Hidayatullah.com– Pendakwah internasional Dr. Zakir Naik menegaskan bahwa umat Islam harus memperlakukan dakwah sebagai sebuah misi besar yang memerlukan strategi, teknologi, dan kualitas produksi terbaik. Dalam wawancara YouTube The Sungkar Family Channel selama kunjungannya ke Indonesia, dai kelahiran Mumbai ini berbagi prinsip hidupnya dalam berdakwah, khususnya melalui media televisi dan pendidikan keluarga.
Zakir awalnya adalah seorang mahasiswa kedokteran. Namun setelah menyaksikan ceramah-ceramah Ahmed Deedat di usia 22 tahun, ia memutuskan untuk mengabdikan hidupnya sepenuhnya untuk dakwah.
“Saya dulu ingin jadi dokter spesialis jantung seperti Dr. Barnard dari Afrika Selatan. Tapi ibu saya, setelah melihat kesungguhan saya dalam dakwah, justru mendorong saya penuh. Kata beliau, ‘Aku rela kehilangan 1.000 dokter seperti Barnard demi lahirnya satu dai seperti Deedat,’” kenangnya haru.
Langkahnya penuh risiko. Ia tinggalkan karier medisnya, dan memilih panggung ceramah sebagai ruang pengabdian.
Ia belajar intensif ilmu agama dan perbandingan agama, serta menguasai Alkitab, Bhagavad Gita, dan teks-teks keagamaan lain demi berdialog lintas iman secara ilmiah.
Melawan Dominasi Media Sekuler dengan Kualitas
Tahun 2006, Zakir mendirikan Peace TV, yang kini berkembang menjadi jaringan televisi Islam terbesar di dunia. Saluran ini menyiarkan program-program keislaman dalam empat bahasa utama: Inggris, Urdu, Bengali, dan Mandarin, menjangkau lebih dari 250 juta pemirsa.
Namun yang istimewa bukan hanya jangkauannya, tapi juga standar produksinya.
“Kami gunakan kamera cinema-grade, masing-masing seharga lebih dari 250 ribu dolar. Kami pakai kamera 8K, lensa sinematik, sistem suara broadcast,” terang Zakir. “Bahkan, film-film Bollywood pun tidak selalu pakai kamera sebagus itu.”
Menurutnya, selama ini banyak dai tampil di media dengan kualitas visual yang buruk, suara yang pecah, pencahayaan seadanya. Hal ini, katanya, sangat memalukan jika dibandingkan dengan industri hiburan yang menampilkan konten haram dengan kualitas maksimal.
“Kita punya pesan paling mulia di dunia, mengapa kita sampaikan dengan cara yang murahan?” kritiknya tajam.
Media sebagai Investasi Dakwah Abadi
Zakir menilai bahwa produksi dakwah berkualitas tinggi adalah investasi jangka panjang. Sekali ceramah direkam dengan baik, bisa ditonton ulang ratusan juta kali selama puluhan tahun.
“Kalau satu episode dakwah ditonton 100 juta orang, berarti biaya per penontonnya hanya sepersekian sen. Bahkan lebih murah dari tiket bioskop. Tapi nilainya jauh lebih besar,” tegasnya.
Ia menekankan bahwa menggunakan media bukan sekadar tren, tetapi kebutuhan zaman. “Kalau Rasulullah hidup hari ini, beliau akan gunakan semua sarana halal untuk dakwah, termasuk kamera dan internet,” ujarnya yakin.
Ajakan untuk Para Kreator Muslim
Dalam wawancara ini, Zakir mengajak seluruh sineas Muslim, editor, sutradara, penulis skenario, dan content creator untuk berhijrah dari industri hiburan menuju dakwah visual.
“Kalau kamu jago animasi, sinematografi, voice over, editing—gunakan untuk Islam. Jangan habiskan hidupmu membuat film haram, musik maksiat, dan drama penuh dusta,” serunya.
Ia juga membuka peluang kerja sama bagi siapa saja yang ingin bergabung dalam jaringan Peace TV dan proyek-proyek dakwah global lainnya.
“Dakwah media adalah jihad. Dan saya yakin, siapa yang ikhlas, Allah akan beri jalan,” ujarnya mantap.
Menjawab Tantangan Islamofobia dan Narasi Barat
Ketika ditanya tentang peran media dalam melawan Islamofobia, Zakir menjawab, “Kita kalah narasi karena kita diam, atau tidak tampil dengan kualitas. Mereka punya media besar, tapi kita punya kebenaran. Tinggal kemas dengan profesional.”
Ia menambahkan bahwa Islam tidak akan pernah bisa dipadamkan oleh narasi media Barat, tapi umat Islam harus melawan balik dengan narasi, data, logika, dan keindahan visual yang menggugah.
Zakir Naik menutup pesannya dengan seruan keras: jangan pelit untuk dakwah. “Kita berani keluar uang ratusan juta untuk pernikahan, traveling, gadget, bahkan hal yang sia-sia. Tapi untuk Islam? Kita hitung-hitungan.”
“Wahai umat Islam, jika kamu tidak menolong agama ini dengan hartamu, keahlianmu, dan waktumu, maka jangan harap Allah akan mengangkat umat ini,” pungkasnya.
“Dakwah bukan pekerjaan sambilan, tapi tugas hidup. Kita harus berikan yang terbaik untuk Islam,” ujarnya. “Kalau 100 juta orang menonton ceramah kita, itu lebih dahsyat dari ribuan seminar,” ujarnya.*




