Hidayatullah.comHidayatullah.comHidayatullah.com
Pemberitahuan Lebih Banyak
Font ResizerAa
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Font ResizerAa
Hidayatullah.comHidayatullah.com
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Pencarian
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Kisah & Perjalanan

Tanpa Gelar, Lulusan SD ini Jadi Ketua Perguruan Tinggi (1)

Muhammad Abdus Syakur
Terakhir diupdate: 28 Juni 2014 16:38 4:38 pm
Muhammad Abdus Syakur
Dipublikasikan 28 Juni 2014 16:38
Bagikan
KH Aceng Zakaria di kediamannya di Garut dan salah satu buku karangannya.
Bagikan

SUBUH baru saja berlalu ketika empat orang pria dewasa mengelilingi sebuah meja kayu. Di atas meja, terhidang empat gelas kopi panas dan makanan-makanan ringan. Di dalam ruang tamu sebuah rumah beton itu, udara dingin dari luar tetap menusuk kulit.

Namun, bagi keempat orang itu, hidangan yang paling menarik diseruput bukan kopi panas penghangat tubuh. Melainkan dua buah buku agak tipis yang tergeletak di dekat hidangan. Dua buku itu masing-masing berjudul “Ilmu Nahwu Praktis Sistem Belajar 40 Jam” bersampul kuning, dan “Belajar Tashrif Sistem 20 Jam” bersampul hijau.

Kedua buku itu disodorkan oleh penulisnya sendiri, KH Aceng Zakaria, kepada para tamunya. Dengan peci hitam, kemeja batik dibalut jas gelap, dan sarung hijau, kiai ini meladeni obrolan ketiga tamunya, Ahmad Damanik, Ibnu Syafaat, dan Muh. Abdus Syakur. Mereka para awak dari majalah Suara Hidayatullah dan Hidayatullah.com.

Nama Kiai Aceng Zakaria sudah masyhur dalam kancah keilmuan nahwu-sharaf, khususnya di Indonesia. Dia adalah penulis buku terkenal Al-Muyassar Fi ‘Ilm Al-Nahwi. Buku bersampul kuning yang disodorkannya kepada para wartawan adalah edisi terjemahan Al-Muyassar Jilid Pertama.

Sejatinya, buku yang telah ditulis oleh Pimpinan Pondok Pesantren Persatuan Islam (Persis) 99 Rancabango Garut ini bukan cuma itu, bahkan sudah banyak.

Baca Juga

Ketua Dewan Dakwah Islamiyah Indonesia mengunjungi Palestina dan Masjidil Aqsha
Keadaan Masjidil Aqsha dan Rakyat Palestina di Bawah Penjajahan Israel
Dakwah di Timor Leste: “Ustadz Pergi, Siapa Lagi yang Mengajari Kami Islam?” [2]
Dakwah di Timor Leste: “Ustadz Pergi, Siapa Lagi yang Mengajari Kami Islam?” [1]
Manis Asin Bisnis Si Kental Hitam
Syiarkan Tilawah al-Quran, Mahasiswa STAIL Selenggarakan “Touring Quran”

“Sekarang sedang nulis buku yang ke-65 kalau nggak salah. Judulnya ‘Problematika Hidup Manusia,” ungkapnya saat dikunjungi di kediamannya, Jalan Rancabango, Kudangsari, Kecamatan Tarogong Kaler, Kabupaten Garut, Jawa Barat, Sabtu, akhir Sya’ban 1435 H (28/6/2014).

Dalam silaturahim usai shalat Shubuh berjamaah di masjid pesantrennya, Aceng Zakaria banyak bercerita kisah perjalanan hidupnya menggeluti ilmu nahwu-sharaf. Yang menarik, kiai ini tidak memiliki gelar akademis formal apapun.

Dia menuturkan, sejak duduk di bangku SD dirinya sudah dikondisikan untuk mempelajari berbagai kitab kuning. Maklum, keluarganya berlatar belakang pesantren tradisional. Begitu lulus SD di Babakan Loa, Wanaraja (1961), sekitar 10 kitab telah dia selesaikan, seperti kitab Jurumiyah, Safinah, dan sebagainya.

Sejak lulus SD dia pun mulai menulis, sambil mengajar anak-anak SMP dan SMA di rumahnya setiap habis shalat Shubuh, Ashar, dan Maghrib. Seiring itu, berbagai disiplin ilmu berhasil dia pelajari dengan baik, seperti aqidah, fiqih, nahwu, sharaf, tafsir, hadits, dan lainnya. Saat itu usianya sekitar 14 tahun.

“Siangnya ke sawah, nyabit rumput, bantu orangtua. (Terus berlangsung) sampai usia 20-an tahun,” tutur suami Hj Euis Nurhayati (49) ini.

Namun saat itu, Aceng Zakaria belum punya cita-cita yang kuat mau jadi apa. Yang penting, kenangnya, dia ikut saja disuruh mengaji dan mengajar selama 5 tahunan.

“Saya tidak tertarik untuk sekolah yang formal. Tapi baru saya temukan, ini barangkali pilihan Allah. Kalau masuk sekolah barangkali saya jadi PNS. Ditawari PNS juga saya nggak mau,” tuturnya lantas tertawa.

Setahun Dapat 2 Ijazah

Pada tahun 1965-1969, pria kelahiran Wanaraja, Garut, 11 Oktober 1948 ini terjun ke organisasi Pelajar Islam Indonesia (PII) Garut Timur.

“Sebelum ke Persis, ke PII dulu. Ikut training-training gitu. Tahun 1969 baru saya punya pikiran sendiri ingin sekolah, tanpa disuruh,” tuturnya kepada Hidayatullah.com.

