Hidayatullah.comHidayatullah.comHidayatullah.com
Pemberitahuan Lebih Banyak
Font ResizerAa
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Font ResizerAa
Hidayatullah.comHidayatullah.com
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Pencarian
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
KajianSejarah

Asma Binti Abu Bakar, Wanita Pemilik Dua Selendang

Bambang S
Terakhir diupdate: 19 Maret 2023 23:47 11:47 pm
Bambang S
Dipublikasikan 20 Maret 2023 07:00
Bagikan
Asma Binti Abu Bakar, Wanita Pemilik Dua Selendang
Ilustrasi.
Bagikan

Hidayatullah.com — Sejarah peradaban Islam mencatat sosok wanita pejuang bernama Asma binti Abu Bakar ash Shiddiq. Muslimah yang lahir 27 tahun sebelum hijrah itu adalah putri Khalifah Abu Bakar RA. Mujahidah yang usianya lebih tua 10 tahun dibandingkan Aisyah RA itu dikenal sebagai seorang yang dermawan.

Asma adalah saudari istri Rasulullah, Aisyah RA, namun berbeda ibu. Ia adalah saudara kandung Abdullah bin Abu Bakar.

Putri Abu Bakar itu termasuk salah satu wanita di Kota Makkah yang pertama masuk Islam. Setelah 17 sahabat mengucap dua kalimah syahadat, Asma pun kemudian berbaiat kepada Rasulullah SAW.

Pengabdian dan pengorbanan Asma membela agama Allah SWT begitu besar. Ia bahkan merelakan ayahnya menyumbangkan seluruh hartanya demi tegaknya agama Allah SWT.

Pada saat hijrah, Abu Bakar membawa seluruh hartanya yang berjumlah sekitar 5.000 hingga 6.000 dinar. Lalu kakeknya yang buta, Abu Quhafah datang kepada Asma.

Baca Juga

Membangun Ketahanan Mental dengan Nilai-Nilai Al-Qur’an
Prajurit di Balik Layar, Pelita di Pinggir Jalan: Jejak Langkah Chumam Dasuki Merawat Literasi
Buya Natsir dan 1.000 Sarung untuk Tapol PKI
Jeritan Seorang Homoseksual dan Solusi Drs. Faruq Nasution
Teladan Jusuf Wibisono : Pejabat Masyumi yang Berintegritas Tinggi

Abu Quhafah berkata, “Demi Allah, sungguh aku mendengar bahwa Abu Bakar telah meninggalkanmu pergi dengan membawa seluruh hartanya?” Mendengar pertanyaan itu, Asma berkata, ”’Sekali-kali tidak, wahai, Kakek! Sesungguhnya, beliau telah menyisakan buat kami harta yang banyak.”

Kemudian Asma mengambil batu-batu dan meletakkannya di lubang angin, tempat ayahnya pernah meletakkan uang itu. Kemudian dia menutupinya dengan selembar baju. Setelah itu Asma memegang tangan kakeknya dan berkata: “Letakkan tangan Kakek di atas uang ini.”

Sang kakek pun merasa lega. “Kalau memang dia telah meninggalkan harta untukmu, maka dia telah berbuat baik. Ini sudah cukup bagi kalian.” Kemuliaan akhlak Asma itu telah menenangkan rasa gundah di hati sang kakek.

Padahal, yang sebenarnya Abu Bakar tidak meninggalkan sekeping dinar pun bagi keluarganya. Namun, Asma mengikhlaskannya. Ia tak menuntut harta dari sang ayah.

Bahkan, ketika Zubair bin Awwam meminangnya, Asma tak menuntut apa-apa. Ia menerima Zubair yang tak memiliki apapun, kecuali seekor kuda. Dengan penuh keikhlasan, Asma memberi makan kudanya dan mencukupi kebutuhan serta melatihnya. Ia menumbuk biji kurma untuk makanan kuda, memberinya air minum dan membuat adonan roti.

Suatu ketika Zubair bersikap keras terhadapnya, lalu Asma datang kepada ayahnya dan mengadu. Abu Bakar pun berkata, ‘”Wahai anakku, sabarlah! Sesungguhnya apabila seorang istri bersuami seorang yang saleh, kemudian suaminya meninggal dunia, sedang istrinya tidak menikah lagi, maka keduanya akan berkumpul di surga.”

Asma pun sempat datang kepada Nabi SAW, lalu bertanya, “Wahai, Rasulullah, tak ada sesuatu yang berharga di rumah saya kecuali kuda yang dibawa Zubair. Bolehkah saya memberikan sebagian pendapatan saya kepadanya?”

Nabi menjawab :”Berikanlah sesuai kemampuanmu dan janganlah bakhil, sehingga orang lain akan bakhil terhadapmu.”

Asma adalah Muslimah yang sangat dermawan. Para sahabat mengakuinya. Dari Abdullah bin Zubair berkata, “Tidaklah kulihat dua orang wanita yang lebih dermawan daripada Aisyah dan Asma.”

Kedermawanan mereka berbeda. Aisyah suka mengumpulkan sesuatu dan setelah banyak lalu dibagikannya. Sedangkan Asma tidak menyimpan sesuatu untuk besoknya.

Asma binti Abu Bakar adalah seorang wanita yang dermawan dan pemurah. Saat menderita sakit, Asma lalu membebaskan semua hamba sahayanya. Asma juga merupakan Muslimah pejuang yang tangguh. Ia sempat ikut dalam Perang Yarmuk bersama suaminya, Zubair dan menunjukkan keberaniannya.

