Hidayatullah.comHidayatullah.comHidayatullah.com
Pemberitahuan Lebih Banyak
Font ResizerAa
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Font ResizerAa
Hidayatullah.comHidayatullah.com
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Pencarian
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Berita

Donald Trump Resmi Cabut Sanksi AS terhadap Suriah

Nashirul Haq
Terakhir diupdate: 1 Juli 2025 06:05 6:05 am
Nashirul Haq
Dipublikasikan 1 Juli 2025 07:00
Bagikan
Trump dan Ahmad al-Sharaa
Bagikan

Hidayatullah.com – Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump pada Senin mengeluarkan perintah eksekutif yang mencabut program sanksi-sanksi AS terhadap Suriah.

Trump telah mengumumkan pencabutannya sejak Mei, saat bertemu presiden sementara Suriah Ahmad al-Sharaa di Riyadh, Arab Saudi.

“Ini adalah upaya untuk mempromosikan dan mendukung jalan negara menuju stabilitas dan perdamaian,” kata sekretaris pers Gedung Putih Karoline Leavitt kepada wartawan sebelum penandatanganan perintah eksekutif tersebut pada Senin (30/06/2025).

“Perintah tersebut akan menghapus sanksi terhadap Suriah sambil mempertahankan sanksi terhadap mantan Presiden Assad, rekan-rekannya, pelanggar hak asasi manusia, pengedar narkoba, orang-orang yang terkait dengan aktivitas senjata kimia, ISIS dan afiliasinya, dan proksi Iran,” tambahnya.

Menteri Luar Negeri Suriah Asaad al-Shaibani menyambut baik langkah tersebut dalam sebuah posting di X.

Baca Juga

‘Israel’ Beri Keringanan Pajak bagi Permukiman Ilegal Yahudi di Tepi Barat
Genosida ‘Israel’ di Gaza: Jumlah Warga Palestina Hilang Tembus 9.500 Orang
Turki Tegaskan Komitmennya untuk Perkuat Keuangan Syariah
Fatah Tunjuk Hussein al-Sheikh Jadi Wakil Mahmoud Abbas
‘Israel’ Klaim Penjualan Senjata ke Negara Arab Melonjak Tajam, Banyak yang Beli Diam-Diam

“Keputusan ini merupakan titik balik penting yang akan membantu mendorong Suriah menuju fase baru kemakmuran, stabilitas, dan keterbukaan terhadap komunitas internasional,” bunyi unggahan Asaad al-Shaibani.

Menurut Asaad, sanksi AS yang telah dicabut merupakan hambatan utama bagi pemulihan ekonomi Suriah. Selain itu, keputusan Trump tersebut menjadi pintu bagi rekonstruksi infrastruktur penting yang menciptakan kondisi yang diperlukan untuk pemulangan warga Suriah yang mengungsi ke tanah air mereka dengan bermartabat dan aman.

Surat perintah eksekutif Trump, yang dipublikasikan pada Senin sore waktu setempat di Washington, menetapkan bahwa keadaan yang awalnya memunculkan program tersebut “telah diubah oleh perkembangan selama 6 bulan terakhir, termasuk tindakan positif yang diambil oleh pemerintah Suriah yang baru di bawah Presiden Ahmed al-Sharaa.

“Pencabutan sanksi dan penerbitan keringanan yang mengizinkan pelonggaran kontrol ekspor, tambahnya, merupakan langkah-langkah yang mendukung “tujuan keamanan nasional dan kebijakan luar negeri AS”.

Siapa pun yang telah “secara material membantu, mensponsori, atau memberikan dukungan finansial, material, atau teknologi untuk, atau barang atau jasa kepada atau untuk mendukung rezim Bashar al-Assad sebelumnya” akan terus dikenai sanksi, kata surat perintah tersebut.

Pihak lain yang ditetapkan sebagai teroris di AS akan tetap berada dalam daftar tersebut.

Ahmad al-Sharaa sendiri pernah masuk daftar buronan pemerintah AS. Kepalanya dihargai $10 juta, hingga akhirnya AS mengeluarkan namanya dari daftar pada bulan Desember. Ketika Trump bertemu dengan Sharaa di Riyadh, ia mengatakan bahwa ia terkesan dengan al-Sharaa, seorang mantan pejuang al-Qaeda yang berperang melawan pasukan AS di Irak.

