Hidayatullah.comHidayatullah.comHidayatullah.com
Pemberitahuan Lebih Banyak
Font ResizerAa
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Font ResizerAa
Hidayatullah.comHidayatullah.com
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Pencarian
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Berita

Sekolah Pemikiran Islam: Perang Pemikiran Merasuki Dunia Pendidikan

Ahmad
Terakhir diupdate: 3 September 2023 14:47 2:47 pm
Ahmad
Dipublikasikan 3 September 2023 14:47
Bagikan
Bagikan

Hidayatullah.com–Ghazwul fikri (perang pemikiran) merupakan perubahan strategi musuh Islam untuk menyerang pemikiran yang bertujuan merusak akhlak, menghancurkan pemikiran, melarutkan kepribadian, hingga menumbangkan akidah. Sebab peperangan secara fisik pada masa kejayaan Islam tidak dapat dimenangkan oleh orang-orang kafir.

Pernyataan ini disampaikan Kepala Sekolah Pemikiran Islam (SPI) Pusat, Akmal Sjafril, saat memberikan materi di Masjid Istiqomah Bandung,  Kamis (31/08/2023).

“Ghazwul fikri atau serangan pemikiran paling sederhana melalui kata-kata. Saat ini tiga modus ghazwul fikri paling masif adalah melalui pendidikan, media massa, dan hiburan,” ucapnya.

Akmal menyampaikan, dunia pendidikan menjadi sasaran empuk sebab dapat diproduksi secara massal, membidik generasi muda, dan adanya relasi kuasa antara guru dan murid sehingga sulit untuk melawan.

Hal itu diamini oleh temuan lapangan yang disampaikan oleh Reflina (26), salah satu peserta Sekolah Pemikiran Islam (SPI) Bandung yang saat ini membantu mengelola sekolah di wilayahnya. Menurut Reflina atau akrab di sapa Rere, anak-anak SMA di wilayahnya sudah terjerumus dalam sesat berpikir di pertempuran pemikiran ini.

Baca Juga

SPI Himpun Lembaga Dakwah Perkuat Bela Palestina
Belgia Resmi Larang Impor Barang dari Permukiman Ilegal ‘Israel’
Obituari: Zeyd Baktir, Penggerak Sunyi di Jalan Dakwah
Masjid Jadi Sasaran, Pemukim ‘Israel’ Lanjutkan Aksi Pembakaran di Tepi Barat
Fasilitas Kesehatan Belum Pulih, Cacar Air Mewabah di Gaza

“Contohnya aja ya, ada yang pernah mengeluh bilang ‘Ibu nanti aku udah keluar mau kerja aja terus ah, ngga akan nikah terus ada juga yang ngadu Ibu si ini LGBT dan lain-lain, banyak banget itu pemikiran anak SMA sekarang, udah pada kacau-kacau semua,” ungkap Rere.

Pandangan serupa juga disampaikan oleh peserta SPI lainnya, yang mengajar di sekolah internasional. Perempuan berusia 26 tahun, sebut saja RS, yang enggan disebutkan namanya, menyampaikan bahwa perang pemikiran di dunia pendidikan sangat terasa, terutama di lingkungan sekolah internasional.

Menurutnya, anak-anak sekolah internasional bergaul dengan berbagai macam orang yang memiliki berbagai macam latar belakang dan pemikiran, sehingga mereka terserang secara masif.

“Informasi yang mereka konsumsi pun lebih banyak dari luar. Buku-buku juga sudah banyak yang dimasuki pemikiran tidak benar, seperti LGBTQ. Sehingga aku pribadi harus benar-benar menyeleksi buku-buku yang akan sekolah beli,” jelas RS yang juga bertanggung jawab di perpustakaan salah satu sekolah internasional di Bandung.

Untuk diketahui, hasil Sensus Penduduk 2020 menunjukkan penduduk Indonesia didominasi oleh Generasi Zilenial (Gen-Z) yang merupakan kelahiran 1997-2012 menurut Badan Pusat Statistik (BPS).

Dari total penduduk sebanyak 270,2 juta jiwa, proporsi Gen-Z mencapai 27,94 persen. Tidak heran jika pemerintah menargetkan Indonesia Emas pada 2045 yang diproyeksikan generasi Z menjadi penyumbang tenaga usia produktif.

Pada tahun ini, diperkirakan Gen-Z berusia 11 – 26 tahun yang mana usia tersebut merupakan usia menempuh pendidikan, baik di tingkat Sekolah Dasar hingga Perguruan Tinggi.

Target Idonesia Emas 2045 dapat dicapai jika Gen-Z pada masa ini ditempa menjadi pribadi unggul. Namun temuan lapangan menunjukkan, perang pemikiran atau ghazwul fikri menjadi tantangan besar bagi para pemuda untuk menggapai target tersebut.

Sesat berpikir dalam perang pemikiran, tidak hanya menyerang usia remaja di sekolah menengah yang dikenal masih labil. Faktanya ghazwul fikri ini juga meracuni pikiran mahasiwa di perguruan tinggi, yang dinilai sudah dewasa dan memiliki kematangan dalam berpikir.

