Hidayatullah.com– Presiden Prancis Emmanuel Macron dihujani kecaman setelah pernyataannya saat berusaha menenangkan penduduk di Mayotte yang menjadi korban badai siklon dinilai arogan.
Mayotte, teritori Prancis di seberang lautan yang berupa kepulauan kecil antara Afrika dan Madagaskar, Sabtu pekan lalu diterjang badai siklon Chido yang memporak-porandakan ribuan bangunan dan infrastruktur di sana. Berapa jumlah korban jiwa belum diketahui, sebab petugas dan warga setempat masih mengais puing-puing yang berserakan, sementara peralatan dan infrastruktur di sana sangat terbatas.
Kunjungan Macron dan rombongannya ke teritori Prancis paling miskin itu diperpanjang sampai hari Jumat (20/12/2024) guna lebih memahami kondisi di sana.Pada Kamis malam, Macron disambut oleh penduduk yang marah dan mengeluh bahwa pemerintah menelantarkan penduduk di sana.
Ketika seorang warga berteriak kepada Macron, “Tujuh hari dan Anda masih belum bisa memberi air kepada rakyat!” Presiden Prancis itu membalas, “Jangan mengadu domba rakyat. Jika Anda mengadu domba rakyat, kita akan kacau.”
“Anda beruntung berada di Prancis,” lanjut Macron. “Jika bukan karena Prancis, Anda akan mengalami masalah buruk yang lebih serius lagi… 10.000 kali lebih serius… tidak ada tempat di Samudra Hindia di mana orang bisa mendapatkan lebih banyak bantuan [daripada di sini].”
Komentar Macron tersebut langsung mendapatkan kecaman di dalam negeri dari berbagai spektrum politik. Kalangan kanan-jauh menyebutnya “sama sekali tidak bermartabat”, kaum sosialis menilainya “tidak mencerminkan sosok presiden”, dan kalangan politisi hijau menilainya “arogan”.
Partai anti-Islam dan anti-migran pimpinan Marine Le Pen, Rassemblement National (RN), mengatakan tidak heran mengapa rakyat menunjukkan rasa kecewanya ketika presiden mereka mengeluarkan pernyataan seperti itu.
Pada hari Jumat, Macron membalas komentar itu dengan mengatakan bahwa mereka yang dia tanggapi adalah pendukung militan RN (yang jumlahnya bertambah di Mayotte seiring meningkatnya imigrasi ilegal di sana).
“Saya mendengar narasi yang mengompori RN dan beberapa orang yang menghina kami kemarin, yang mengatakan bahwa ‘Prancis tidak melakukan apa-apa,'” kata Macron kepada awak media di Mayotte, lansir DW.
Macron mengatakan dia dapat memahami ketidaksabaran penduduk setempat yang menginginkan bantuan datang lebih cepat, tetapi dia menyerukan persatuan, dan mengatakan pemerintah Prancis melakukan segala yang bisa dilakukan untuk meringankan situasi.
“Badai siklon itu bukan keputusan pemerintah,” kata Macron.
“Prancis berbuat banyak. Kita harus lebih efisien, tetapi komentar-komentar yang memecah belah dan menghasut tidak akan membantu,” tegasnya.*




