Hidayatullah.com– Jumlah anak usia sekolah yang menghisap vape atau rokok elektrik berkurang, menurut hasil riset, setahun setelah pemerintah memberlakukan larangan vape sekali pakai.
Di kalangan anak usia 14-17 yang menghisap vape berkurang dari 17,5% di awal 2023 menjadi 14,6% pada April 2025. Demikian menurut hasil studi Generation Vape yang dirilis Cancer Council Australia.
Survei juga mendapati jumlah penghisap vape di kalangan usia 15 tahun ke atas berkurang lebih dari sepertiga.
Menteri Kesehatan Australia Mark Butler aparat berwenang sudah menyita lebih dari 10 juta vape ilegal kurun setahun terakhir.
“Kampanye edukasi dan pencegahan, serta dukungan untuk mencegah orang dari menggunakan vape dan merokok, atau bahkan berhenti, menunjukkan efek positif,” kata Butler dalam sebuah pernyataan seperti dilansir BBC.
UU baru untuk menghentikan vape sekali pakai dibuat, diimpor, diiklankan dan dipasok di Australia mulai diberlakukan pada Juli 2024.
Vape berisi nikotin sekarang hanya bisa dibeli secara legal di apotek dengan menggunakan resep dokter.
Survei Generation Vape menemukan bahwa 85,4% anak muda – dari sekitar 3.000 anak usia 14-17 tahun yang menjadi responden – mengaku tidak pernah menghisap vape.
Hanya sepertiga dari para remaja itu yang memgaku tertarik untuk mencoba vape. Menurut Cancer Council keingintahuan remaja terhadap produk vape berkurang.
Peneliti juga mengatakan bahwa banyak dari kalangan remaja yang pernah atau saat ini masih mengisap vape mengaku malu dengan kebiasaan menghisap rokok elektrik.
Meskipun tidak banyak remaja yang mengaku bisa membeli vape sendiri secara langsung, toko tembakau dan vape masih menjadi sumber penjualan vape, meskipun sudah ada peraturan baru tentang pelaranganya.
Dalam wawancara dengan Australian Broadcasting Corporation (ABC) hari Rabu (16/7/2025), Butler berkeyakinan “puncak vape” di Australia sudah lewat.
“Saya tahu ini adalah pertarungan yang sangat-sangat berat dan banyak lagi yang masih harus kami lakukan, tidak hanya di area vape, tetapi juga tembakan ilegal,” kata Butler.
Penggunaan produk tembakau masih menjadi penyebab utama kematian yang dapat dicegah, yang merenggut nyawa lebih dari 24.000 orang setiap tahun di negeri kanguru itu.*