Umar bin Khattab RA sangat menghormati Asma. Ketika menjadi khalifah, ia memberi tunjangan untuk Asma sebanyak 1.000 dirham. Asma pun meriwayatkan 58 hadis dari Nabi SAW.

Selain itu, ia juga dikenal sebagai wanita penyair dan pemberani yang mempunyai logika dan bayan. Ia tetap melakukan syiar Islam di usianya yang sudah lanjut.

Suatu saat puteranya, Abdullah, datang menemui ibunya, Asma yang buta dan sudah berusia 100 tahun. Abdullah berkata kepada ibunya, “Wahai, Ibu, bagaimana pendapatmu mengenai orang yang telah meninggalkan aku, begitu juga keluargaku.”

Asma berkata :”Jangan biarkan anak-anak kecil bani Umayyah mempermainkanmu. Hiduplah secara mulia dan matilah secara mulia. Demi Allah, sungguh aku berharap kamu mengakhiri kehidupan ini dengan baik.”

Kenapa Asma binti Abu Bakar dijuluki wanita dengan 2 selendang atau ‘‘Dzatun Nithaqaini” (wanita yang memiliki dua selendang). Alkisah, ketika Rasulullah SAW dan Abu Bakar RA bersiap-siap untuk hijrah di malam hari, dengan penuh kecintaan terhadap Islam dan Rasul-nya, ia menyobek selendang miliknya menjadi dua helai.

Helai pertama digunakannya untuk menutupi tempat makan atau bekal Rasulullah SAW dan sisanya untuk menutupi kepalanya. Ketika terjadi peperangan antara kaum Muslimin dan penduduk Syam, mereka mengolok-olok putra Asma bernama Abdulah Ibnu Zubair dengan julukan “Dzatun Nithaqaini”.

Seusai pertempuran, Abdullah menanyakan julukan itu kepada sang bunda. Asma pun membenarkan julukan yang diberikan kepadanya itu, ”Demi Allah, itu adalah benar.” Begitulah pengorbanan dan kecintaan Asma untuk agama dan Rasul yang mengajarkan pada jalan kebaikan. Sungguh Asma adalah teladan bagi para Muslimah*

Redaktur: Bambang S
Bantu kami terus menyuarakan kebenaran!

Scan QRIS dan dukung #Journalism4Ummah

donasi online
TAG:Asma binti abu bakarhafsah binti umaristri abu bakarPilihan RedaksiSahabat Nabi
Bagikan tulisan ini
Facebook Whatsapp Whatsapp Telegram Email Salin tautan Print
Tulisan sebelumnya (VIDEO) Sambut Bulan Ramadhan, Kawasan London Dipenuhi Hiasan Lampu dan Dekorasi
Tulisan selanjutnya Tidak Dapat Izin di Swedia, Rasmus Paludan akan Bakar Al-Quran di Inggris pada Awal Ramadhan

Ikuti Kami

1.2KLike
89KFollow
27.8KFollow
222KSubscribe
Ad image
Ad image

Terpopuler

Ghazwul Fikr

SPI: Membenturkan Islam dengan Budaya Nusantara itu Absurd!

Ghazwul Fikr
6 Agustus 2026 12:51
Nasyiatul Aisyiyah Gelar Muktamar ke-15, Dihadiri 6.700 Kader
Kerusuhan antara Hindu dan Muslim, Apa yang Sebenarnya Terjadi di Nepal?
Otoritas Amerika Selidiki Insiden Helikopter Marine One Trump Nyaris Tabrakan dengan Pesawat Sipil
Buku Pemikiran KH Ma’ruf Amin Diluncurkan, Ajak NU Tetap Berpegang pada Fikrah, Manhaj, dan Harakah

Terbaru

  • Inilah Lima Poin Utama Pakta Pertahanan Mekkah antara Turki-Arab Saudi dan Pakistan
  • Liga Arab Sambut Pakta Pertahanan Makkah untuk Dunia Islam
  • Turki, Arab Saudi, dan Pakistan Bentuk Pakta Pertahanan Makkah: “Serang Satu, Hadapi Bertiga” 
  • Peringatan Arbain, Pro-Rezim Iran Bentrok dengan Pendukung Sadiq al-Shirazi
  • Pasukan Keamanan Nigeria Selamatkan 308 Korban Penculikan dari Taman Nasional Danau Kainji
  • Seminar Hidayatullah Bahas Isu LGSP dari Perspektif Psikologi, Keluarga dan Hukum
  • Militer Uganda Beri Penghormatan Abang Benyamin Netanyahu dengan Patung Memorial di Entebbe
  • MUI Tegaskan Pria Berbusana Wanita dalam Karnaval Kemerdekaan Hukumnya Haram
  • Jutaan Senjata Api di Tangan Warga Sipil, Thailand akan Perketat Izin Kepemilikan Usai Penembakan di Sekolah
  • Pelajar Pelaku Penembakan di Sekolah Bergengsi Thailand Pendiam dan Kerap Main Game Kekerasan

Mungkin Anda Juga Suka

Ghazwul FikrKajian

Krisis Makna di Era Modern dan Jalan Kembali kepada Wahyu

26 Juni 2026 11:30
Kajian

Khutbah Jumat: Tauhid, Fondasi Peradaban yang Tak Pernah Runtuh

24 Juni 2026 14:35
Sejarah

Jejak Langkah Wanita Pejuang: Nyonya Hafni Zahra Abu Hanifah

15 Juni 2026 07:41
Hikmah

Sikap Prof. H. M. Rasjidi terhadap Jabatan

13 Juni 2026 04:49
Hidayatullah.comHidayatullah.com
Follow US
Copyright 2023 © Hidayatullah.COM
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Informasi Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Indeks
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lupa password?