Hidayatullah.comHidayatullah.comHidayatullah.com
Pemberitahuan Lebih Banyak
Font ResizerAa
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Font ResizerAa
Hidayatullah.comHidayatullah.com
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Pencarian
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Iptekes

Riset: Pacaran Sering Melahirkan Kekerasan Pasangan Remaja

Ahmad
Terakhir diupdate: 28 Juni 2025 13:44 1:44 pm
Ahmad
Dipublikasikan 28 Juni 2025 13:43
Bagikan
Bagikan

Pacaran remaja yang –konon katanya dikklaim media penyemangat– cinta justru kerap menjadi sumber kekerasan emosional dan depresi yang membahayakan kesehatan jiwa

Hidayatullah.com | PACARAN di masa remaja sering dianggap sebagai bagian penting dalam perkembangan sosial dan emosional. Namun, fakta menyebutkan bahwa tidak sedikit hubungan pacaran (dating) justru menjadi sumber kekerasan, trauma hingga gangguan jiwa bagi pasangan muda.

Berbagai riset mengungkapkan bahwa kekerasan dalam pacaran remaja—baik secara fisik, emosional, maupun seksual—menjadi masalah serius yang memengaruhi kesehatan mental dan fisik remaja.

Sebuah penelitian oleh Temple et al. (2013) yang dipublikasikan dalam jurnal Pediatrics menunjukkan bahwa “sekitar 20% hingga 31% remaja mengalami kekerasan dalam pacaran.”

Mereka menjelaskan, “Kekerasan dalam pacaran tidak hanya berdampak pada luka fisik, tetapi juga dapat menyebabkan depresi, gangguan kecemasan, dan ideasi bunuh diri pada remaja.”

Baca Juga

Perang Abadi Sistem Imun di Balik Keindahan Tato
UNICEF: Anak-Anak Gunakan AI 3 Kali Lipat Lebih Banyak Dibanding Orang Dewasa
Pakar Bilang Suplemen Harian Lebih Banyak Bahaya Dibandingkan Manfaat
Ketika Gelar Sarjana Tak Lagi Menjamin Masa Depan: Gen Z Mulai Ragu Nilai Kuliah
Jumlah Kasus Penyakit Menular Seksual di Eropa Pada 2024 Mencatat Rekor

Bentuk kekerasan yang paling sering ditemukan meliputi kekerasan fisik, kekerasan emosional seperti penghinaan dan kontrol berlebihan, serta kekerasan seksual.

Penelitian lain oleh Exner-Cortens et al. (2017), dipublikasikan di Journal of Adolescent Health, menyebutkan bahwa “kekerasan emosional dan psikologis merupakan bentuk kekerasan yang paling umum dan berbahaya dalam hubungan pacaran remaja.”

Mereka menambahkan, “Pelajar dan orang tua harus waspada terhadap tanda-tanda pelecehan verbal, manipulasi, dan isolasi sosial yang sering dianggap remeh, padahal efeknya sangat merusak.”

Data dari Centers for Disease Control and Prevention (CDC) tahun 2019 juga mengungkapkan fakta mengkhawatirkan, bahwa “satu dari empat remaja pernah mengalami kekerasan dalam pacaran, termasuk kekerasan seksual.”

“Pencegahan kekerasan dalam pacaran harus dimulai sejak dini melalui edukasi tentang hubungan sehat dan pengenalan tanda-tanda kekerasan,” demikian kesimpulan CDC.

Kasus Depresi Remaja China

Sebuah penelitian berjudul “Profiles of Teen Dating Violence and Association With Depression Among Chinese Teens” yang dipublikasikan dalam Journal of Interpersonal Violence (2022) membuktikan bahwa kekerasan dalam hubungan pacaran (Teen Dating Violence/TDV) sangat berkaitan dengan gejala depresi pada remaja.

“Penelitian ini menganalisis sampel sebanyak 891 siswa tingkat menengah dan atas yang memiliki pengalaman berpacaran di Taiwan, Hong Kong, dan Shanghai.

Analisis kelas laten (LCA) dan analisis regresi logit multinomial dilakukan untuk mengidentifikasi profil kekerasan dalam pacaran (TDV) dan menyelidiki kemungkinan hubungan antara keanggotaan kelas tersebut dengan depresi yang dilaporkan sendiri oleh responden,” demikian hasil penelitian Cheng, Shen, dan Jonson-Reid ini.

Penelitian ini melibatkan 891 siswa SMP dan SMA dari Taiwan, Hong Kong, dan Shanghai yang memiliki pengalaman pacaran. Peneliti menggunakan metode Latent Class Analysis (LCA) untuk mengelompokkan pola kekerasan pacaran, serta multinomial logit regression guna menganalisis hubungan antara jenis kekerasan dan tingkat depresi.

Hasil dari analisis kelas laten menunjukkan bahwa model empat kelas adalah yang paling sesuai dengan data, yakni: Severe/Multi-Type TDV (5,51%), Controlling Behavior (13,08%), Non/Low TDV (64,50%), dan Physical Violence (16,91%). Model terbaik ini juga menunjukkan adanya kekerasan dua arah (bidirectionality), artinya di antara pasangan remaja dalam hubungan yang abusif, keduanya cenderung saling melakukan tindakan kekerasan dan perilaku kontrol.”

Dua kelas pertama (Severe dan Controlling) memiliki ciri bidirectional violence, yakni kedua pihak saling melakukan kekerasan atau kontrol dalam hubungan mereka.

