Hidayatullah.comHidayatullah.comHidayatullah.com
Pemberitahuan Lebih Banyak
Font ResizerAa
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Font ResizerAa
Hidayatullah.comHidayatullah.com
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Pencarian
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Berita

Dua Kelompok Pemberontak Darfur Gabung Militer Sudan Melawan RSF

Ama Farah
Terakhir diupdate: 18 November 2023 13:19 1:19 pm
Ama Farah
Dipublikasikan 18 November 2023 13:19
Bagikan
Bagikan

Hidayatullah.com– Dua kelompok pemberontak dari wilayah Darfur memgatakan mereka akan bertempur bersama militer Sudan untuk melawan RSF.

Pernyataan itu dikemukakan setelah pasukan paramiliter Rapid Support Forces (RSF) berhasil menguasai banyak daerah di Darfur.

Gibril Ibrahim, salah satu pemimpin pemberontak Darfur, mengatakan kepada BBC Newsday bahwa kelompoknya ingin membela dan melindungi penduduk sipil setempat dari RSF, di mana kabarnya pasukan paramiliter itu melakukan pembantaian dan mengubur warga hidup-hidup.

Dia mengatakan keputusan untuk bergabung dengan militer Sudan tidak mudah.

Pemimpin kelompok Justice and Equality Movement (JEM) itu mengatakan perlu waktu tujuh bulan untuk mencapai kesepakatan, lapor BBC Jumat (17/11/2023).

Baca Juga

SPI Himpun Lembaga Dakwah Perkuat Bela Palestina
Belgia Resmi Larang Impor Barang dari Permukiman Ilegal ‘Israel’
Obituari: Zeyd Baktir, Penggerak Sunyi di Jalan Dakwah
Masjid Jadi Sasaran, Pemukim ‘Israel’ Lanjutkan Aksi Pembakaran di Tepi Barat
Fasilitas Kesehatan Belum Pulih, Cacar Air Mewabah di Gaza

Hubungan antara JEM dan militer Sudan agak rumit. Saudara lelaki Ibrahim yang sebelumnya memimpin kelompok itu dibunuh oleh tentara.

JEM dan Sudanese Liberation Movement (SLM) mengangkat senjata di Darfur pada 2003, menuduh pemerintah pusat yang kala itu didominasi orang Sudan keturunan Arab-Afrika (berkulit lebih terang) memarjinalkan wilayah mereka – yang penduduknya didominasi orang kulit hitam Afrika – sehingga menjadi daerah tertinggal.

Pemerintah kala itu kemudian memobilisasi milisi-milisi Arab untuk memerangi mereka, sehingga terjadi pembantaian Darfur yang dikenal dunia sebagai genosida pertama di abad ke-21.

Milisi-milisi Arab tersebut kemudian berubah menjadi RSF, pasukan paramiliter yang di masa Presiden Omar al-Bashir menyokong dan disokong tentara pemerintah. Namun, menyusul perebutan kekuasaan setelah kudeta yang menggulingkan al-Bashir, RSF sejak April mengokang senjata melawan militer Sudan.

RSF berhasil menguasai beberapa daerah penting di Darfur kurun beberapa waktu terakhir, termasuk kota terbesar kedua di Sudan, Nyala.

Pekan lalu, muncul kabar RSF melakukan pembantaian ratusan orang di ibukota Darfur Barat, El Geneina.

RSF membantah tuduhan itu, mengatakan kematian tersebut disebabkan konflik antarkelompok etnis setempat.

Dalam pernyataan bersama JEM dan SLM mengatakan, “Kami mengumumkan berakhirnya netralitas dan kami sekarang bergabung dengan operasi militer di semua garis depan tanpa keraguan.”

JEM dan SLM yang sekarang tidak sekuat dulu. Namun, keterlibatan mereka dalam perang saudara di Sudan saat ini signifikan.

Pemimpin kedua kelompok pemberontak di Darfur itu menandatangani kesepakatan damai pada 2020, dan sejak itu mereka mulai merapat ke militer Sudan, langkah yang sebelumnya tampak tidak mungkin.

Ada kemungkinan JEM dan SLM akan menambah personel mereka, sehingga eksistensi mereka dalam arena politik Sudan semakin nyata.

