Hidayatullah.comHidayatullah.comHidayatullah.com
Pemberitahuan Lebih Banyak
Font ResizerAa
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Font ResizerAa
Hidayatullah.comHidayatullah.com
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Pencarian
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Kajian

Peran Ayah dalam Pendidikan Kejujuran dan Maaf  

Ahmad
Terakhir diupdate: 21 Mei 2025 11:00 11:00 am
Ahmad
Dipublikasikan 21 Mei 2025 23:39
Bagikan
Bagikan

Peran ayah dalam mendidik anak –termasuk memohon ampun bagi anaknya— dicontohkan melalui berbagai kisah para Nabi  

Hidayatullah.com | PENDIDIKAN akhlak merupakan fondasi utama dalam membentuk kepribadian anak, dan salah satu nilai moral terpenting yang harus ditanamkan sejak dini adalah kejujuran.

Kejujuran tidak hanya mencerminkan integritas pribadi, tetapi juga menjadi landasan bagi terciptanya masyarakat yang adil dan harmonis.

Dalam hal ini, keluarga berperan sebagai lingkungan pertama dan utama dalam proses pendidikan, di mana ayah memegang posisi penting sebagai pemimpin dan pendidik dalam rumah tangga.

Dalam Al-Qur’an, peran ayah dalam mendidik anak telah dicontohkan melalui berbagai kisah, seperti kisah Nabi Ibrahim ‘alaihissalam dan Nabi Ya’qub ‘alaihissalam.

Baca Juga

Merdeka Bersuara, Bukan Merampas Ketenangan: Sound Horeg dalam Syariat
Atas Jasa Ulama Madzhab, Ijtihad Tidak Lagi Harus Dari Nol
Syair Ahmad Baktsir dan Detak Jantung Diplomasi Kemerdekaan RI di Kairo
Membangun Ketahanan Mental dengan Nilai-Nilai Al-Qur’an
Prajurit di Balik Layar, Pelita di Pinggir Jalan: Jejak Langkah Chumam Dasuki Merawat Literasi

Kejujuran sebagai salah satu nilai akhlak mulia telah ditekankan dalam banyak ayat Al-Qur’an, dan menjadi bagian dari pendidikan tauhid yang menyeluruh.

Permohonan Ampun Ayah dalam Al-Quran

Dalam QS: Yusuf [12]: 97-98 menampilkan dialog anak yang mengakui kesalahan dan memohon ampun serta respon ayah yang memaafkan kesalahan anak.

قَالُوۡا يٰۤاَبَانَا اسۡتَغۡفِرۡ لَنَا ذُنُوۡبَنَاۤ اِنَّا كُنَّا خٰـطِــِٕيۡنَ قَالَ سَوۡفَ اَسۡتَغۡفِرُ لَـكُمۡ رَبِّىۡؕ اِنَّهٗ هُوَ الۡغَفُوۡرُ الرَّحِيۡمُ‏  ‏ ‏ ‏

“Mereka berkata, “Wahai ayah kami! Mohonkanlah ampunan untuk kami atas dosa-dosa kami, sesungguhnya kami adalah orang yang bersalah (berdosa). “Dia (Yakub) berkata, “Aku akan memohonkan ampunan bagimu kepada Tuhanku. Sungguh, Dia Yang Maha Pengampun, Maha Penyayang.” (QS: Yusuf [12]: 97-98).

Menurut Ibnu Asyur dalam Kitab Tafsirnya yang berjudul Tafsir at-Tahrir wa Tanwir (jilid 13, hlm 54) bahwa permohonan maaf anak-anaknya Nabi Ya’qub adalah bentuk penyesalan dan pengakuan dosa yang dalam.

Anak-anaknya memohon kepada ayahnya agar sang ayah memohonkan ampun kepada Allah. Bisa dilihat bahwa jawaban Nabi Ya’qub disini menggunakan kata “سَوۡفَ” yang bermakna nanti/akan yang dapat menunjukkan bahwa terdapat penundaan, yang mana beliau tidak langsung memohonkan ampun saat itu juga.

Menurut Ibnu Asyur ini dapat dimaknai bahwa nabi Ya’qub memilih untuk menunggu waktu yang tepat, seperti waktu sahur atau hari jumat malam yang dianggap sebagai waktu mustajab doa.

