Hidayatullah.com– Filipina mengatakan pihaknya pada hari Ahad (8/9/2024) telah menangkap seorang pendeta yang dicari aparat Amerika Serikat dalam kasus perdagangan seks anak, dua pekan setelah perburuan besar-besaran polisi terhadap orang yang mendeklarasikan dirinya sebagai “Anak Tuhan yang Ditunjuk”.
Apollo Quiboloy, yang memiliki hubungan dekat dengan mantan presiden Filipina Rodrigo Duterte, adalah pendiri gereja Kerajaan Yesus Kristus (KOJC) yang berbasis di Filipina yang mengklaim memiliki jutaan anggota.
Quiboloy didakwa oleh Departemen Kehakiman AS pada tahun 2021 dengan tuduhan perdagangan seks terhadap anak perempuan dan wanita berusia antara 12 dan 25 tahun, yang bekerja sebagai asisten pribadi, atau “pastoral” dan diduga diminta untuk berhubungan seks dengannya.
Quiboloy dan empat anggota sekte lainnya ditempatkan di dalam tahanan di lingkungan gereja itu di kota Davao setelah perundingan antara perwakilannya dan polisi serta militer, kata juru bicara Kepolisian Filipina Kolonel Jean Fajardo kepada awak media.
“Siang ini mereka menegosiasikan penyerahan diri secara damai setelah kami memberi mereka ultimatum 24 jam,” kata Fajardo hati Ahad seperti dilansir AFP.
Empat jam kemudian Quiboloy keempat anggota sekte tersebut diterbangkan dengan pesawat militer ke Manila, di mana mereka ditahan dan akan disidangkan dalam kasus pelecehan terhadap anak, pelecehan seksual dan perdagangan manusia, imbuh Fajardo.
Menteri Dalam Negeri Benjamin Abalos pada Ahad pagi mengumumkan penangkapan Quiboloy di laman Facebook resminya.
Quiboloy juga dicari oleh aparat AS karena terlibat penyelundupan uang tunai dalam jumlah besar dan skema yang membawa sejumlah anggota gereja ke Amerika Serikat menggunakan visa yang diperoleh lewat cara tipu-tipu.
Mereka kemudian dipaksa untuk menggalang donasi untuk kegiatan amal palsu gereja, mengumpulkan dana yang justru dipakai untuk membiayai operasional gereja dan gaya hidup mewah para pemimpinnya, menurut US Federal Bureau of Investigation (FBI).
Tidak diketahui apakah Amerika Serikat telah meminta ekstradisi Quiboloy, yang berusia setidaknya 74 tahun menurut FBI.
Selama berbulan-bulan pelariannya menghindari aparat hukum, Quiboloy menuntut jaminan tertulis dari Manila bahwa dia tidak akan menjadi subyek “extraordinary rendition” sebagai syarat penyerahan dirinya.
Istilah “extraordinary rendition” merujuk pada praktik yang dilakukan pemerintah Amerika Serikat terhadap tersangka terorisme, yaitu mengirimnya ke negara lain untuk dilakukan pemenjaraan dan interogasi.
Sekitar 2.000 personel kepolisian dikerahkan ke markas KOJC seluas 30 hektar di Davao pada tanggal 24 Agustus untuk mengeksekusi surat perintah penangkapan terhadap Quiboloy.
“Ini merupakan kerja keras bersama dari semua pihak yang terlibat,” kata Brigadir Jenderal Nicolas Torre, kepala kepolisian daerah yang memimpin penangkapan, dalam konferensi pers yang digelar untuk mengonfirmasi penangkapan Quiboloy.
Beberapa menit setelah penangkapan Quiboloy diumumkan, SMNI, sebuah stasiun televisi Filipina yang dikelola oleh sekte tersebut, mengunggah foto di laman Facebook yang menampakkan para anggota gereja sedang memeluk polisi berseragam. Foto tersebut disertai narasi yang mengatakan bahwa para misionaris KOJC mengamalkan ajaran Pastor Apollo Quiboloy untuk tidak hanya mencintai tetangga tetapi juga musuh.*




