Hidayatullah.com – Mayoritas warga Turki menginginkan negaranya untuk mengembangkan senjata nuklir untuk menghadapi potensi ancaman. Hal ini terungkap dalam sebuah survei yang dilakukan oleh Research Istanbul pada awal Juli.
Survei menemukan adanya peningkatan rasa tidak aman di kalangan warga Turki pasca konflik terbaru yang terjadi di Timur Tengah.
Meski Turki menjadi telah menjadi anggota Perjanjian Non-Proliferasi Senjata Nuklir (NPT) sejak 1979, yang secara hukum melarang Ankara mengembangkan, memperoleh, atau menguji senjata Nuklir, 71 persen responden berpendapat bahwa Turki harus mulai mengembangkan senjata semacam itu, sementara hanya 18 yang menentang.
Investasi besar-besaran pemerintah Turki dalam industri pertahanan dalam beberapa tahun belakangan, terutama sistem pertahanan udara, belum mampu membuat publik percaya terhadap pertahanan nasional.
Hampir separuh responden meragukan efektivitas sistem pertahanan udara Turki jike terjadi serangan.
Keberhasilan rudal balistik Iran baru-baru ini dalam menembus pertahanan udara canggih Israel dan menyebabkan kerusakan yang cukup besar semakin memicu perdebatan di Turki mengenai kemampuan pertahanan negara itu sendiri.
Masyarakat juga meragukan aliansi-aliansi Turki. Sekitar 72 persen dari 2.000 responden tidak yakin NATO akan benar-benar membela Turki jika diserang musuh.
Ancaman eksternal
“Temuan ini menunjukkan meningkatnya kecemasan publik di tengah meningkatnya konflik regional di Timur Tengah, Balkan, dan Kaukasus,” kata Erdi Ozturk, seorang profesor di London Metropolitan University, lansir Middle East Eye pada Kamis (17/07/2025).
Menurutnya, perasaan tidak aman yang luas mendorong masyarakat Turki untuk mendukung langkah keamanan yang sebelumnya dianggap tabu, seperti upaya mengembangkan senjata nuklir.
Ozturk menambahkan bahwa, terlepas dari perpecahan politik yang telah berlangsung lama, kekhawatiran keamanan semakin menyatukan masyarakat Turki dalam satu pola pikir yang sama.
Untuk mengatasi kekhawatiran mendesak atas armada udaranya yang menua, Ankara baru-baru ini menegosiasikan kesepakatan untuk membeli jet F-16 dan Eurofighter sebagai langkah sementara hingga pesawat generasi kelimanya sendiri, Kaan, dikirimkan – yang diperkirakan paling cepat pada tahun 2028.
Mayoritas warga Turki menilai pemerintah harus lebih mengandalkan kemampuan militernya sendiri daripada mengandalkan mitra asing, jelas Ozturk. Terutama setelah warga melihat alotnya negosiasi yang dialami Turki saat ingin memperoleh jet tempur seperti F-16 dan F-35.
Ankara belum mengeluarkan pernyataan atau mengambil langkah apa pun yang mengindikasikan penelitian tentang senjata nuklir.
Turki saat ini sedang membangun pembangkit listrik tenaga nuklir pertamanya, Akkuyu, bekerja sama dengan Rosatom Rusia. Diperkirakan menelan biaya $20 miliar, pembangkit ini akan terdiri dari empat reaktor dengan kapasitas gabungan 4.800 megawatt (MW), yang diharapkan dapat menyediakan sekitar 10 persen kebutuhan listrik Turki ketika mulai beroperasi tahun depan.
Ozturk lebih lanjut mencatat bahwa skeptisisme yang meluas mengenai kesediaan atau kemampuan NATO untuk membela Turki terkait erat dengan sentimen anti-Amerika yang mengakar, yang terus menjadi faktor signifikan yang membentuk sikap publik terhadap kebijakan keamanan dan pertahanan.*