وَيُعْلَمُ مِنْهُ أَنَّهُ اسْتَغْفَرَ لَهُمْ فِي الْحَالِ بِدَلَالَةِ الْفَحْوَى: وَلَكِنَّهُ أَرَادَ أَنْ يُنَبِّهَهُمْ إِلَى عِظَمِ الذَّنْبِ وَعَظَمَةِ اللَّهِ تَعَالَى وَأَنَّهُ سَيُكَرِّرُ الِاسْتِغْفَارَ لَهُمْ فِي أَزْمِنَةٍ مُسْتَقْبَلَةٍ.Top of Form

“Dapat dipahami dari ayat tersebut bahwa sebenarnya Nabi Ya’qub telah memohonkan ampun bagi mereka saat itu juga, berdasarkan makna tersirat dari kalimat tersebut. Namun, beliau ingin mengingatkan mereka tentang besarnya dosa yang telah mereka lakukan dan tentang keagungan Allah Ta’ala. Selain itu, beliau juga bermaksud untuk menunjukkan bahwa ia akan terus mengulangi permohonan ampunan itu untuk mereka di waktu-waktu mendatang.”

Dalam tafsir Al-Jāmi‘ li Aḥkām al-Qur’ān wa al-Mubayyin lima Taḍammanahu min as-Sunnah wa Āy al-Furqān (jilid 9 hlm 906-907) al-Qurthubi mengatakan bahwa alasan mengapa anak-anak Nabi Ya’qub meminta ampun kepada ayah mereka karena mereka telah membuat Nabi Ya’qub sakit atas kesedihan yang menimpanya, dan dosa tersebut tidak akan hilang kecuali dengan ampunan Allah SWT.

Menurut al-Qurthubi, hukum ini tentunya berlaku bagi siapa saja yang menyakiti diri, harta dan lainnya milik seorang muslim dalam bentuk kezhaliman lainnya.

Orang yang menzhalimi wajib membayar kafarah kepada orang yang telah dizhaliminya serta memberitahukan kezhaliman apa yang telah diperbuat dengan kadarnya.

Lalu tentang kafarah, apakah kafarah mutlak (membayar denda seadanya) ini bermanfaat bagi pelakunya juga atau hanya korban?

Maka disini terdapat perselisihan pendapat, tetapi yang shahih adalah kafarah tersebut seharusnya tidak bermanfaat bagi pelaku. Sebab, ketika orang yang dzhalimi mengetahui kadar kezhaliman yang menimpanya, tentu hatinya tidak tenang dengan apa yang telah diterimanya.

Dalam hadis Shahih Bukhari, diriwayatkan dari Abu Hurairah RA, dia berkata, “Rasulullah ﷺ bersabda:

مَنْ كَانَ عِنْدَهُ مَظْلِمَةٌ لِأَخِيهِ، مِنْ عِرْضِهِ أَوْ مِنْ شَيْءٍ، فَلْيَتَحَلَّلْهُ مِنْهُ الْيَوْمَ، قَبْلَ أَنْ لَا يَكُونَ دِينَارٌ وَلَا دِرْهَمٌ، إِنْ كَانَ لَهُ عَمَلٌ صَالِحٌ أُخِذَ مِنْهُ بِقَدْرِ مَظْلَمَتِهِ، وَإِنْ لَمْ يَكُنْ لَهُ حَسَنَاتٌ، أُخِذَ مِنْ سَيِّئَاتِ صَاحِبِهِ فَحُمِلَ عَلَيْهِ

“Barang siapa yang pernah menzhalimi saudaranya, baik dalam hal kehormatan atau sesuatu yang lain, hendaklah ia meminta dihalalkan (dimaafkan) oleh saudaranya itu hari ini juga, sebelum datang hari di mana tidak ada lagi dinar dan dirham. Jika ia memiliki amal saleh, maka akan diambil darinya sesuai kadar kezhalimannya. Dan jika ia tidak memiliki amal baik, maka dosa orang yang dizhalimi itu akan dipindahkan kepadanya.” (HR. Bukhari, no. 2449).