Kekerasan dan Depresi: Apa Kaitannya?

Dengan kelompok Non/Low TDV sebagai pembanding, ditemukan bahwa remaja yang berada dalam hubungan dengan kekerasan berat maupun perilaku kontrol memiliki kemungkinan lebih tinggi mengalami gejala depresi.

 “Remaja dalam kelas Severe/Multi-Type dan Controlling Behavior secara signifikan lebih mungkin melaporkan gejala depresi dibanding mereka yang tidak mengalami kekerasan, tulis Cheng, penulis riset ini.

Namun, secara mengejutkan, kekerasan fisik saja (tanpa unsur kontrol emosional) tidak menunjukkan hubungan yang signifikan dengan depresi.

Temuan ini menunjukkan bahwa kontrol emosional dan relasi yang saling menyakiti secara psikologis justru lebih berbahaya bagi kesehatan mental dibanding kekerasan fisik yang terjadi sepihak.

Implikasi Sosial dan Pendidikan

Penelitian ini menekankan bahwa intervensi untuk mencegah kekerasan pacaran tidak cukup hanya berfokus pada aspek fisik, tetapi juga perlu mencakup aspek emosional dan dinamika kontrol dalam relasi remaja. Program edukasi dan pendampingan psikologis di sekolah sebaiknya memberi ruang untuk membahas bagaimana mengenali hubungan yang manipulatif, serta cara membangun relasi yang sehat dan saling menghormati.

Penelitian Cheng, Shen, dan Jonson-Reid ini memberikan kontribusi penting dalam memahami kompleksitas hubungan pacaran remaja di Asia Timur. Temuan bahwa kontrol emosional memiliki dampak psikologis yang signifikan membuka jalan untuk pendekatan baru dalam pendidikan kesehatan mental remaja.

Secara keseluruhan, kekerasan dalam pacaran remaja adalah masalah serius yang tidak boleh diabaikan. Pacaran yang semestinya menjadi ajang belajar cinta dan saling menghargai justru menjadi sumber luka emosional dan fisik.

Oleh sebab itu, edukasi, dukungan, dan intervensi dini sangat penting agar remaja dapat membangun hubungan yang sehat dan bebas dari kekerasan.*

Redaktur: Ahmad
Bantu kami terus menyuarakan kebenaran!

Scan QRIS dan dukung #Journalism4Ummah

donasi online
TAG:cinta remajadepresigangguan jiwaHeadlinekekerasanKesehatan JiwapacaranPacaran remajaPilihan Redaksiremaja
Bagikan tulisan ini
Facebook Whatsapp Whatsapp Telegram Email Salin tautan Print
Tulisan sebelumnya Media MUI Perlu Jadi Arus Utama Informasi Islam
Tulisan selanjutnya Pembunuhan Ritual Pria Bertato Ibrani Guncang Gereja di AS

Ikuti Kami

1.2KLike
89KFollow
27.8KFollow
222KSubscribe
Ad image
Ad image

Terpopuler

Berita

Matinya Lindsey Graham, Senator AS Paling Vokal Bela ‘Israel’

Berita
13 Juli 2026 18:00
China Bantah Tuduhan Trump Beijing Mengusik Proses Pemilu Amerika Serikat
Negeri Kincir Angin Resmi Berstatus Kekurangan Air
MUI: Fatwa Hukuman Mati bagi Koruptor Sudah Ada Sejak 2005, Tinggal Menjadi Hukum Positif
INDEF: Bank Emas Berpotensi Besar Dorong Keuangan Syariah, Indonesia Masih Belum Tergarap

Terbaru

  • Uni Eropa Larang Impor Emas Sudan untuk Memutus Pendanaan Perang
  • Negeri Kincir Angin Resmi Berstatus Kekurangan Air
  • Bertubi-tubi Diserang Amerika, Iran Minta Rakyatnya Hemat Listrik
  • China Bantah Tuduhan Trump Beijing Mengusik Proses Pemilu Amerika Serikat
  • Serangan Iran Merusak Pembangkit Listrik dan Fasilitas Desalinasi Air Kuwait
  • Sumber Militer Suriah Bantah Iran Membom Pangkalan Al-Tanf
  • Permohonan Legalisasi Ganja untuk Keperluan Relijius oleh Komunitas Rastafarian Ditolak Pengadilan Kenya
  • Minum Obat Penggugur Kandungan Wanita Indonesia Dihukum 5 Tahun Penjara di Sarawak
  • Seribu QRIS Personal Sudah Disebar, DPP Hidayatullah Siap Masifkan Gerakan Subuh Bersedekah
  • Hidayatullah Luncurkan Aplikasi Gerakan Sedekah Subuh, Perkuat Ekosistem Filantropi Islam Berbasis Digital

Mungkin Anda Juga Suka

Iptekes

Belajar di Waktu Subuh Terbukti Tingkatkan Kinerja Otak dan Daya Ingat

31 Maret 2026 09:28
Iptekes

Pembuat Jutaan iPhone Malah Malah Melarang Main HP Berlebihan karena Bahaya

26 Maret 2026 08:30
Iptekes

Kecenderungan Beragama Generasi Z Meningkat, Ini Temuan Peneliti

2 Maret 2026 16:00
vape covid
Iptekes

Otoritas Kesehatan Prancis Peringatkan Risiko Vape Bagi Kesehatan

13 Februari 2026 20:11
Hidayatullah.comHidayatullah.com
Follow US
Copyright 2023 © Hidayatullah.COM
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Informasi Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Indeks
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lupa password?