Hidayatullah.comHidayatullah.comHidayatullah.com
Pemberitahuan Lebih Banyak
Font ResizerAa
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Font ResizerAa
Hidayatullah.comHidayatullah.com
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Pencarian
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Iptekes

Mabuk Cinta Bikin Orang jadi Bego?

Ahmad
Terakhir diupdate: 7 November 2024 16:24 4:24 pm
Ahmad
Dipublikasikan 7 November 2024 14:10
Bagikan
Bagikan

Mabuk cinta atau cinta buta bisa menyebabkan seseorang tidak bisa berfikir normal bahkan sampai mengalami gangguan mental bernama obsessive love disorder (OLD)

Hidayatullah.com | SETIAP orang pernah merasakan jatuh cinta. “Kalau cinta sudah melekat, tahi kucing rasa coklat, “ demikian sindiran almarhum Gombloh, seorang penyanyi asal Surabaya.

Jatuh cinta dikenal sebagai perasaan yang bergejolak—tetapi jika seseorang bertanya kepada Anda bagaimana cara menjelaskannya, Anda mungkin akan berkata, “tidak bisa dijelaskan, tapi bisa dirasakan.” 

Untuk mempelajari lebih lanjut tentang cinta dan dampaknya pada otak kita, The Daily mewancarai Cynthia Kubu, seorang profesor neurologi di Cleveland Clinic Lerner College of Medicine di CWRU dan seorang neuropsikolog di Cleveland Clinic.

Selain pekerjaan sebagai penelitia, Kubu juga menjabat sebagai wakil dekan fakultas di Case Western Reserve University School of Medicine .

Baca Juga

Perang Abadi Sistem Imun di Balik Keindahan Tato
UNICEF: Anak-Anak Gunakan AI 3 Kali Lipat Lebih Banyak Dibanding Orang Dewasa
Pakar Bilang Suplemen Harian Lebih Banyak Bahaya Dibandingkan Manfaat
Ketika Gelar Sarjana Tak Lagi Menjamin Masa Depan: Gen Z Mulai Ragu Nilai Kuliah
Jumlah Kasus Penyakit Menular Seksual di Eropa Pada 2024 Mencatat Rekor

Meskipun dia tidak akan menggambarkan dirinya sebagai pakar dalam “ilmu saraf cinta,” Kubu sudah lama tertarik pada korelasi neuroanatomi fungsional dari perilaku sosial manusia.

Dia mempelajari dampak stimulasi otak dalam pada kepribadian dengan hibah dari National Institutes of Health.

Daerah otak yang menunjukkan aktivitas pada orang yang sedang jatuh cinta. Dimodifikasi dari Zeki S. Neurobiology of love. FEBS Letters 2007; 581: 2575-2579.

Inilah temuan Kubu tentang apa yang terjadi di otak Anda saat Anda sedang jatuh cinta.

Pertama, campuran hormon mulai terbentuk dan mengaktifkan sistem penghargaan Anda—atau sistem penghargaan otak Anda akan “menyala”.

Kita sering menggambarkan tahap awal percintaan sebagai sesuatu yang memabukkan, ditandai dengan perasaan euforia dan hasrat. Hal ini karena tahap awal cinta romantis mengaktifkan sistem penghargaan kita, seperti halnya kokain.

Pada tahap awal tumuhnya rasa cinta, hormon penting seperti oksitosin dan vasopresin berinteraksi dengan sistem penghargaan otak, terutama dopamin, sehingga kita “kecanduan” pada seseorang atau kekasih yang kita cintai.

Kedua, kadar serotonin menurun

Cinta romantis di usia muda dikaitkan dengan penurunan kadar serotonin. Seperti kadar yang terlihat pada gangguan obsesif kompulsif.

Itulah sebabnya kita cenderung terobsesi dengan kekasih baru dan mungkin mengalami stres dan kecemasan.

Ketiga, merasa kehilangan akal

Tahap awal cinta romantis mengakibatkan berkurangnya aktivitas di area otak yang terkait dengan rasa takut serta area kortikal yang terkait dengan penilaian kritis.

Perubahan ini membuka kemungkinan bagi kita untuk menjadi rentan terhadap seseorang yang baru dan dapat mengakibatkan penangguhan penilaian kritis di mana kekurangan kekasih (orang yang membuat kita jatih cinta,red) atau tantangan potensial terhadap hubungan tidak dinilai secara kritis (sepert cinta buta, menyebabkan tidak kritis, red).

Empat,  merasa telah menyatu dengan orang tersebut

Cinta romantis dikaitkan dengan berkurangnya aktivitas di wilayah otak yang terkait dengan Teori Pikiran—kemampuan kita untuk secara mental mempertimbangkan perspektif orang lain, termasuk emosi dan pikiran mereka—sementara pada saat yang sama mempertahankan perasaan dan pikiran kita sendiri dan mengenali perbedaan antara diri kita dan orang lain.

Hal ini mungkin sesuai dengan referensi sastra di mana dua jiwa yang saling mencintai menjadi satu dan terjadi penggabungan dua diri yang independen.

Lima, mungkin merasakan manfaat kesehatan yang nyata

Setelah enam bulan pertama yang memabukkan, menegangkan, dan penuh cinta romantis, kadar serotonin kita kembali normal dan kita dapat melihat dengan jelas kekuatan dan kelemahan kekasih kita.