Dalam kitab tafsirnya, Tafsir al-Qur’an al-‘Azhim (jilid 4 hlm 311-312), Ibnu Katsir menyertakan perkataan seorang sahabat, yaitu Muharib bin Ditsar yang berbunyi:

وَقَالَ ابْنُ جَرِيرٍ: حَدَّثَنِي أَبُو السَّائِبِ، حَدَّثَنَا ابْنُ إِدْرِيسَ، سَمِعْتُ عَبْدَ الرَّحْمَنِ بْنَ إِسْحَاقَ، يَذْكُرُ عَنْ مُحَارِبِ بْنِ دِثَارٍ، قَالَ: كَانَ عَمٌّ لِي يَأْتِي الْمَسْجِدَ، فَيَسْمَعُ إِنْسَانًا يَقُولُ: اللَّهُمَّ دَعَوْتَنِي فَأَجَبْتُكَ، وَأَمَرْتَنِي فَأَطَعْتُكَ، وَهَذَا السَّحَرُ فَاغْفِرْ لِي. قَالَ: فَاسْتَمَعَ الصَّوْتَ، فَإِذَا هُوَ مِنْ دَارِ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ مَسْعُودٍ. فَسَأَلَ عَبْدَ اللَّهِ عَنْ ذَلِكَ، فَقَالَ: إِنَّ يَعْقُوبَ أَخَّرَ بَنِيهِ إِلَى السَّحَرِ بِقَوْلِهِ: سَوْفَ أَسْتَغْفِرُ لَكُمْ رَبِّي.

“Ibnu Jarir berkata: Telah menceritakan kepadaku Abu As-Sa’ib, ia berkata: Telah menceritakan kepada kami Ibnu Idris, ia berkata: Aku mendengar Abdurrahman bin Ishaq, meriwayatkan dari Muharib bin Ditsar, ia berkata:

“Pamanku biasa datang ke masjid dan mendengar seseorang berdoa: ‘Ya Allah, Engkau telah menyeruku, maka aku pun memenuhi panggilan-Mu. Engkau telah memerintahku, maka aku pun menaati. Dan kini telah tiba waktu sahur, maka ampunilah aku.”

Lalu ia memperhatikan suara itu, ternyata berasal dari rumah Abdullah bin Mas’ud. Maka ia bertanya kepada Abdullah tentang hal itu, dan ia menjawab:

“Sesungguhnya Nabi Ya’qub menunda permintaan ampun untuk anak-anaknya hingga waktu sahur, sebagaimana ucapannya: ‘Aku akan memohonkan ampun kepada Tuhanku.”  (QS: Yusuf: 98)

Ibnu Katsir juga menyertakan sebuah riwayat disebutkan bahwa Nabi Muhammad ﷺ bersabda: “Nabi Ya’qub menunda doa hingga malam Jumat.”

Riwayat ini dinukil dari jalur Said bin Jubair dari Ibnu Abbas. Namun,menurut Adz-Dzahabi hadis ini berstatus munkar syadz. Hal ini menunjukkan bahwa waktu dipilih bukan secara sembarangan, tetapi karena kemuliaan malam Jumat sebagai waktu dikabulkannya doa.

Ibnu Katsir mengatakan bahwa sebagian mufasir menyebutkan bahwa beliau menunda doa itu agar waktu taubat mereka lebih lama, sehingga rasa penyesalan mereka semakin dalam dan mereka benar-benar ikhlas. Ada pula yang mengatakan bahwa penundaan ini dimaksudkan agar mereka semakin merasakan beratnya dosa yang mereka perbuat.

Kejujuran dan Maaf: Pelajaran dari Nabi Ya’qub

Hubungan antara ayah dan anak adalah fondasi penting dalam pendidikan akhlak, terutama dalam menanamkan nilai kejujuran. Dalam kisah Nabi Ya’qub dan anak-anaknya yang terekam dalam Surah Yusuf ayat 97–98, kita menemukan potret luar biasa tentang bagaimana kejujuran, penyesalan, dan pengampunan dibentuk dalam ikatan keluarga.

Dari sini kita belajar bahwa kejujuran bukan hanya soal berkata benar, tetapi juga berani mengakui kesalahan dan menempuh proses taubat dengan sungguh-sungguh.

Seorang ayah, seperti Nabi Ya’qub, tidak hanya mengampuni, tetapi juga membimbing anak-anaknya memahami arti tanggung jawab di hadapan Tuhan.

