Hidayatullah.comHidayatullah.comHidayatullah.com
Pemberitahuan Lebih Banyak
Font ResizerAa
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Font ResizerAa
Hidayatullah.comHidayatullah.com
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Pencarian
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Gaya Hidup Muslim

Lebaran, Jangan Lupakan Tradisi Ramadhan

Ahmad
Terakhir diupdate: 30 Juli 2014 09:19 9:19 am
Ahmad
Dipublikasikan 30 Juli 2014 09:19
Bagikan
Bagikan

Alhamdulillah, akhirnya tuntas sudah ibadah Ramadhan 1435 H. Suatu kebahagiaan yang sangat luar biasa, Allah memberikan kita semua kesempatan berjumpa Ramadhan sebulan penuh. Dan, kedatangan Hari Raya Idul Fitri.

Akan tetapi, karena kegembiraan yang berlebihan sebagian dari umat Islam justru seketika tercerabut dari tradisi Ramadhan yang dilatih dan dibangun selama sebulan penuh. Aktivitas-aktivitas ibadah yang terasa begitu nikmat, secara perlahan, mulai kurang terasa kenikmatannya. Dan, pada akhirnya, hidup kembali ke asalnya, seperti belum pernah bertemu Ramadhan.

Hal ini tentu mesti diantisipasi agar target dari puasa benar-benar tercapai, yakni takwa. Patut disadari bahwa Ramadhan bukanlah waktu akhir dimana umat Islam giat beribadah. Namun Ramadhan adalah hadiah dari Allah yang harus terus dijaga, dipelihara dan dipertahankan agar sepanjang tahun dan sepanjang hayat kita, takwa senantiasa menjadi bekal utama kita.

Mungkin tidak semua bisa kita pertahankan, tetapi hendaknya yang utama dalam ke-Islam-an seseorang harus tetap terus dipelihara. Mulai dari aspek ibadah hingga sikap.

Ibadah

Baca Juga

Gaya Hidup Minimalis: Kunci Kesehatan Mental di Tengah Hidup Serba Cepat
Sya’ban Tangga Penting Sukses Ramadhan
Teladan Rasulullah untuk Para Suami
Tawakkal dalam Bekerja
Awasi Makananmu, Selamat Hidupmu!

Dalam kontek ibadah, aktivitas positif apa pun yang bersumber dari Rasulullah mesti terus dipelihara, dilakukan terus menerus. Seperti, sholat berjama’ah, qiyamul lail, membaca atau mentadabburi Al-Qur’an, menghadiri majelis ilmu, dzikir dan lain sebagainya.

Dalam hal dzikir misalnya, Rasulullah tetap antusias menjalankannya meski di luar Ramadhan, bahkan beliau konsisten membaca salah satu dzikir; istighfar sebanyak 70 kali sehari.

“Demi Allah. Sungguh aku selalu beristighfar dan bertaubat kepada Allah dalam sehari lebih dari 70 kali” (HR. Bukhari).

Maka, sembari bersilaturrahmi atau pun sebelum dan sesudah bersua keluarga, tetangga atau pun sahabat, istighfar harus terus menjadi tradisi yang prioritas dalam kehidupan kita.

Bahkan dalam hadits lain secara implisit Rasulullah memberikan petunjuk praktis mengenai waktu kapan sebaiknya istighfar itu dilakukan.

“Tidaklah aku berada di pagi hari (antara terbit fajar hingga terbit matahari) kecuali aku beristigfar pada Allah sebanyak 100 kali.”(HR. An Nasa’i).

Dengan kata lain, hadits di atas memberikan peringatan secara tidak langsung bahwa sebaiknya umat Islam menjaga tradisi bangun di tengah malam, sehingga bisa sholat Shubuh berjama’ah kemudian bisa dilanjutkan dengan banyak beristighfar.
Sikap

Setelah ibadah, hal penting yang harus tetap dipelihara adalah sikap, utamanya sikap sederhana terhadap makanan. Jika selama berpuasa kita bisa makan secukupnya kemudian meningkat rasa persaudaraan atau solidaritasnya, maka sikap demikian harus tetap dijaga, meski mungkin tidak harus benar-benar sama seperti kala Ramadhan.

Sebab, perintah Allah agar kita peduli berlaku sepanjang hayat dan harus meningkat sepanjang Ramadhan. Dan, yang patut kita ingat, dalam harta kita ada bagian mereka yang Allah tentukan.

“Dan pada harta-harta mereka ada hak untuk orang miskin yang meminta dan orang miskin yang tidak mendapat bagian” (QS Adz-Dzariyat [51]: 19).