Dengan bergabungnya JEM dan SLM ke dalam kubu yang sama dengan militer Sudan, mereka tampak berusaha menyelamatkan kelompok suku mereka, etnis Zaghawa.

Kemenangan RSF (yang dikenal sebagai milisi etnis Arab) di Darfur tentunya akan menyakitkan bagi etnis Zaghawa yang sejak lama menetap di Darfur.

Ibrahim mengaku khawatir kejayaan RSF di Darfur akan memecah-belah Sudan dan mendirikan pemerintahan sendiri di sana.

Dinamika politik regional juga berpengaruh terhadap situasi di kawasan itu.

Etnis semi-nomaden Zaghawa juga ada di Chad, tetangga Sudan, dan mendominasi politik di negara itu. Ibrahim dan sejumlah pihak lain menuduh Chad mendukung RSF.

Ibrahim berharap dapat menggunakan koneksinya – termasuk dengan pemimpin Chad Jenderal Mahamat Deby – untuk memutus ikatan apapun antara Chad dengan RSF.*

Redaktur: Ama Farah
Bantu kami terus menyuarakan kebenaran!

Scan QRIS dan dukung #Journalism4Ummah

donasi online
TAG:DarfurmiliterRSF
Bagikan tulisan ini
Facebook Whatsapp Whatsapp Telegram Email Salin tautan Print
Tulisan sebelumnya Ada Istilah BPIH, Bipih,  Nilai Manfaat, Berapa yang Harus Dibayar Jamaah Haji?
Tulisan selanjutnya Komisi Anti-Inses: Tiap 3 Menit Satu Anak Dicabuli di Prancis

Ikuti Kami

1.2KLike
89KFollow
27.8KFollow
222KSubscribe
Ad image
Ad image

Terpopuler

Berita

Sumber Militer Suriah Bantah Iran Membom Pangkalan Al-Tanf

Berita
18 Juli 2026 09:30
Belgia Resmi Larang Impor Barang dari Permukiman Ilegal ‘Israel’
MUI: Fatwa Hukuman Mati bagi Koruptor Sudah Ada Sejak 2005, Tinggal Menjadi Hukum Positif
Permohonan Legalisasi Ganja untuk Keperluan Relijius oleh Komunitas Rastafarian Ditolak Pengadilan Kenya
Pos Indonesia Gagal Bayar Bagi Hasil Sukuk Rp24 Miliar

Terbaru

  • SPI Himpun Lembaga Dakwah Perkuat Bela Palestina
  • Belgia Resmi Larang Impor Barang dari Permukiman Ilegal ‘Israel’
  • Obituari: Zeyd Baktir, Penggerak Sunyi di Jalan Dakwah
  • Masjid Jadi Sasaran, Pemukim ‘Israel’ Lanjutkan Aksi Pembakaran di Tepi Barat
  • Fasilitas Kesehatan Belum Pulih, Cacar Air Mewabah di Gaza
  • Uni Eropa Larang Impor Emas Sudan untuk Memutus Pendanaan Perang
  • Negeri Kincir Angin Resmi Berstatus Kekurangan Air
  • Bertubi-tubi Diserang Amerika, Iran Minta Rakyatnya Hemat Listrik
  • China Bantah Tuduhan Trump Beijing Mengusik Proses Pemilu Amerika Serikat
  • Serangan Iran Merusak Pembangkit Listrik dan Fasilitas Desalinasi Air Kuwait

Mungkin Anda Juga Suka

Berita

Uni Eropa Larang Impor Emas Sudan untuk Memutus Pendanaan Perang

18 Juli 2026 11:26
Berita

Negeri Kincir Angin Resmi Berstatus Kekurangan Air

18 Juli 2026 10:48
Berita

Bertubi-tubi Diserang Amerika, Iran Minta Rakyatnya Hemat Listrik

18 Juli 2026 10:26
Berita

China Bantah Tuduhan Trump Beijing Mengusik Proses Pemilu Amerika Serikat

18 Juli 2026 10:12
Hidayatullah.comHidayatullah.com
Follow US
Copyright 2023 © Hidayatullah.COM
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Informasi Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Indeks
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lupa password?