Hidayatullah.com – Pemerintah Suriah pada Rabu mengumumkan mulai menarik pasukannya dari kota mayoritas Druze setelah berhasil meredam kerusuhan yang menurut laporan menewaskan lebih dari 300 orang sejak Ahad.
Pengumuman itu disampaikan usai pemerintah berhasil mencapai gencatan senjata di Suwaida, di mana pertempuran bersenjata terjadi antara petempur Druze dan Badui.
Pasukan Suriah berhasil memediasi kesepakatan antara kedua pihak meski menjadi target serangan udara penjajah ‘Israel’, yang berdalih serangan tersebut dilakukan untuk membela Druze, yang diklaim sebagai sekutu potensial mereka.
Pada bagiannya, presiden sementara Suriah Ahmad al-Sharaa telah menyampaikan pidato yang disiarkan televisi kepada rakyat, menyatakan bahwa Suriah telah menolak segala bentuk perpecahan sepanjang sejarahnya yang panjang dan akan mengatasi upaya ‘Israel’ untuk memecah belah negara tersebut, menurut berbagai laporan.
Menyampaikan pidatonya kepada komunitas minoritas Druze di negara tersebut, al-Sharaa mengatakan bahwa Druze merupakan bagian penting dari struktur nasional Suriah dan melindungi mereka merupakan prioritas.
Ia juga mengatakan bahwa “para tetua” Druze telah ditugaskan untuk memulihkan keamanan di wilayah selatan negara tersebut, tempat bentrokan pecah antara petempur Badui dan Druze.
Al-Sharaa mengatakan bahwa ‘Israel’ berusaha mengubah Suriah menjadi wilayah konflik, dan hal itu tidak boleh dibiarkan terjadi.*