Puluhan tahun berada di bawah sanksi AS

Sanksi terhadap Suriah telah terbentuk selama lima dekade, bahkan sebelum Musim Semi Arab 2011 dan Perang Saudara Suriah.

Ketika Hafez al-Assad mengambil alih kekuasaan di Suriah melalui kudeta tahun 1970, Suriah menerima bantuan keuangan dan militer dari Uni Soviet. Hafez terkenal karena menjaga saluran tetap terbuka bagi AS dan musuh-musuh Perang Dinginnya, tetapi pada tahun 1979, ia berselisih dengan AS mengenai Lebanon, dan Suriah ditetapkan sebagai negara pendukung terorisme.

Penetapan tersebut menempatkan Suriah dalam kelompok yang sama dengan Kuba dan Iran. Pemerintah AS lantas memberlakukan pembatasan baru terhadap bantuan luar negeri AS, larangan penjualan pertahanan, kontrol ekspor untuk barang-barang penggunaan ganda, dan pembatasan keuangan lainnya.

Pada tahun 2004, pemerintahan George W Bush menuduh Suriah, yang saat itu diperintah oleh putra Hafez, Bashar, memiliki senjata pemusnah massal, mendukung kelompok-kelompok militan di wilayah tersebut (termasuk Hizbullah dan Hamas), dan mengganggu stabilitas Irak dan Lebanon.

Hal ini semakin membatasi interaksi ekonomi dengan Suriah, melarang sebagian besar ekspor dan membekukan aset sejumlah individu dan entitas.

Sanksi yang paling berat diberlakukan setelah tahun 2011, ketika rezim Assad merespon aksi demonstrasi damai dengan senjata, memicu perang saudara.

Sebagai tanggapan atas kejahatan perang dan pelanggaran hak asasi manusia yang serius, Uni Eropa membekukan aset individu yang terkait dengan negara dan melarang mereka masuk ke Eropa.

Uni Eropa juga melarang pembelian, penjualan, dan ekspor barang di sektor yang dapat digunakan untuk melawan warga sipil, termasuk teknologi, minyak, dan gas.

AS bertindak lebih jauh lagi, melarang semua hubungan dagang, termasuk ekspor ulang barang dan jasa AS ke Suriah, kecuali makanan dan obat-obatan.

Pada tahun 2019, di bawah Undang-Undang Perlindungan Warga Sipil Caesar Suriah – dinamai menurut “Caesar”, seorang pembelot militer Suriah yang menyelundupkan puluhan ribu foto yang menunjukkan penyiksaan dan kematian di penjara – sanksi sekunder diberlakukan.

Sanksi ini memungkinkan AS untuk menghukum perusahaan di negara lain jika mereka terlibat dalam transaksi dengan perusahaan dan entitas Suriah yang dikenai sanksi.

Pada bulan Desember 2024, setelah perang saudara yang brutal selama 14 tahun, pasukan pemberontak Sharaa, yang telah menguasai Aleppo, menggulingkan Damaskus, yang mengakhiri dinasti rezim Assad. Assad melarikan diri bersama keluarganya ke Moskow.

Kepentingan AS di balik pencabutan sanksi

Bulan lalu, Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio memberi tahu anggota parlemen bahwa untuk menarik investasi asing yang sangat dibutuhkan di Suriah, AS akan mulai dengan mengeluarkan keringanan berdasarkan Undang-Undang Caesar.

Namun, keringanan memiliki tanggal kedaluwarsa, dan hingga kemajuan lebih lanjut dibuat oleh pemerintah sementara, tampaknya AS akan mengeluarkan keringanan sampai sejauh itu, katanya kala itu.

“Saya tidak berpikir masalah dengan mereka saat ini adalah masalah kemauan atau kurangnya kemauan. Ini adalah kurangnya kemampuan,” kata Rubio tentang upaya Sharaa untuk mengendalikan faksi-faksi bersenjata.

Bagi Washington, ada juga masalah penting dari mitra utamanya di kawasan itu, ‘Israel’.

“Kami telah berbicara dengan mereka tentang hal ini, apa yang kami lihat sebagai peluang bagi Israel, jika, pada kenyataannya, Suriah stabil dan memiliki pemerintahan yang tidak tertarik… untuk berperang,” kata Rubio kepada anggota parlemen.