Sebagian besar ulama berpendapat yang dimaksud dengan orang miskin yang tidak mendapat bagian ialah orang miskin yang tidak meminta-minta. Catat, mungkin ini adalah tetangga dekat kita, teman atau bahkan mungkin saudara sendiri. Terhadap mereka jangan pernah melupakannya, apalagi di momenum penuh kebahgiaan seperti lebaran.

Dengan demikian adalah suatu kekeliruan jika usai Ramadhan diisi dengan berbagai aktivitas hura-hura dalam hal apa saja, entah itu makanan, maupun perilaku konsumtif lainnya. Sikap peduli akan sulit muncul pada sanubari seseorang, kecuali hanya jika orang tersebut menguatkan imannya dengan sikap sederhana.

Selain sikap sederhana, tentu masih banyak sikap lain yang mesti dipelihara, mulai dari sikap sabar, pemaaf, santun dan rendah hati.

Dengan mempertahankan setidaknya dua hal di atas, insya Allah ketakwaan bisa terus kita pertahankan hingga bertemu Ramadhan dan menghadap keharibaan-Nya. Dan, jika itu terjadi, maka sungguh Ramadhan tahun ini benar-benar telah mengantarkan kita pada pribadi takwa. Wallahu a’lam.*

Redaktur: Ahmad
Bantu kami terus menyuarakan kebenaran!

Scan QRIS dan dukung #Journalism4Ummah

donasi online
TAG:hura-huraIdul fitrimakananRamadhan
Bagikan tulisan ini
Facebook Whatsapp Whatsapp Telegram Email Salin tautan Print
Tulisan sebelumnya Dr Ahmad Zain: Khilafah Seharusnya Muncul di Negara Syam
Tulisan selanjutnya Ulama Muda Palestina Serukan Umat Islam Boikot Produk Israel

Ikuti Kami

1.2KLike
89KFollow
27.8KFollow
222KSubscribe
Ad image
Ad image

Terpopuler

Berita

Turki Siapkan Proyek Kereta Hijaz sebagai Alternatif Selat Hormuz

Berita
4 Juni 2026 10:00
‘Israel’ Klaim Penjualan Senjata ke Negara Arab Melonjak Tajam, Banyak yang Beli Diam-Diam
Iran Persiapkan Upacara Pemakaman Besar untuk Ayatullah Ali Khamenei
Kazakhstan Menawarkan Diri untuk Menyimpan Cadangan Uranium Iran
Influencer Singapura Didenda S$3.500 karena Mengiklankan Vape di Telegram

Terbaru

  • Fatah Tunjuk Hussein al-Sheikh Jadi Wakil Mahmoud Abbas
  • ‘Israel’ Klaim Penjualan Senjata ke Negara Arab Melonjak Tajam, Banyak yang Beli Diam-Diam
  • Turki Siapkan Proyek Kereta Hijaz sebagai Alternatif Selat Hormuz
  • Harga Obat Terancam Naik, DPR Minta Perlindungan untuk Pasien Penyakit Kronis
  • Bantah Menolak Lepas Kendali Gaza, Hamas: Kebohongan ‘Israel’
  • Bachtiar Nasir: Pesantren Hadapi Ujian Besar Kepercayaan Publik di Era Digital
  • Ekonomi Syariah Global Tembus USD 8,6 Triliun, Indonesia Harus Naik Kelas Jadi Produsen Utama
  • Presiden Erdogan Kini Punya 10 Cucu, Kabar Bahagia Datang dari Keluarga Presiden Turki
  • Hampir 135 Ribu Jamaah Indonesia Salurkan Dam Lewat Adahi, Daging Diprioritaskan untuk Palestina
  • MUI: Qurban Presiden dengan Dana APBN untuk Masyarakat Sah dan Sesuai Syariat

Mungkin Anda Juga Suka

Gaya Hidup Muslim

Hati-Hati dalam Timbangan dan Takaran

16 November 2022 11:58
Gaya Hidup Muslim

Beginilah Islam Memuliakan Pembantu

7 November 2022 13:30
Gaya Hidup Muslim

Sibuk Mengoreksi Diri Sendiri

18 Oktober 2022 09:00
Gaya Hidup Muslim

Berapa Kali Kita Mengkhatamkan Al-Quran?

9 Oktober 2022 08:00
Hidayatullah.comHidayatullah.com
Follow US
Copyright 2023 © Hidayatullah.COM
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Informasi Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Indeks
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lupa password?