Hidayatullah.comHidayatullah.comHidayatullah.com
Pemberitahuan Lebih Banyak
Font ResizerAa
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Font ResizerAa
Hidayatullah.comHidayatullah.com
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Pencarian
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Feature

Kisah Bidan di Gaza, Membantu Persalinan Ibu-ibu Terluka Parah di Lantai

Insan Kamil
Terakhir diupdate: 22 September 2024 11:12 11:12 am
Insan Kamil
Dipublikasikan 20 September 2024 09:15
Bagikan
Bagikan
Bagian
1 - Kisah Bidan di Gaza, Persalinan di Lantai
1 - Kisah Bidan di Gaza, Persalinan di Lantai
2 - Kisah Bidan di Gaza, Melahirkan Ketika Terluka Parah
3 - Kesulitan Pasca Persalinan

Di tengah suasana kacau akibat bombardiri Zionis –‘Israel’ banyak perempuan hamil dan hampir putus ada datang sendirian untuk bersalin

Daftar isi
  • Persalinan di Lantai
          • Bantu kami terus menyuarakan kebenaran!

Hidayatullah.com | NOUR Mwanis, seorang bidan berusia 27 tahun, tampak sibuk di ruang bersalin RS al-Awda, Gaza. Ia baru saja membantu persalinan seorang ibu. Wanita itu telah datang sejak pagi-pagi sekali.

Proses persalinan berlangsung sekitar setengah jam. Nour dan rekan-rekannya kemudian harus membersihkan dan mensterilkan ruangan dan peralatan.

Tak jauh dari ruang bersalin, yakni di ruang tamu, ada nenek, kakek, dan paman si bayi yang baru lahir. Mereka bergantian menggendong dalam suasana ceria. Sang nenek tersenyum lebar saat menyaksikan bayi yang dibalut syal merah muda itu.

Wajah-wajah mereka tampak hangat, bahagia, gembira. Rona kebahagiaan yang seolah sudah lama tidak dirasakan di Gaza.

Baca Juga

Tangis Perempuan Guangzhou: Ketika Pasar Jodoh China jadi Cermin Krisis Sosial
Dari Ateis jadi Muslim: Perjalanan Simon Wallgren Menemukan Cahaya Islam
Ketika Penghuni Muslim Terancam Ulah Tetangga
Setia dari Dulu, Kini dan Akan Datang: Kisah Pak Haji Toeng & Bu Hajjah Intang Kloter 15 KBIHU Hidayatullah Balikpapan di Haji 2026
Karena Politik Penjaga Sapi, Peternak Menangis Pasar Sepi

Wartawan Al Jazeera bertanya siapa nama bayi itu? Mereka semua tertawa pelan dan menjawab, “Dia belum punya nama.”

Persalinan di Lantai

Nour Mwanis berdiri tenang di ruang bersalin itu. Dia meletakkan nampan berisi peralatan sterilisasi, membersihkan tangan, lalu duduk di bed bersalin. Ia kemudian bercerita tentang pengalamannya menjadi bidan selama perang.

Sejak dulu memang Nour bercita-cita menjadi bidan. Ia ingin membantu para ibu melahirkan dengan aman dan membawa kebahagiaan bagi keluarga dengan penuh senyuman.

Selama tiga tahun, profesi itu telah ditekuni. Sampai akhirnya keasyikannya sebagai bidan hancur sejak “Israel” membombardir Gaza bulan Oktober 2023 lalu.

“Saya tidak pernah menyangka akan mengalami hari-hari seperti ini,” tutur Nour kepada Al Jazeera, sambil menceritakan gelombang besar pengungsi Nuseirat di Gaza tengah, yang berusaha menjauh dari bom-bom Zionis, untuk pindah ke kawasan selatan.

“Selama tiga bulan pertama perang, kami menangani sekitar 60 hingga 70 kelahiran per hari, bekerja sepanjang waktu hanya dengan enam bidan,” ujarnya.

Selama tiga bulan pula Nour tidak bisa pulang ke rumah. Padatnya jadwal sebagai bidan dan banyak bahaya dalam perjalanan di Nuseirat membuatnya harus tinggal di RS al-Awda.

“Ruang bersalin tidak dapat menampung jumlah pasien yang banyak. Kami harus membantu beberapa persalinan di lantai atau di ruang persiapan pranatal yang tidak dilengkapi dengan peralatan untuk melahirkan,” jelas Nour.

Beban tugas di RS al-Awda meningkat karena menjadi satu-satunya fasilitas bersalin yang masih berfungsi. Fasilitas kesehatan lain di daerah itu, misal RS Syuhada al-Aqsha di Deir el-Balah, harus menutup bangsal bersalinnya agar fokus merawat warga yang terluka.