“Tentu saja, Anda harus membuktikannya, tetapi mereka mengatakan ini adalah proyek nasionalis. Mereka berusaha membangun sebuah negara. Mereka tidak melihat diri mereka sebagai landasan peluncuran revolusi. Mereka tidak melihat diri mereka sebagai landasan peluncuran serangan terhadap Israel.”

Entitas zionis ‘Israel’ menduduki Dataran Tinggi Golan di Suriah, tempat asal keluarga Sharaa, pada tahun 1967, dan kini, Trump mengakuinya sebagai wilayah ‘Israel’ meskipun PBB menyatakan ilegalitasnya.

Ketika rezim Bashar al-Assad runtuh, Perdana Menteri ‘Israel’ Benjamin Netanyahu memerintahkan pasukan ke zona penyangga Dataran Tinggi Golan “untuk memastikan tidak ada kekuatan musuh yang menyusup tepat di sebelah perbatasan Israel”.

Ia juga memerintahkan pengeboman puluhan lokasi di seluruh Suriah yang menurutnya merupakan tempat penyimpanan senjata untuk Hizbullah, sekutu pemimpin Suriah yang digulingkan.*

Redaktur: Nashirul Haq
Bantu kami terus menyuarakan kebenaran!

Scan QRIS dan dukung #Journalism4Ummah

donasi online
TAG:Ahmad al-SharaaDonald TrumpSanksi ASsuriah
Bagikan tulisan ini
Facebook Whatsapp Whatsapp Telegram Email Salin tautan Print
Tulisan sebelumnya Boikot Pertandingan Melawan ‘Israel’, Tim Basket U19 Yordania Mengundurkan Diri
Tulisan selanjutnya Karikatur Nabi Muhammad Picu Kemarahan Masyarakat, Turki Tangkap Kartunis

Ikuti Kami

1.2KLike
89KFollow
27.8KFollow
222KSubscribe
Ad image
Ad image

Terpopuler

Berita

Tak Ada Donatur yang Menyumbang, Board of Peace ala Trump Terancam Gagal

Berita
31 Mei 2026 05:00
Israel, Russia Dimasukkan Daftar Hitam Kekerasan Seksual PBB
Presiden Erdogan Kini Punya 10 Cucu, Kabar Bahagia Datang dari Keluarga Presiden Turki
Kapal Kargo Turki Diserang Drone di Laut Hitam
Hakim Memutuskan Nama Donald Trump Dihapus dari Gedung Kesenian Kennedy Center

Terbaru

  • ‘Israel’ Beri Keringanan Pajak bagi Permukiman Ilegal Yahudi di Tepi Barat
  • Genosida ‘Israel’ di Gaza: Jumlah Warga Palestina Hilang Tembus 9.500 Orang
  • Turki Tegaskan Komitmennya untuk Perkuat Keuangan Syariah
  • Fatah Tunjuk Hussein al-Sheikh Jadi Wakil Mahmoud Abbas
  • ‘Israel’ Klaim Penjualan Senjata ke Negara Arab Melonjak Tajam, Banyak yang Beli Diam-Diam
  • Turki Siapkan Proyek Kereta Hijaz sebagai Alternatif Selat Hormuz
  • Harga Obat Terancam Naik, DPR Minta Perlindungan untuk Pasien Penyakit Kronis
  • Bantah Menolak Lepas Kendali Gaza, Hamas: Kebohongan ‘Israel’
  • Bachtiar Nasir: Pesantren Hadapi Ujian Besar Kepercayaan Publik di Era Digital
  • Ekonomi Syariah Global Tembus USD 8,6 Triliun, Indonesia Harus Naik Kelas Jadi Produsen Utama

Mungkin Anda Juga Suka

Berita

Turki Siapkan Proyek Kereta Hijaz sebagai Alternatif Selat Hormuz

4 Juni 2026 10:00
Berita

Harga Obat Terancam Naik, DPR Minta Perlindungan untuk Pasien Penyakit Kronis

4 Juni 2026 09:00
Berita

Bantah Menolak Lepas Kendali Gaza, Hamas: Kebohongan ‘Israel’

4 Juni 2026 08:06
Berita

Bachtiar Nasir: Pesantren Hadapi Ujian Besar Kepercayaan Publik di Era Digital

3 Juni 2026 16:00
Hidayatullah.comHidayatullah.com
Follow US
Copyright 2023 © Hidayatullah.COM
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Informasi Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Indeks
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lupa password?