Kisah ini mengajarkan bahwa mendidik kejujuran dan membentuk akhlak bukan proses instan. Dibutuhkan waktu, ketulusan, dan kepekaan spiritual—dimulai dari rumah, dengan kasih sayang dan keteladanan seorang ayah.

Dari beberapa penafsiran diatas,  Dari sini, kita belajar bahwa pengampunan, apalagi untuk dosa besar, bukanlah sesuatu yang instan. Itu butuh waktu, ketulusan, dan kesungguhan. Bahkan doa dari seorang ayah yang bijaksana pun tidak langsung dilafazkan begitu saja, melainkan dipersiapkan dengan penuh keseriusan demi kebaikan anak-anaknya. */Salsabila, alumni Hidayatullah Ternate dan mahasiswi PTIQ Jakarta

Redaktur: Ahmad
Bantu kami terus menyuarakan kebenaran!

Scan QRIS dan dukung #Journalism4Ummah

donasi online
TAG:Headlinekisah para Nabimemohon ampunmemohon maafmendidik anakperan ayah
Bagikan tulisan ini
Facebook Whatsapp Whatsapp Telegram Email Salin tautan Print
Tulisan sebelumnya Jejak Literasi Majalah Anak Islam di Indonesia
Tulisan selanjutnya Demonstrasi Pro Palestina Bendera di Amsterdam pada Mei 22 2021 Protes Kekejaman ‘Israel’, Catalonia Tutup Kantor Dagang di Tel Aviv

Ikuti Kami

1.2KLike
89KFollow
27.8KFollow
222KSubscribe
Ad image
Ad image

Terpopuler

Berita

DPP Hidayatullah Dorong APHIDA Perkuat Kolaborasi dan Jaringan Bisnis untuk Hidayatullah

Berita
31 Agustus 2026 20:04
STAI Al Bayan Gelar Wisuda Angkatan II, Ketum DPP Hidayatullah Pesankan Alumni Kuatkan Takwa Hadapi Tantangan Zaman
Erdogan Serukan Persatuan Dunia Islam dalam Perayaan Maulid di Istanbul
Mayat Hanyut Hingga ke India, Korban Jiwa Banjir Nepal-China 750 dan >3.000 Orang Hilang
Irak Tolak Kehadiran Pasukan Koalisi AS, Harus Pergi pada 30 September

Terbaru

  • Studi: Kokain Lampaui Minyak, Jadi Sektor Ekspor Terbesar Kolombia
  • Trump Mengklaim ‘Israel’ Tak Akan Bertahan Tanpa Dirinya
  • Erdogan: Militer Turki Sedang Berada pada Periode Terkuat dalam Sejarahnya
  • Komandan ‘Israel’ Tak Menyesal Perintahkan Serangan yang Tewaskan 7 Relawan WCK
  • PM Spanyol Sebut Rusia dan ‘Israel’ Sebarkan Hoaks Krisis Imigran Ceuta
  • Irak Tolak Kehadiran Pasukan Koalisi AS, Harus Pergi pada 30 September
  • Pimpin APHIDA 2026-2030, Fadlurrahman: Bidik Penguatan Bisnis Jamaah hingga Pasar Global
  • DPP Hidayatullah Dorong APHIDA Perkuat Kolaborasi dan Jaringan Bisnis untuk Hidayatullah
  • Pelacur Thailand akan Kedatangan Pelanggan Potensial 5 Ribu Tentara Amerika
  • UEA Bantah Laporan Serangan di Pangkalan Udara Al Minhad

Mungkin Anda Juga Suka

Sejarah

Buya Natsir dan 1.000 Sarung untuk Tapol PKI

22 Juli 2026 20:00
Kajian

Jeritan Seorang Homoseksual dan Solusi Drs. Faruq Nasution

30 Juni 2026 22:36
Lentera Hidup

Teladan Jusuf Wibisono : Pejabat Masyumi yang Berintegritas Tinggi

30 Juni 2026 10:26
Ghazwul FikrKajian

Krisis Makna di Era Modern dan Jalan Kembali kepada Wahyu

26 Juni 2026 11:30
Hidayatullah.comHidayatullah.com
Follow US
Copyright 2023 © Hidayatullah.COM
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Informasi Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Indeks
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lupa password?