Sakinahaini Rahmi (24), Mahasiswa S2 Manajemen Hayati salah satu universitas negeri di Bandung, mengakui bahwa di lingkungan pendidikan belum ada kesadaran terkait adanya penjajahan pikiran saat ini.

Menurut Aini, sapaan akrabnya, hal yang paling umum terjadi di kampus adalah persoalan LGBT.  “Ada degradasi, dari yang nunjukin identitas LGBT makin banyak banget sekarang. Aku sempat ngobrol langsung waktu itu sama dua orang yang termasuk golongan mereka, yang bahkan udah masuk di ranah komunitas official di kampus yang makin hari makin eksis. Terus ada juga gradasi yang mewajarkan prilaku tersebut sampai menormalisasi,” papar Aini.

Temuan-temuan di lapangan itu menunjukkan, bahwa perang pemikiran ini harus dimenangkan oleh pemikiran yang benar, yakni Islam. Modul yang ditulis oleh Wido Supraha, salah satu pengajar SPI, menyebut bahkan Islam perlu menjadi pemimpin peperangan pemikiran ini.

Hal ini karena tujuan Islam adalah menyebarkan pemikiran. Menurutnya, hadirnya kebangkitan (renaissance) di Timur (Baghdad) dan Barat (Andalusia) sangat mungkin untuk terjadi kembali.

Adapun untuk memenangkan ghazwul fikri, menurut Akmal hanya dapat dimenangkan dengan memperbanyak ilmu. Ia menyampaikan, umat Islam saat ini perlu belajar banyak hal, tidak hanya agama melainkan juga ilmu sains dan berbagai ilmu kekinian lainnya agar tidak mudah dibodohi.*/Syifa

Redaktur: Ahmad
Bantu kami terus menyuarakan kebenaran!

Scan QRIS dan dukung #Journalism4Ummah

donasi online
TAG:Gazwul FikriSekolah Pemikiran IslamSPI
Bagikan tulisan ini
Facebook Whatsapp Whatsapp Telegram Email Salin tautan Print
Tulisan sebelumnya Jumlah Pesantren Muhammadiyah Melonjak Empat Kali, LP2 Genjot Beasiswa Pelajar ke Timur Tengah
Tulisan selanjutnya Arab Saudi Tingkatkan Peran Perempuan untuk Kelola Dua Masjid Suci

Ikuti Kami

1.2KLike
89KFollow
27.8KFollow
222KSubscribe
Ad image
Ad image

Terpopuler

Berita

Hidayatullah Luncurkan Aplikasi Gerakan Sedekah Subuh, Perkuat Ekosistem Filantropi Islam Berbasis Digital

Berita
15 Juli 2026 21:25
Fasilitas Kesehatan Belum Pulih, Cacar Air Mewabah di Gaza
Minum Obat Penggugur Kandungan Wanita Indonesia Dihukum 5 Tahun Penjara di Sarawak
INDEF: Bank Emas Berpotensi Besar Dorong Keuangan Syariah, Indonesia Masih Belum Tergarap
MPR Singgung LGBT di Muswil BKPRMI DKI Jakarta, Ajak Pemuda Masjid Selamatkan Generasi Muda

Terbaru

  • SPI Himpun Lembaga Dakwah Perkuat Bela Palestina
  • Belgia Resmi Larang Impor Barang dari Permukiman Ilegal ‘Israel’
  • Obituari: Zeyd Baktir, Penggerak Sunyi di Jalan Dakwah
  • Masjid Jadi Sasaran, Pemukim ‘Israel’ Lanjutkan Aksi Pembakaran di Tepi Barat
  • Fasilitas Kesehatan Belum Pulih, Cacar Air Mewabah di Gaza
  • Uni Eropa Larang Impor Emas Sudan untuk Memutus Pendanaan Perang
  • Negeri Kincir Angin Resmi Berstatus Kekurangan Air
  • Bertubi-tubi Diserang Amerika, Iran Minta Rakyatnya Hemat Listrik
  • China Bantah Tuduhan Trump Beijing Mengusik Proses Pemilu Amerika Serikat
  • Serangan Iran Merusak Pembangkit Listrik dan Fasilitas Desalinasi Air Kuwait

Mungkin Anda Juga Suka

Berita

Uni Eropa Larang Impor Emas Sudan untuk Memutus Pendanaan Perang

18 Juli 2026 11:26
Berita

Negeri Kincir Angin Resmi Berstatus Kekurangan Air

18 Juli 2026 10:48
Berita

Bertubi-tubi Diserang Amerika, Iran Minta Rakyatnya Hemat Listrik

18 Juli 2026 10:26
Berita

China Bantah Tuduhan Trump Beijing Mengusik Proses Pemilu Amerika Serikat

18 Juli 2026 10:12
Hidayatullah.comHidayatullah.com
Follow US
Copyright 2023 © Hidayatullah.COM
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Informasi Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Indeks
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lupa password?