“Kacau. Pemboman di mana-mana, para ibu datang dalam kondisi yang menyedihkan. Banyak wanita yang mengalami komplikasi, pendarahan atau melahirkan janin yang sudah mati, dan mereka memerlukan perawatan khusus. Namun, tidak ada peralatan sehingga keadaannya semakin memburuk,” ujar Noer sambil mendesah dalam.

Aya, seorang ibu dengan kehamilan 31 minggu. Janinnya meninggal karena kondisi sang ibu sangat lemah, kekurangan nutrisi, sulit mengakses air bersih, obat-obatan, suplemen, atau perawatan medis.

Ayah Aya, seorang paramedis berusia 58 tahun. Ia syahid akibat pengeboman “Israel”. Sehari kemudian, Aya menyadari bahwa bayinya telah berhenti bergerak di dalam rahimnya.

Satu-satunya cara untuk membantu Aya adalah dengan menginduksi persalinan. Proses induksi akan memberikan dampak emosional dan fisik yang lebih menyakitkan karena tubuh Aya secara alami belum siap untuk melahirkan.

“Saya benar-benar shock dan tidak bisa berhenti menangis. Tetapi saya mencoba menenangkan diri dan merenungkan keadaan ini. Mungkin lebih baik jika anak ini tidak dilahirkan dalam kesengsaraan. Mungkin Allah telah menyelamatkannya dari penderitaan,” kata Aya.

Redaktur: Insan Kamil
Bantu kami terus menyuarakan kebenaran!

Scan QRIS dan dukung #Journalism4Ummah

donasi online
123Halaman selanjutnya
TAG:bidangenosida GazaHeadlineJalur Gazapalestina
Bagikan tulisan ini
Facebook Whatsapp Whatsapp Telegram Email Salin tautan Print
Tulisan sebelumnya (Video) Israel Eksekusi Tiga Warga Palestina dan Lempar Jenazahnya dari Atap
Tulisan selanjutnya Sistem Kesehatan Amerika Serikat Survei: Sistem Kesehatan AS Terburuk diantara Negara Maju

Ikuti Kami

1.2KLike
89KFollow
27.8KFollow
222KSubscribe
Ad image
Ad image

Terpopuler

Berita

MUI Perjuangkan Akses Hunian Layak bagi Dai dan Guru Ngaji

Berita
2 Juli 2026 11:54
Dua Anggota Garda Revolusi Iran Ditembak Mati dekat Kurdistan
MTQ Nasional 2026 di Semarang Siap Jadi Panggung Syiar Islam dan Budaya Nusantara
Jeritan Seorang Homoseksual dan Solusi Drs. Faruq Nasution
Dari Ateis jadi Muslim: Perjalanan Simon Wallgren Menemukan Cahaya Islam

Terbaru

  • Ketika Ilmu Pengetahuan Berpihak pada Kuasa, Bukan Kebenaran
  • MUI Perjuangkan Akses Hunian Layak bagi Dai dan Guru Ngaji
  • Tangis Perempuan Guangzhou: Ketika Pasar Jodoh China jadi Cermin Krisis Sosial
  • Jeritan Seorang Homoseksual dan Solusi Drs. Faruq Nasution
  • Dua Anggota Garda Revolusi Iran Ditembak Mati dekat Kurdistan
  • Ngaku Bisa Terbang, Pendeta Hindu di India Tewas Usai Terjatuh dari Bukit
  • Dari Ateis jadi Muslim: Perjalanan Simon Wallgren Menemukan Cahaya Islam
  • Ketua Umum MUI Dorong Pemerintah Tiru Rusia Tetapkan Gerakan LGBT Teroris
  • Ketika Penghuni Muslim Terancam Ulah Tetangga
  • MTQ Nasional 2026 di Semarang Siap Jadi Panggung Syiar Islam dan Budaya Nusantara

Mungkin Anda Juga Suka

Feature

Niat Ajak Teman Kembali Kristen, Pemuda Ini Justru Temukan Hidayah dan Masuk Islam

30 April 2026 14:00
Feature

Jawad Pulang dengan Luka Siksaan ‘Israel’

26 Maret 2026 07:50
Feature

Dapur Tak Pernah Padam: 224 Tahun Memberi Makan Fakir dan Musafir

20 Maret 2026 10:00
Feature

Buka Bersama di Dam Square: Tikar Persaudaraan di Jantung Amsterdam

15 Maret 2026 16:19
Hidayatullah.comHidayatullah.com
Follow US
Copyright 2023 © Hidayatullah.COM
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Informasi Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Indeks
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lupa password?