Kita menjalani hubungan jangka panjang yang dikaitkan dengan berkurangnya stres, meningkatnya ikatan, dan perasaan aman yang sebagian besar dimediasi oleh efek oksitosin. Hal ini mungkin terkait dengan manfaat kesehatan yang diketahui dari hubungan jangka panjang.

Mabuk cinta

Pada tahun 1979, psikolog Dorothy Tennov, Ph.D., menciptakan istilah “limerence” untuk menggambarkan aspek yang agak melemahkan dari jatuh cinta.

Seiring berjalannya waktu, keterikatan dapat menggantikan limerensi dan berubah menjadi hubungan yang langgeng.

Dalam bukunya, “Love and Limerence: The Experience of Being in Love”, ia mendefinisikan limerensi sebagai keadaan yang tidak disengaja, sangat intens, dan sangat bergairah di mana orang yang mengalami limerensi dapat merasa terobsesi dan bergantung secara emosional pada objek limerensinya.

“Berada dalam kondisi limerence  berarti merasakan apa yang biasanya disebut ‘jatuh cinta’,” tulis sang penulis. Namun, penjelasannya yang bernuansa tentang perasaan tersebut membedakan antara limerence, cinta, dan seks. “[C]inta dan seks dapat hidup berdampingan tanpa limerence, bahkan […] ketiganya dapat hidup tanpa yang lainnya,” tulisnya.

Gangguan obsesif

Perasaan jatuh cinta  juga ditengarai bisa menyebabkan seseorang mengalami gangguan mental bernama obsessive love disorder (OLD). OLD, adalah kelainan ketika seseorang terlalu mencintai orang lain sampai timbul keinginan untuk mengontrol sepenuhnya kehidupan orang tersebut.

Penderita kondisi ini dapat mengalami gangguan aktivitas sehari-hari dan menimbulkan masalah dalam hubungan.

Penderita obsessive love disorder berpikir dan berperilaku berlebihan untuk melindungi dan mengatur setiap tindakan orang yang dicintainya. Pada tahap yang parah, orang yang dicintainya dianggap sebagai benda yang ia miliki alih-alih manusia.*

Redaktur: Ahmad
Bantu kami terus menyuarakan kebenaran!

Scan QRIS dan dukung #Journalism4Ummah

donasi online
TAG:cinta butagangguan mentalHeadlinejatuh cintaMabuk cintaobsessive love disorderOLDotakPilihan Redaksi
Bagikan tulisan ini
Facebook Whatsapp Whatsapp Telegram Email Salin tautan Print
Tulisan sebelumnya Ribuan Keluarga Tak Punya Jamban, Pemerintah Jakarta Kampanye Tidak BAB Sembarangan
Tulisan selanjutnya Yossi Dagan pemukim Israel buka donasi untuk beli 500 senjata api Pemukim ‘Israel’ Buka Donasi untuk Senjata, Total Bisa Beli 500 Senapan

Ikuti Kami

1.2KLike
89KFollow
27.8KFollow
222KSubscribe
Ad image
Ad image

Terpopuler

Berita

Iran Lancarkan Serangan Balasan ke Pangkalan Militer AS di Timur Tengah, Ketegangan Regional Memanas

Berita
13 Juli 2026 16:30
Hidayatullah Luncurkan Aplikasi Gerakan Sedekah Subuh, Perkuat Ekosistem Filantropi Islam Berbasis Digital
China Bantah Tuduhan Trump Beijing Mengusik Proses Pemilu Amerika Serikat
Negeri Kincir Angin Resmi Berstatus Kekurangan Air
Relawan Bantuan di Gaza Syahid Dibom ‘Israel’ usai Gelar Nobar Piala Dunia

Terbaru

  • Fasilitas Kesehatan Belum Pulih, Cacar Air Mewabah di Gaza
  • Uni Eropa Larang Impor Emas Sudan untuk Memutus Pendanaan Perang
  • Negeri Kincir Angin Resmi Berstatus Kekurangan Air
  • Bertubi-tubi Diserang Amerika, Iran Minta Rakyatnya Hemat Listrik
  • China Bantah Tuduhan Trump Beijing Mengusik Proses Pemilu Amerika Serikat
  • Serangan Iran Merusak Pembangkit Listrik dan Fasilitas Desalinasi Air Kuwait
  • Sumber Militer Suriah Bantah Iran Membom Pangkalan Al-Tanf
  • Permohonan Legalisasi Ganja untuk Keperluan Relijius oleh Komunitas Rastafarian Ditolak Pengadilan Kenya
  • Minum Obat Penggugur Kandungan Wanita Indonesia Dihukum 5 Tahun Penjara di Sarawak
  • Seribu QRIS Personal Sudah Disebar, DPP Hidayatullah Siap Masifkan Gerakan Subuh Bersedekah

Mungkin Anda Juga Suka

Iptekes

Belajar di Waktu Subuh Terbukti Tingkatkan Kinerja Otak dan Daya Ingat

31 Maret 2026 09:28
Iptekes

Pembuat Jutaan iPhone Malah Malah Melarang Main HP Berlebihan karena Bahaya

26 Maret 2026 08:30
Iptekes

Kecenderungan Beragama Generasi Z Meningkat, Ini Temuan Peneliti

2 Maret 2026 16:00
vape covid
Iptekes

Otoritas Kesehatan Prancis Peringatkan Risiko Vape Bagi Kesehatan

13 Februari 2026 20:11
Hidayatullah.comHidayatullah.com
Follow US
Copyright 2023 © Hidayatullah.COM
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Informasi Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Indeks
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lupa password?