Hidayatullah.com – Mesir dikabarkan dengan tegas menolak terlibat konfrontasi militer dengan Yaman meskipun Terusan Suez mengalami kerugian besar akibat aksi Houthi di Laut Merah selama satu tahun terakhir, menurut media militer “Israel”.
Menurut majalah Israel Defence, penolakan Mesir itu berdasarkan sejumlah faktor seperti pertimbangan strategis, kekhawatiran atas eskalasi regional dan hubungan politik dengan dunia Arab. Mesir lebih memilih ketiga pertimbangan tersebut daripada kepentingan ekonominya sendiri.
Sejak Oktober 2023, lanjut Israel Defence, Houthi telah menyebabkan gangguan serius terhadap rute pelayaran komersial global dengan menyasar kapal-kapal yang terkait dengan “Israel”.
Akibatnya semakin sedikit kapal yang berani melewati Terusan Suez, kerusakan terhadap 100 kapal dan penutupan Selal Bab Al-Mandab.
Blokade laut Houthi memaksa banyak kapal untuk berlayar di sekitar Tanjung Harapan di Afrika Selatan, membuat waktu pelayaran lebih lama dua minggu dan mengakibatkan kenaikan harga di Eropa.
Namun menurut majalah tersebut, meskipun terjadi penurunan 40 persen pendapatan dari Terusan Suez dan penurunan pendapatan dari ekspor gas ke Eropa, Mesir menolak untuk bergabung dengan gerakan “pembebasan jalur pelayaran” dan tidak mau bekerja sama dengan koalisi internasional yang dibentuk oleh Amerika Serikat.
“Mesir sepenuhnya memahami tantangan keamanan yang ditimbulkan oleh blokade angkatan laut, tetapi juga risiko yang melekat pada eskalasi militer,” artikel tersebut menjelaskan.
Houthi, kelompok bersenjata Yaman yang didukung Iran, pada Desember tahun lalu, bersumpah tidak akan berhenti menyasar kapal-kapal “Israel” hingga agresi dan genosida terhadap Gaza dihentikan.*
Baca juga: Khawatir Serangan Houthi, 55 Kapal Putar Balik Tak Jadi Lewati Terusan Suez




