkoordinasi dengan pemerintah India dan mendapatkan rekomendasi dari mereka. “Untuk India, kita mengikuti rekomendasi, yaitu dari RSS,” katanya.