Keinginan Aceng muda untuk sekolah pun disetujui orangtuanya. Atas saran orangtua bibinya, dia pergi berguru ke KH Endang Abdurrahman (Ketua Umum PP Persis saat itu) di Pajagalan, Bandung.

Awalnya saat mendaftar ke Pesantren Persis Pajagalan, Kiai Endang Abdurrahman masih meragukannya, mengingat Aceng tidak memiliki ijazah SMP/sederajat. Namun, setelah mengetahui sepak terjang dan kemampuan calon muridnya, Kiai Endang pun menerima Aceng.

“Jadi tidak dites langsung, saya serahkan saja tulisan-tulisan saya (sebelumnya). Masuknya di Caturwulan III. Caturwulan I nggak bisa karena bukan di awal tahun. Masuk langsung ke Muallimin (tingkatan tertinggi di pondok tersebut. Red), nggak Tsanawiyah lagi,” ungkapnya.

Dia pun belajar di Pajagalan selama 1,5 tahun hingga 1970. Begitu lulus mendapat 2 ijazah sekaligus, untuk tingkat Muallimin dan Tsanawiyah.

Lulus dari Pajagalan, dia meminta saran ke guru-gurunya harus ke mana? Ada yang menyuruhnya pulang ke Garut, ada yang menyarankan jadi politikus, ada pula yang menyarankan lanjut kuliah ke perguruan tinggi. Tapi Kiai Endang melarangnya kuliah.

Alasannya, “Cari ajalah, (apa) ada sarjana yang mau ngajar di diniyah? (Apa) ada sarjana yang mau ngajar di kampung-kampung?” dalih Kiai Endang saat ditanya Aceng kenapa tidak disetujui kuliah.

Akhirnya, Aceng pun memilih mengabdi ke pondoknya Kiai Endang selama lima tahun hingga 1975. Di sela-sela kegiatannya mengajar dan belajar, dia selalu konsisten menulis. Dari hasil tulisan itulah buku-bukunya bermunculan. Buku tersebut ditulis, dicetak, dan diterbitkannya sendiri atas nama Penerbit IBN Azka Press Garut.

“Jadi Muyassar itu hasil pengalaman di lapangan. Modal saya dari kitab-kitab tradisional dan dari Persis juga,” ungkapnya.*/Bersambung

Redaktur: Muhammad Abdus Syakur
Bantu kami terus menyuarakan kebenaran!

Scan QRIS dan dukung #Journalism4Ummah

donasi online
Bagikan tulisan ini
Facebook Whatsapp Whatsapp Telegram Email Salin tautan Print
Tulisan sebelumnya Hadiah untuk Anak, Orangtua Dituntut Bijak
Tulisan selanjutnya Pemerintah Belum Serius Dorong Pemanfaatan TI Open Source

Ikuti Kami

1.2KLike
89KFollow
27.8KFollow
222KSubscribe
Ad image
Ad image

Terpopuler

Berita

Genosida ‘Israel’ di Gaza: Jumlah Warga Palestina Hilang Tembus 9.500 Orang

Berita
5 Juni 2026 05:00
MUI: Qurban Presiden dengan Dana APBN untuk Masyarakat Sah dan Sesuai Syariat
‘Israel’ Perketat Aturan Masjid, Pasang Pengeras Suara Harus Izin Zionis
‘Israel’ Klaim Penjualan Senjata ke Negara Arab Melonjak Tajam, Banyak yang Beli Diam-Diam
Bachtiar Nasir: Pesantren Hadapi Ujian Besar Kepercayaan Publik di Era Digital

Terbaru

  • Survei Terbaru Ungkap Mayoritas Masyarakat Dunia Tak Menyukai Israel
  • Polisi ‘Israel’ Rekrut Aktivis Zionis untuk Perkuat Kehadiran Yahudi Masjidil Aqsha
  • ‘Israel’ Beri Keringanan Pajak bagi Permukiman Ilegal Yahudi di Tepi Barat
  • Genosida ‘Israel’ di Gaza: Jumlah Warga Palestina Hilang Tembus 9.500 Orang
  • Turki Tegaskan Komitmennya untuk Perkuat Keuangan Syariah
  • Fatah Tunjuk Hussein al-Sheikh Jadi Wakil Mahmoud Abbas
  • ‘Israel’ Klaim Penjualan Senjata ke Negara Arab Melonjak Tajam, Banyak yang Beli Diam-Diam
  • Turki Siapkan Proyek Kereta Hijaz sebagai Alternatif Selat Hormuz
  • Harga Obat Terancam Naik, DPR Minta Perlindungan untuk Pasien Penyakit Kronis
  • Bantah Menolak Lepas Kendali Gaza, Hamas: Kebohongan ‘Israel’

Mungkin Anda Juga Suka

Kisah & Perjalanan

Aksara Jawi yang Masih Bertahan di Brunei Darussalam

21 Desember 2022 09:45
FeatureKisah & Perjalanan

Mendulang Rezeki dari Budi Daya Rumput Laut di Desa Kupang

10 Desember 2022 23:18
Kisah & Perjalanan

Piala Dunia 2022: Qatar Ubah Pertandingan Bola menjadi Keramahan Budaya Arab dan Keindahan Islam

9 Desember 2022 10:25
Kisah & Perjalanan

Turki dan Surga Kucing

4 Desember 2022 23:45
Hidayatullah.comHidayatullah.com
Follow US
Copyright 2023 © Hidayatullah.COM
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Informasi Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Indeks
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lupa password?